Gaji Tinggi Tak Jamin Aman, Profesi Ini Kini Paling Rentan Dipecat

Yohanes

Jakarta – Era kejayaan profesi bergaji selangit kini tengah menghadapi guncangan hebat. Pekerjaan yang sebelumnya dianggap paling menjanjikan dan diminati banyak orang, kini justru masuk dalam daftar yang paling rentan mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Perubahan drastis ini terjadi seiring dengan pergeseran lanskap pasar tenaga kerja global.

Fenomena ini terlihat dari meningkatnya angka PHK di berbagai perusahaan besar. Efisiensi yang awalnya bersifat sementara, kini menjelma menjadi penataan ulang strategis jangka panjang. Sektor teknologi, jasa keuangan, hingga konsultan bisnis menjadi garda terdepan yang merasakan tekanan ini.

Data terbaru menunjukkan tren mengkhawatirkan. Pada April 2026, tingkat pengangguran di sektor teknologi informasi melonjak menjadi 3,8%, naik dari 3,6% pada bulan sebelumnya. Firma konsultan Janco Associates, mengacu pada Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat, mencatat angka ini.

Salah satu faktor utama di balik gelombang PHK ini adalah kemajuan pesat kecerdasan buatan (AI). Banyak perusahaan teknologi, seperti Meta, menjadikan kecanggihan AI sebagai alasan pemangkasan ribuan pegawai. Meta sendiri dilaporkan memangkas sekitar 8.000 karyawannya, atau 10% dari total tenaga kerjanya.

Tak hanya Meta, raksasa olahraga Nike juga melakukan efisiensi dengan mengurangi 2% karyawannya, sekitar 1.400 orang. Sebagian besar posisi yang terdampak berada di departemen teknologi, dengan tujuan menyederhanakan operasional global. Snap pun tak ketinggalan, memecat 16% karyawannya, atau 1.000 posisi. Sektor telekomunikasi dan pengolahan data bahkan mengalami pengurangan hingga 11%, setara 342 ribu pekerjaan, yang puncaknya terjadi pada November 2022.

Sebelumnya, profesi seperti insinyur perangkat lunak, analis data, dan manajer produk menjadi buruan utama perusahaan. Gaji fantastis dan tawaran kepemilikan saham kerap diberikan demi merekrut talenta terbaik. Namun, era ini telah berakhir.

Pengetatan kebijakan moneter global dan kenaikan suku bunga membuat aliran modal ventura menyusut drastis. Akibatnya, perusahaan teknologi, dari startup hingga raksasa industri, terpaksa melakukan rasionalisasi biaya secara agresif. Ironisnya, pekerja dengan gaji tertinggi justru menjadi yang pertama merasakan dampaknya demi menyehatkan neraca keuangan perusahaan.

Situasi serupa juga melanda sektor perbankan investasi dan konsultan manajemen. Penurunan aktivitas merger dan akuisisi (M&A) serta penawaran umum perdana (IPO) secara global membuat posisi analis berpendapatan tinggi menjadi kurang mendesak.

AI kini tak hanya menggusur pekerjaan repetitif, namun juga merambah profesi kerah putih berketerampilan tinggi. Analis hukum, pembuat kode pemrograman tingkat menengah, analis riset pasar, hingga spesialis keuangan kini dapat direplikasi oleh sistem AI. Banyak perusahaan menyadari potensi AI untuk menyusutkan tim hingga separuh tanpa menurunkan produktivitas. Hal ini menciptakan surplus tenaga kerja ahli di pasar.

Menurut CEO Janco, Victor Janulaitis, perusahaan cenderung menunda atau mengurangi perekrutan tenaga IT di tengah ketidakpastian ekonomi. "Mengapa mereka harus merekrut spesialis AI untuk sesuatu yang mungkin tidak menghasilkan?" ujarnya, mengutip Wall Street Journal.

Dampak PHK ini juga berimbas pada gaya hidup para profesional bergaji tinggi. Beban finansial yang disesuaikan dengan pendapatan tinggi, seperti cicilan hunian premium dan kendaraan mewah, menjadi tantangan tersendiri. Mereka kerap mengalami "lifestyle inflation shock" dan kesulitan menurunkan standar hidup.

Proses pencarian kerja baru bagi eksekutif dan profesional senior pun memakan waktu lebih lama. Perusahaan yang tengah melakukan efisiensi enggan merekrut kandidat yang dianggap "overqualified" karena kekhawatiran ekspektasi gaji yang tinggi. Para pengamat menyarankan para profesional untuk melakukan reskilling atau bahkan menurunkan ekspektasi kompensasi demi kembali terserap ke pasar kerja yang kian kompetitif.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All