Miami – Meski berstatus sebagai negara terkecil di Piala Dunia 2026, Cape Verde telah meninggalkan jejak yang tak terlupakan. Keberanian dan semangat juang mereka, terutama saat menghadapi juara bertahan Argentina, mencuri perhatian dunia.
Para pemain Cape Verde, yang dijuluki "Blue Sharks", harus menelan pil pahit setelah kalah 3-2 dari Argentina dalam laga perpanjangan waktu di Miami. Namun, mereka pulang dengan kepala tegak, membawa hati para penggemar yang terpikat oleh penampilan impresif mereka.
"Cape Verde memang kalah, tapi mereka menang," ujar mantan pemain internasional Skotlandia, James McFadden, di BBC Radio 5 Live. Ia menambahkan, "Mereka menunjukkan keberanian, kebersamaan, persatuan, dan keyakinan yang tak tergoyahkan."
McFadden menegaskan, "Kisah turnamen ini adalah Cape Verde. Itulah yang Anda inginkan dari sebuah tim sepak bola."
Memasuki turnamen dengan peringkat 67 dunia, Cape Verde membuat kejutan dengan tiga hasil imbang di fase grup. Termasuk menahan imbang juara Eropa, Spanyol, 0-0 di laga pembuka.
Menghadapi Argentina, mereka sempat tertinggal oleh gol Lionel Messi. Namun, mereka berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1, memaksa pertandingan dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu.
Saat kembali tertinggal, gol spektakuler dari Sidny Lopes Cabral kembali menyamakan kedudukan. Sayangnya, sebuah defleksi tak beruntung dari sundulan Cristian Romero yang mengenai Diney Borges akhirnya memastikan kemenangan Argentina.
Mantan bek Inggris, Gary Neville, menyebut penampilan Cape Verde sebagai "salah satu penampilan terhebat" yang pernah ia saksikan dari tim underdog. Ia mengerti kesedihan para pemain yang harus pulang.
"Mereka menangis karena pulang," kata Neville di ITV. "Mereka tidak ingin pulang. Mereka ingin berada di sini seumur hidup mereka."
Pelatih Cape Verde, Bubista, menyatakan kebanggaannya atas performa timnya. "Kami menunjukkan bahwa meski negara kami kecil, kami bisa bermain melawan tim terbaik dunia," tuturnya.
"Kami membuat sejarah untuk negara kami. Mereka bisa bangga mewakili negara kami," lanjutnya. "Mampu bermain seperti itu melawan juara dunia, dan menyamakan kedudukan dua kali, adalah sesuatu yang luar biasa."
Perluasan Piala Dunia menjadi 48 tim sempat menjadi topik hangat. Namun, Neville mengakui pandangannya berubah. "Saya tidak akan pernah skeptis lagi," katanya.
Mantan striker Inggris, Ian Wright, mendesak FIFA untuk memfasilitasi momen-momen inspiratif seperti yang ditunjukkan Cape Verde. "Itulah yang idealnya Anda harapkan terjadi di seluruh dunia," ujar Wright di ITV.
"Ini menunjukkan kepada orang-orang bahwa ketika Anda memberi kesempatan, mereka bisa tampil di panggung terbesar, tidak peduli seberapa kecil mereka," imbuhnya. "Itu adalah upaya luar biasa dari mereka."











