Rupiah Kembali Tergerus, Dolar Singapura Menyentuh Angka Psikologis Rp14.000

Yohanes

JAKARTA – Mata uang Garuda kembali menunjukkan pelemahannya di pasar domestik. Kali ini, Dolar Singapura (SGD) dilaporkan merangkak naik mendekati level psikologis Rp14.000 per SGD pada Senin, 6 Juli 2026.

Pada pukul 14.00 WIB, berdasarkan data Refinitiv yang dihimpun CNBC Indonesia, nilai tukar rupiah tercatat melemah 0,17% menjadi Rp13.911 per SGD. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran pasar, mengingat level Rp14.000 per SGD sempat ditembus pada awal Juni lalu.

Tekanan terhadap rupiah tidak hanya terjadi terhadap Dolar Singapura. Mata uang Garuda juga kembali tertekan oleh Dolar Amerika Serikat (USD).

Pasar Mulai Waspada Menjelang Rp14.000 per SGD

Pergerakan rupiah terhadap Dolar Singapura ini memiliki implikasi langsung bagi berbagai kalangan. Bagi pelaku impor, perusahaan dengan kewajiban pembayaran dalam mata uang asing, hingga para pelancong yang memegang SGD, kenaikan kurs ini secara signifikan akan menambah biaya operasional atau pengeluaran.

Sebelumnya, rupiah sempat ditutup di atas Rp14.000 per SGD pada 9 Juni 2026, dengan nilai tukar mencapai Rp14.020. Bahkan, level psikologis tersebut pertama kali ditembus secara intraday pada 29 Mei 2026.

Data historis menunjukkan:
29 Mei 2026: Rupiah menembus Rp14.000 per SGD secara intraday, menandai pertama kalinya level psikologis ini dilampaui.
9 Juni 2026: Rupiah ditutup di atas Rp14.000 per SGD, tepatnya pada Rp14.020.
6 Juli 2026, pukul 14.00 WIB: Rupiah kembali mendekati level psikologis, tercatat di Rp13.911 per SGD.

Kondisi fluktuasi kurs seperti ini seringkali diinterpretasikan oleh pasar sebagai tanda pencarian keseimbangan nilai tukar yang baru. Ketika rupiah melemah terhadap Dolar AS, mata uang regional seperti Dolar Singapura cenderung ikut menguat terhadap rupiah.

Tekanan Rupiah Bukan Sekadar Faktor Eksternal

Di pasar valuta asing, pada pukul 13.44 WIB, rupiah juga tercatat melemah 0,31% terhadap Dolar AS, mencapai Rp18.000 per USD. Pelemahan terhadap USD ini menjadi krusial karena dolar AS menjadi tolok ukur utama sentimen mata uang di Asia, termasuk SGD.

Namun, tekanan terhadap rupiah kali ini tidak sepenuhnya berasal dari faktor global. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan defisit neraca perdagangan Indonesia sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026. Defisit ini mengakhiri tren surplus yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut.

Defisit neraca perdagangan ini menjadi sinyal bagi pasar bahwa fondasi eksternal perekonomian Indonesia sedang mengalami ketidaknyamanan. Situasi ini turut berkontribusi pada pelemahan nilai tukar rupiah di pasar internasional.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All