Robot Humanoid Siap Menggebrak Pasar Modal, CEO Agility Robotics Ungkap Realitas Industri

Herfansyah

Perusahaan robot humanoid, Agility Robotics, mengumumkan rencana untuk melantai di bursa saham. Langkah ini disambut antusias di tengah derasnya aliran dana ke sektor robotika. Namun, CEO Agility Robotics, Peggy Johnson, justru menekankan realitas industri yang belum siap menyajikan robot di rumah-rumah konsumen dalam waktu dekat.

Agility Robotics berencana melakukan merger dengan perusahaan Special Purpose Acquisition Company (SPAC) Churchill Capital Corp XI. Kesepakatan ini diperkirakan bernilai sekitar $2,5 miliar. Agility berpotensi meraup dana segar lebih dari $620 juta. Ini akan menjadi penggalangan dana terbesar dalam sejarah robot humanoid. Merger ini diharapkan rampung akhir tahun ini, setelah mendapat persetujuan pemegang saham dan tinjauan SEC.

Agility Robotics, didirikan 2015 sebagai spinoff dari Oregon State University. Perusahaan yang berbasis di Salem, Oregon ini, fokus pada robot humanoid berkaki dua. Robot ini dirancang khusus untuk tugas di gudang dan pabrik. Peluncuran publik Agility Robotics melalui SPAC akan menjadikannya perusahaan robot humanoid murni pertama yang terdaftar di bursa. Investor ritel akan mendapatkan akses langsung ke sektor yang sebelumnya didominasi dana ventura besar.

Peggy Johnson, yang pernah menjabat sebagai executive vice president of business development di Microsoft, memaparkan strategi perusahaan. Ia enggan memberikan panduan finansial ke depan. Johnson juga tidak merinci biaya produksi robot andalannya, Digit.

Keputusan Agility menggunakan SPAC bukan tanpa alasan. Johnson menyebutnya sebagai first-mover advantage. "Ini adalah cerita akselerasi dan cerita waktu," ujarnya. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk meningkatkan produksi. Pabrik Agility di Oregon seluas 70.000 kaki persegi akan diperluas. Pesanan pelanggan yang ada juga akan dipenuhi.

Menanggapi keraguan terhadap SPAC yang sempat meredup, Johnson optimistis. "Jika kita terus fokus, memberikan layanan dari satu pelanggan ke pelanggan lain, robot demi robot, kami berharap tidak mengalami volatilitas yang sama," katanya. "Pesaing terbesar kami saat ini adalah diri kami sendiri. Seberapa cepat kami bisa mengeksekusi, menambah kemampuan baru."

Agility Robotics memiliki lebih dari $300 juta pendapatan multi-tahun yang terpesan. Ini mencakup sekitar 1.000 robot dalam model robots-as-a-service. Pelanggan Agility mencakup nama-nama besar seperti GXO Logistics, Amazon, Toyota Motor Manufacturing Canada, Schaeffler, dan Mercado Libre.

Robot Digit dirancang efisien. Tingginya sekitar 175 cm, berat 72 kg. Fokus utamanya adalah memindahkan objek berat di lingkungan yang dibangun manusia. Lutut terbalik, atau "kaki burung", memungkinkan robot menjangkau dari lantai hingga rak atas tanpa bertabrakan. Tangan robot memiliki dua ibu jari dan dua jari. Didesain khusus untuk menggenggam kotak plastik berat.

Johnson menjelaskan Agility Robotics "LLM-agnostic". Robot ini dapat menggunakan model seperti Claude dan Gemini. Model tersebut menerjemahkan instruksi tingkat tinggi menjadi perilaku robot. Dalam sebuah tes, Digit berhasil membersihkan sampah yang berserakan dengan akurat. Ia memilah sampah dan membuangnya ke tempat yang benar.

"AI fisik untuk robot humanoid itu belum ada," ujar Johnson. Agility Robotics mengklaim memiliki data operasional robot terbesar di lingkungan nyata. Keamanan menjadi keunggulan utama Agility. Robotnya telah memenuhi sertifikasi keselamatan industri. Ini berbeda dengan pesaing yang masih menampilkan demo di laboratorium.

Mengenai robot di rumah, Johnson memperkirakan akan memakan waktu "lebih dari 10 tahun". Lingkungan rumah jauh lebih kompleks daripada gudang. Ada anjing, bayi, tamu, dan barang-barang tak terduga.

Agility Robotics tidak menutup pasar rumahan. Namun, fokus utama saat ini adalah pasar gudang. Masalah kekurangan tenaga kerja dan peran fisik yang berat menjadi pendorong utama. "Ada lebih dari satu juta pekerjaan di AS yang belum terisi," ungkap Johnson. "Sangat sulit untuk merekrut tenaga kerja di bidang ini."

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All