JAKARTA – Sebuah pencapaian gemilang diraih Vietnam. Negara yang pernah porak-poranda akibat perang ini kini resmi menyandang status negara berpendapatan menengah atas. Pengakuan ini datang dari Bank Dunia, menyusul lonjakan Pendapatan Nasional Bruto (GNI) per kapita yang menembus USD4.970. Angka ini melampaui batas global USD4.636.
Fenomena ini menjadi sorotan serius bagi Indonesia. Ekonom Indef, Didik J Rachbini, mengungkapkan kekagumannya. "Kita kalah dengan ‘anak bawang’," ujarnya Minggu (5/7/2026). Ia merujuk pada kondisi Vietnam di tahun 1970-an, di mana banyak warganya masih mengungsi.
Kini, Vietnam tidak hanya naik kelas secara ekonomi. Mereka juga disebut memasuki fase "Doi Moi 2.0". Ini adalah transisi menuju ekonomi berbasis inovasi dan teknologi. Nilai tambah industri pun menjadi fokus utama.
Perjalanan Vietnam patut dicontoh. Dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 8%, mereka berhasil menghindari jebakan negara berpendapatan menengah. Berbeda dengan Indonesia, Vietnam menunjukkan lompatan signifikan dalam waktu relatif singkat.
Lantas, strategi apa yang membuat Vietnam begitu sukses? Didik J Rachbini menjelaskan kunci utamanya. Vietnam gencar melakukan transformasi struktur industri. Deregulasi dan debirokratisasi menjadi prioritas.
Langkah-langkah ini membuka ruang bagi dunia usaha, terutama sektor industri. Hasilnya, Vietnam kini menjelma menjadi negara industri berpendapatan menengah atas. Transformasi ini berjalan mulus dan terukur.
Indonesia sendiri pernah merasakan kejayaan serupa. Pada era 1980-an dan 1990-an, kebijakan deregulasi dan debirokratisasi yang konsisten mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 7-8%. Sektor industri bahkan tumbuh 10-12% per tahun.
Namun, formula sukses masa lalu tersebut seolah terlupakan. Kebijakan ekonomi saat ini dinilai gagal mereplikasi keberhasilan era tersebut. Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi para pembuat kebijakan di tanah air.
Melihat laju Vietnam, Indonesia perlu melakukan evaluasi mendalam. Bagaimana cara agar bisa kembali bangkit dan tidak tertinggal oleh negara yang dulu dianggap lebih lemah? Perlu ada strategi baru yang adaptif. Fokus pada inovasi dan peningkatan nilai tambah industri menjadi krusial.
Indonesia harus belajar dari tetangganya. Agar tidak terus-menerus tertinggal, lompatan besar seperti yang dilakukan Vietnam perlu diwujudkan kembali. Perubahan struktural yang berani dan konsisten adalah kuncinya. Masa depan ekonomi Indonesia bergantung pada langkah-langkah strategis saat ini.











