Kinerja sektor manufaktur di Asia Tenggara menunjukkan tren yang kurang menggembirakan pada penutupan semester pertama tahun 2026. Berdasarkan laporan terbaru S&P Global yang dirilis Rabu (1/7/2026), aktivitas manufaktur kawasan ASEAN secara umum mengalami perlambatan signifikan. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur ASEAN tercatat berada di level 50,5 pada Juni 2026, turun dibandingkan posisi bulan Mei yang berada di angka 51,5. Level ini sekaligus menjadi titik terendah dalam 11 bulan terakhir, mencerminkan sinyal waspada bagi ekonomi regional.
Secara teknis, PMI merupakan indikator krusial untuk mengukur kesehatan sektor industri. Angka di atas 50 menunjukkan sektor tersebut berada dalam fase ekspansi, sementara angka di bawah 50 mengindikasikan kontraksi atau penurunan aktivitas. Dari lima negara yang datanya telah dirilis, terdapat divergensi performa yang cukup kontras. Vietnam, Filipina, dan Malaysia masih mampu bertahan di zona ekspansi, sementara Indonesia dan Myanmar harus menelan pil pahit karena terperosok ke zona kontraksi.
Pelemahan ini dipicu oleh melambatnya laju pertumbuhan pesanan baru dan produksi di berbagai lini industri kawasan. Permintaan dari pasar ekspor internasional juga mengalami penurunan yang cukup tajam, menjadi indikator bahwa daya beli global belum sepenuhnya pulih. Namun, terdapat secercah optimisme dari sisi biaya operasional. S&P Global mencatat bahwa tekanan inflasi biaya di kawasan ASEAN mulai melandai, meskipun kenaikan harga input masih terjadi, namun dengan laju yang lebih moderat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Di tengah kondisi yang menantang, Malaysia menjadi sorotan utama karena berhasil mencatatkan pemulihan yang cukup impresif. PMI Manufaktur Malaysia naik ke level 50,7 pada Juni 2026, melompat dari posisi 49,9 pada bulan sebelumnya. Perubahan ini membawa manufaktur Negeri Jiran kembali ke zona ekspansi. Perbaikan tersebut didorong oleh bangkitnya kembali produksi manufaktur untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir serta peningkatan volume pesanan baru dari pelanggan.
Kendati demikian, para pelaku industri di Malaysia tetap menaruh kewaspadaan tinggi. Gangguan rantai pasok akibat eskalasi konflik di Timur Tengah masih menjadi bayang-bayang yang menekan permintaan ekspor global. Perusahaan-perusahaan di sana juga masih cenderung bersikap konservatif terkait penambahan tenaga kerja dan aktivitas pembelian bahan baku. Meski biaya input mulai terkendali, beberapa perusahaan memilih untuk menaikkan harga jual demi mengamankan margin keuntungan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Sementara itu, Filipina masih menunjukkan resiliensi dengan kenaikan tipis PMI ke angka 50,9 dari sebelumnya 50,8. Stabilitas ini ditopang oleh permintaan domestik yang masih terjaga. Di sisi lain, Vietnam yang sempat memimpin, mengalami penurunan PMI ke level 51,8 dari 52,8. Meski melambat, Vietnam tetap memegang posisi tertinggi di antara negara-negara ASEAN yang datanya telah dirilis, dengan pertumbuhan produksi yang masih mencatatkan laju tercepat dalam empat bulan terakhir.
Sebaliknya, kondisi di Myanmar justru kian mengkhawatirkan. PMI manufaktur negara tersebut merosot ke level 47,4 dari 49,3 pada bulan Mei. Tekanan berat tampak jelas dari penurunan tajam pada produksi dan pesanan baru. Gangguan rantai pasok yang diperparah oleh sulitnya akses material dan kendala transportasi membuat sektor manufaktur Myanmar terjebak dalam kontraksi yang semakin dalam.
Situasi yang lebih menantang justru dialami oleh Indonesia. Berdasarkan data terbaru, Indonesia menjadi negara dengan performa manufaktur terlemah di antara lima negara ASEAN yang telah merilis laporan. PMI Manufaktur Indonesia anjlok tajam ke level 46,9 pada Juni 2026, turun dari posisi 50,0 pada bulan Mei. Angka ini menandai kembalinya sektor manufaktur nasional ke zona kontraksi, sekaligus menjadi level terendah dalam setahun terakhir.
Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence, menyoroti bahwa kesehatan sektor manufaktur Indonesia telah mengalami penurunan dua kali dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Tekanan utama yang mendera industri dalam negeri berasal dari anjloknya pesanan baru, baik dari pasar domestik maupun mancanegara. Bahkan, pesanan ekspor baru tercatat turun dengan laju paling tajam sejak Agustus 2021. Hal ini menjadi peringatan keras bahwa industri manufaktur Indonesia tengah menghadapi tekanan ganda dari lemahnya konsumsi lokal dan lesunya permintaan global.
Dampak dari tren negatif ini sangat terasa pada level produsen. Perusahaan manufaktur di Indonesia terpaksa memangkas output selama empat bulan berturut-turut, dengan penurunan produksi pada Juni yang mencapai level tertajam sejak April 2025. Sebagai langkah efisiensi dan respons terhadap kondisi pasar, perusahaan melakukan pengurangan tenaga kerja secara besar-besaran dan menahan aktivitas pembelian bahan baku. Laju pengurangan tenaga kerja pada Juni bahkan tergolong solid dan menjadi yang paling signifikan sejak September 2021.
Selain masalah permintaan, tekanan biaya tetap menjadi beban berat bagi pelaku industri nasional. S&P Global mencatat adanya kenaikan tajam pada biaya input yang dipicu oleh tingginya harga bahan baku. Kondisi ini memaksa produsen untuk menaikkan harga jual produk akhir dengan laju yang paling kencang dalam hampir 13 tahun terakhir. Kombinasi antara melemahnya permintaan dan tingginya biaya produksi menciptakan tantangan besar bagi keberlangsungan sektor manufaktur Indonesia di paruh kedua tahun 2026.
Secara keseluruhan, data PMI bulan Juni 2026 menjadi sinyal bagi pemerintah dan pelaku usaha di ASEAN untuk lebih tanggap dalam menghadapi dinamika pasar global. Ketimpangan performa antarnegara menunjukkan bahwa faktor stabilitas domestik dan kemampuan mengelola rantai pasok menjadi kunci utama dalam menjaga napas industri manufaktur di tengah ketidakpastian ekonomi yang masih terus membayangi kawasan.











