Vatikan Terancam Perpecahan Usai Kelompok Tradisionalis Nekat Tabiskan Empat Uskup Baru

Yohanes

Ribuan umat Katolik berkumpul di desa terpencil Swiss untuk menyaksikan penahbisan empat uskup baru secara kontroversial. Prosesi ini dilakukan oleh Society of Saint Pius X (SSPX) meski telah dilarang keras oleh Paus Leo XIV.

Keempat uskup baru tersebut berasal dari Amerika Serikat, Swiss, dan Prancis. Mereka merupakan bagian dari kelompok Lefebvristes yang menolak modernisasi Gereja Katolik sejak era 1960-an.

Paus Leo XIV sebelumnya telah mengeluarkan peringatan keras bagi para pemimpin SSPX. Beliau menyebut tindakan penahbisan tersebut sebagai langkah skismatik yang dapat merobek persatuan Gereja.

Namun, di bawah langit Alpen yang kelabu, kelompok tersebut tetap melanjutkan upacara. Sebanyak 15.000 orang hadir menyaksikan prosesi sakral yang dilakukan menggunakan tata cara bahasa Latin tradisional.

Para calon uskup bersujud di depan altar dengan kepala beralaskan bantal beludru merah. Suasana khidmat diiringi musik organ saat sumpah jabatan diucapkan dalam bahasa kuno tersebut.

Tindakan ini memicu kekhawatiran akan adanya ekskomunikasi bagi para uskup baru. Sejarah mencatat, penahbisan serupa pada 1988 sempat berujung pada sanksi pengucilan bagi seluruh pelakunya.

Meski Paus Benediktus XVI pernah mencabut ekskomunikasi pada 2009 demi perdamaian, kini Paus Leo XIV menghadapi tantangan serupa. Ia harus bersikap tegas guna menjaga otoritas kepemimpinan di Vatikan.

Konflik ini berakar dari keinginan SSPX mempertahankan tradisi abad pertengahan dalam misa. Mereka menolak kebijakan modern seperti penggunaan bahasa lokal dan sikap imam yang menghadap umat.

SSPX juga menolak keterbukaan gereja terhadap agama lain serta isu sosial politik modern. Mereka menganggap misa harus dilakukan dengan imam membelakangi jemaat demi menjaga kemurnian sakral.

Superior General SSPX, Davide Pagliarani, membela tindakan organisasinya dengan dalih mencintai Paus. Ia mengklaim langkah ini diambil untuk melindungi Gereja dari pengaruh buruk para gembala palsu.

Meski SSPX hanya memiliki 600.000 pengikut, pengaruh mereka tersebar di berbagai negara termasuk Amerika Serikat. Kelompok ini memiliki dana cukup besar untuk melakukan siaran langsung global via YouTube.

Bahkan, panitia menyediakan berbagai suvenir komersial, mulai dari topi bisbol hingga paket anggur khusus. Hal ini menunjukkan kesiapan logistik kelompok tersebut di tengah penolakan resmi dari otoritas Vatikan.

Paus kini berada dalam posisi dilematis untuk merespons pembangkangan ini. Ia harus menyeimbangkan ketegasan doktrin dengan upaya mencegah perpecahan lebih luas di tubuh Gereja Katolik.

Situasi tetap memanas karena status legitimasi keempat uskup baru tersebut masih dianggap tidak sah oleh Vatikan. Dunia kini menunggu langkah selanjutnya dari Paus untuk meredam potensi skisma yang lebih besar.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All