Terungkap! Alasan Pertamina Belum Turunkan Harga Pertamax Meski Minyak Dunia Anjlok

Yohanes

JAKARTA – Di tengah tren penurunan harga minyak mentah dunia selama sebulan terakhir, harga Pertamax di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina tetap bertahan di angka Rp16.250 per liter. Keputusan ini memunculkan tanya di benak masyarakat, mengapa harga bahan bakar non-subsidi ini belum mengikuti pergerakan pasar global.

Seorang pakar ekonomi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, memberikan penjelasan mendalam mengenai strategi di balik kebijakan tersebut. Ia menyebut langkah ini sebagai taktik price smoothing atau penghalusan harga.

Strategi ini, menurut Yayan, lazim diterapkan oleh perusahaan energi besar dunia. Tujuannya adalah untuk menjaga stabilitas arus kas perusahaan dalam jangka panjang.

Pertamina, kata Yayan, sebenarnya tengah berupaya memulihkan margin keuntungan. Periode sebelumnya, saat harga minyak dunia melonjak tinggi, perusahaan terpaksa menyerap kerugian cukup besar.

Saat itu, harga jual Pertamax di dalam negeri belum sepenuhnya mencerminkan tingginya biaya perolehan. "Pertamina menyerap kerugian saat harga minyak dunia sedang berada di level tertingginya," ujar Yayan, Sabtu (3/7).

Kini, dengan harga minyak yang cenderung melandai, margin tersebut diupayakan kembali. Caranya adalah dengan menahan harga Pertamax, bukan langsung menurunkannya mengikuti fluktuasi jangka pendek.

Yayan menambahkan, penyesuaian harga Pertamax pada Juni lalu di angka Rp16.250 per liter masih di bawah harga keekonomian sebenarnya. Saat itu, Pertamina sudah menanggung beban lebih besar demi meredam gejolak harga bagi konsumen.

Strategi ini berfungsi sebagai bantalan operasional. Hal ini penting agar perusahaan tetap berjalan stabil di tengah ketidakpastian pasar minyak global.

Secara teori, formula perhitungan harga BBM non-subsidi memang memungkinkan penurunan. Yayan mencatat, berdasarkan biaya produksi dan distribusi, harga keekonomian Pertamax bisa menyentuh Rp13.700 per liter.

Angka ini jika mengikuti tren harga minyak mentah dunia saat ini. Namun, pendekatan smoothing membuat harga kemungkinan besar bertahan di kisaran Rp16.000 per liter.

Kebijakan ini memiliki implikasi penting bagi inflasi nasional. Yayan memperkirakan, penurunan inflasi bisa mencapai 0,4 poin persentase dalam tiga bulan ke depan.

Hal ini jika harga Pertamax dipangkas drastis sesuai formula pasar. Namun, jika harga dipertahankan, penurunan harga minyak dunia tidak akan langsung berdampak pada laju inflasi.

Seluruh margin dari selisih harga tersebut akan mengalir ke perbaikan keuangan internal Pertamina. Sementara itu, beban subsidi pemerintah untuk jenis BBM lain seperti Pertalite dan Solar tetap menjadi porsi terbesar dalam APBN.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All