Tiket Pesawat Mahal dan Rupiah Melemah, Tren Wisatawan RI ke Luar Negeri Melambat

Emanuel

Minat masyarakat Indonesia untuk melakukan perjalanan wisata ke luar negeri mengalami penurunan yang cukup signifikan pada Mei 2026. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya koreksi tajam pada jumlah perjalanan wisatawan nasional (wisnas) dibandingkan dengan periode sebelumnya, yang mencerminkan adanya tantangan ekonomi yang tengah dihadapi sektor pariwisata internasional.

Berdasarkan laporan resmi BPS, jumlah perjalanan wisnas pada Mei 2026 tercatat sebanyak 550.382 perjalanan. Angka ini mencerminkan penurunan sebesar 14,49 persen secara bulanan atau month-to-month. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, angka tersebut juga mengalami kontraksi sebesar 6,05 persen secara tahunan atau year-on-year.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa fenomena penurunan ini tidak terjadi tanpa alasan. Menurutnya, terdapat dua faktor utama yang menjadi penyebab utama mengapa masyarakat Indonesia semakin mengerem rencana liburan ke luar negeri.

Faktor pertama adalah tingginya harga tiket penerbangan internasional yang dipicu oleh kenaikan harga avtur global. Komponen bahan bakar pesawat yang terus merangkak naik memberikan tekanan pada harga tiket yang harus dibayar oleh konsumen akhir.

Faktor kedua yang tidak kalah krusial adalah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Pelemahan mata uang Garuda terhadap mata uang di negara-negara tujuan wisata utama membuat biaya hidup dan akomodasi di luar negeri terasa jauh lebih mahal bagi wisatawan Indonesia.

Ateng menjelaskan bahwa pelemahan rupiah ini secara otomatis meningkatkan beban pengeluaran wisatawan nasional. Ketika kurs mata uang asing menguat terhadap rupiah, daya beli masyarakat saat berada di luar negeri menjadi tergerus, sehingga banyak warga yang akhirnya menunda atau membatalkan rencana perjalanan mereka.

Secara kumulatif, tren penurunan ini juga terlihat dalam catatan sepanjang awal tahun. Data BPS menunjukkan bahwa dari Januari hingga Mei 2026, jumlah perjalanan wisnas baru mencapai 3.694.668 perjalanan. Jumlah ini mencatatkan penurunan sebesar 3,88 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 lalu.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan tren kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia. Di saat warga lokal mulai membatasi perjalanan keluar, Indonesia justru mencatatkan performa positif dalam menarik turis asing pada periode yang sama.

BPS mencatat, jumlah kunjungan wisman ke tanah air pada Mei 2026 mencapai 1.382.087 kunjungan. Angka tersebut naik 10,69 persen dibandingkan bulan sebelumnya, serta tumbuh 5,83 persen jika dibandingkan dengan Mei 2025. Secara akumulatif dari Januari hingga Mei 2026, kunjungan wisman telah menyentuh angka 6.067.014, yang berarti terjadi peningkatan sebesar 7,69 persen secara tahunan.

Dominasi wisman yang datang ke Indonesia masih dipegang oleh wisatawan asal Malaysia dengan catatan 298,21 ribu kunjungan, disusul oleh wisatawan asal Australia dengan 155,03 ribu kunjungan. Peningkatan jumlah kunjungan paling signifikan secara bulanan tercatat berasal dari Malaysia sebesar 43,4 persen, diikuti oleh Singapura yang mencatatkan pertumbuhan kunjungan sebesar 22,71 persen.

Bali masih menjadi magnet utama bagi para pelancong mancanegara. Tercatat sebanyak 578.203 kunjungan wisman masuk melalui Bandara Internasional Ngurah Rai. Selain Bali, Jakarta juga menjadi pintu masuk utama dengan jumlah kunjungan melalui Bandara Soekarno-Hatta mencapai 235.207 kunjungan.

Menariknya, di tengah penurunan minat bepergian ke luar negeri, sektor pariwisata domestik justru menunjukkan gairah yang luar biasa. Perjalanan wisata nusantara (wisnus) mengalami lonjakan tajam pada Mei 2026. Data BPS menunjukkan jumlah perjalanan wisnus mencapai 106.162.271 perjalanan sepanjang bulan tersebut.

Angka perjalanan domestik ini naik sebesar 8,83 persen dibandingkan April 2026 dan meningkat 8,69 persen dibandingkan Mei 2025. Sepanjang periode Januari hingga Mei 2026, total perjalanan wisatawan nusantara telah mencapai 523.221.951 perjalanan, atau meningkat tipis 2,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mulai mengalihkan preferensi liburan mereka dari luar negeri ke destinasi di dalam negeri. Faktor mahalnya tiket pesawat internasional dan fluktuasi nilai tukar rupiah tampaknya menjadi katalisator bagi warga untuk mengeksplorasi keindahan destinasi wisata lokal.

Bagi industri pariwisata nasional, tren ini menjadi peluang besar untuk memperkuat daya saing destinasi dalam negeri. Dengan meningkatnya volume perjalanan wisnus, pemerintah dan pelaku usaha pariwisata diharapkan dapat terus meningkatkan kualitas layanan serta infrastruktur pendukung agar pengalaman berwisata di Indonesia tetap kompetitif dan menarik bagi wisatawan lokal.

Meskipun tantangan ekonomi global masih membayangi, peningkatan jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia dan tingginya mobilitas wisatawan nusantara memberikan sinyal positif bagi pemulihan sektor pariwisata secara menyeluruh. Ke depan, stabilitas nilai tukar rupiah dan efisiensi biaya transportasi akan menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan tren positif ini agar sektor pariwisata terus menjadi salah satu pilar penggerak ekonomi nasional yang tangguh.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All