Paris tengah dilanda gelombang panas ekstrem yang memecahkan rekor suhu hingga 40 derajat Celsius. Fenomena cuaca buruk ini bahkan dilaporkan telah merenggut lebih dari 1.300 nyawa di Prancis.
Di tengah situasi darurat tersebut, sejumlah turis, jurnalis, hingga influencer asal Amerika Serikat justru melontarkan ejekan. Mereka mengkritik minimnya fasilitas pendingin ruangan atau AC di berbagai sudut kota Paris.
Merespons hal itu, Wakil Wali Kota Paris untuk urusan hubungan internasional, Audrey Pulvar, angkat bicara dengan nada geram. Ia menilai kritik dari warga Amerika sangat ironis dan tidak tepat sasaran.
Melalui unggahan di media sosial, Pulvar menegaskan bahwa Amerika Serikat justru memikul tanggung jawab besar atas pemanasan global yang memicu gelombang panas saat ini.
Pulvar menyebut Amerika Serikat sebagai penghasil emisi gas rumah kaca terbesar kedua di dunia. Ia meminta para pesohor media sosial asal Negeri Paman Sam tersebut untuk berhenti menceramahi warga Prancis.
Menurutnya, penggunaan AC secara masif di 90 persen kota-kota Amerika merupakan salah satu kontributor utama perubahan iklim. Ia pun meminta warga AS untuk mulai melakukan bagian mereka dalam menjaga lingkungan.
Selama ini, Prancis memang dikenal enggan menggunakan AC secara luas. Tercatat hanya sekitar 25 persen rumah tangga di negara tersebut yang memasang perangkat pendingin ruangan.
Keengganan ini didasari oleh kepedulian terhadap lingkungan, faktor budaya, serta adanya regulasi bangunan yang sangat ketat. Meski begitu, tren penggunaan AC mulai bergeser seiring dengan suhu musim panas yang terus meningkat.
Saat ini, pihak berwenang Prancis melaporkan bahwa mayoritas korban jiwa akibat gelombang panas adalah kelompok lanjut usia. Lonjakan kematian ini bahkan membuat fasilitas kamar jenazah di Prancis kewalahan menampung jasad korban.
Para ilmuwan menyatakan bahwa gelombang panas yang dimulai sejak 20 Juni lalu merupakan yang terburuk sepanjang sejarah Eropa. Wilayah tersebut tercatat mengalami perubahan iklim yang jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata global.
Laporan dari kolaborasi ilmuwan World Weather Attribution menegaskan bahwa fenomena ekstrem ini mustahil terjadi tanpa adanya perubahan iklim. Kondisi panas kali ini bahkan melampaui bencana mematikan pada tahun 2003 silam.
Kala itu, gelombang panas di Prancis menyebabkan sekitar 15.000 orang meninggal dunia. Kini, dengan meningkatnya suhu global, pemerintah Prancis terus berupaya mencari solusi untuk melindungi warga tanpa harus mengabaikan komitmen lingkungan mereka yang kuat.











