Kemhan Evaluasi Total Latsarmil Pasca Gugurnya Lima Peserta Sarjana Penggerak Pembangunan

Danu Ilham

Kementerian Pertahanan memberikan penjelasan resmi terkait meninggalnya lima peserta Latihan Dasar Militer (Latsarmil) program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia. Insiden tragis ini memicu evaluasi menyeluruh terhadap format pelatihan bagi para peserta sipil tersebut.

Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan menyatakan duka mendalam atas kejadian yang menimpa lima peserta Latsarmil. Pihaknya menduga kombinasi kelelahan ekstrem, perubahan pola hidup, faktor cuaca, serta masalah kesehatan menjadi penyebab utama jatuhnya korban.

Para peserta dihadapkan pada transisi drastis dari kehidupan sipil menuju disiplin ketat di barak militer. Donny menyebut perubahan pola hidup ini cukup mengagetkan bagi fisik peserta meski telah lolos tes kesehatan awal.

Pihak Kemhan mendeteksi adanya riwayat penyakit bawaan, terutama terkait kondisi jantung dan paru-paru pada beberapa peserta. Meskipun seluruh peserta sebelumnya dinyatakan lulus batas aman dalam tahapan seleksi kesehatan, kondisi fisik mereka tetap terpengaruh beban latihan.

Menyikapi hal tersebut, Kementerian Pertahanan bersama Panitia Seleksi Nasional SPPI segera mengambil langkah taktis. Mereka mengubah format kegiatan agar lebih mengutamakan keselamatan para peserta sipil selama masa pelatihan.

Karo Infohan Setjen Kementerian Pertahanan, Rico Ricardo Sirait, menegaskan materi teknis dan taktis militer telah resmi dihilangkan. Kegiatan seperti menembak ditiadakan dan intensitas fisik dikurangi secara signifikan untuk menyesuaikan latar belakang peserta.

Perubahan format menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial mulai berlaku sejak Sabtu, 27 Juni 2026. Keputusan ini diambil setelah evaluasi mendalam bersama tim panselnas untuk mencegah jatuhnya korban tambahan.

Rico menjelaskan Kemhan tidak bisa menghentikan program secara sepihak karena statusnya sebagai bagian dari Panselnas SPPI KDKMP/KNMP. Segala kebijakan keberlanjutan program akan terus mengikuti arahan resmi dari keputusan Panselnas.

Evaluasi ini dilakukan menyusul gugurnya lima peserta dalam kurun waktu berdekatan. Korban terakhir tercatat bernama Nola Dya Sari yang meninggal dunia di wilayah Kalimantan.

Sebelumnya, empat peserta lain juga telah berpulang yakni Yonanda Muhammad Taufiq pada 17 Juni 2026. Disusul Anisa Muyassaroh pada 18 Juni 2026, Novia Rahmadhani Sihotang pada 22 Juni 2026. Serta Muhammad Rifki Renaldi Gunawan yang meninggal dunia pada 25 Juni 2026.

Saat ini, fokus utama kementerian adalah memastikan keselamatan seluruh peserta yang masih menjalani program. Penyesuaian materi diharapkan dapat menjaga kualitas output program tanpa harus mengorbankan kesehatan fisik para sarjana penggerak tersebut.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All