Piala Dunia 2026: Inggris Waspadai Ancaman Non-Teknis RD Kongo di Babak 32 Besar

Danu Eko

Timnas Inggris kini tengah bersiap menghadapi tantangan berat di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Skuad asuhan Thomas Tuchel dijadwalkan akan berhadapan dengan kuda hitam asal Afrika, Republik Demokratik Kongo, pada Rabu, 1 Juli 2026. Meski di atas kertas The Three Lions lebih diunggulkan berkat materi pemain kelas dunia dan performa impresif selama fase grup, laga ini menyimpan potensi gangguan yang tidak biasa. Selain adu taktik di lapangan hijau, Inggris kini diselimuti kekhawatiran terkait adanya laporan penggunaan ilmu hitam atau praktik magis yang kerap menyertai kiprah RD Kongo di turnamen internasional.

Kehadiran RD Kongo di babak 32 besar memang menjadi salah satu kejutan terbesar dalam perhelatan Piala Dunia 2026. Negara tersebut berhasil memastikan diri melaju ke fase gugur setelah penantian panjang selama 52 tahun. Namun, keberhasilan mereka menyingkirkan Nigeria di babak play-off kualifikasi zona Afrika tidak lepas dari kontroversi yang cukup menyita perhatian publik sepak bola global. RD Kongo sukses menaklukkan Nigeria melalui drama adu penalti setelah bermain imbang 1-1 dalam waktu normal dan perpanjangan waktu.

Di balik kemenangan tersebut, muncul pengakuan mengejutkan dari pelatih Nigeria, Eric Chelle. Ia secara terang-terangan menuduh lawan melakukan praktik maraboutage, sebuah tradisi magis yang melibatkan peran marabout atau dukun di wilayah Afrika Utara dan Barat. Chelle mengklaim telah menyaksikan langsung momen janggal saat adu tos-tosan berlangsung di mana seorang pria dari kubu Kongo tampak merapalkan mantra sambil mengguncang-guncangkan benda yang diduga berisi air atau cairan tertentu.

Ketegangan yang dirasakan oleh kubu Nigeria saat itu diakui sebagai dampak langsung dari aksi non-teknis tersebut. Chelle menjelaskan bahwa dirinya merasa sangat gugup ketika harus menghadapi situasi di lapangan karena tindakan berulang yang dilakukan oleh sosok tersebut selama sesi penalti. Bagi banyak pihak, praktik mistis dalam dunia sepak bola Afrika memang bukan hal yang benar-benar baru, namun membawa isu ini ke panggung sebesar Piala Dunia tentu menjadi topik yang sangat sensitif dan menarik untuk dicermati oleh otoritas sepak bola internasional.

Bagi Timnas Inggris, ini bukan kali pertama mereka bersinggungan dengan isu spiritual selama gelaran Piala Dunia 2026. Sebelumnya, Harry Kane dan kawan-kawan sempat merasakan teror serupa saat berhadapan dengan Ghana pada laga kedua fase grup. Seorang ahli spiritual asal Ghana, Nana Kwaku Bonsam, secara terbuka mengaku telah mengirimkan santet kepada kapten The Three Lions. Tujuan dari ritual tersebut adalah untuk memastikan sang striker andalan Inggris tidak mampu mencetak gol ke gawang Ghana.

Dampak dari pengakuan tersebut sempat menjadi buah bibir, terlebih setelah pertandingan antara Inggris dan Ghana berakhir dengan skor kacamata alias tanpa gol. Meski demikian, efek dari gangguan mistis tersebut tidak bertahan lama bagi sang kapten. Pada pertandingan berikutnya melawan Panama, Harry Kane berhasil memutus kebuntuan dengan mencetak gol dan membawa Inggris meraih kemenangan meyakinkan 2-0. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa kualitas teknis dan mentalitas pemain tetap menjadi faktor penentu utama di atas lapangan hijau, terlepas dari segala isu supranatural yang beredar.

Menghadapi RD Kongo yang penuh dengan aura misterius, Thomas Tuchel dipastikan akan tetap fokus pada persiapan teknis tim. Sebagai pelatih berkelas dunia, Tuchel tentu memahami bahwa sepak bola modern menuntut disiplin taktik dan konsentrasi tinggi. Inggris yang lolos ke fase gugur dengan status juara Grup L tentu tidak ingin perjalanan mereka terhenti lebih cepat hanya karena gangguan di luar urusan sepak bola. Kekuatan skuad yang dipenuhi bintang-bintang Liga Inggris menjadi modal utama untuk meredam perlawanan lawan.

Di sisi lain, publik sepak bola dunia kini menanti apakah laga antara Inggris dan RD Kongo akan berjalan murni secara teknis atau akan kembali diwarnai drama-drama di luar nalar. Federasi sepak bola internasional atau FIFA sendiri terus berupaya menjaga integritas pertandingan agar tetap steril dari berbagai intervensi yang tidak sportif. Namun, sejarah panjang mengenai kepercayaan pada kekuatan magis di beberapa belahan dunia membuat isu seperti ini sulit untuk benar-benar dihilangkan dari atmosfer kompetisi, terutama dalam turnamen dengan tensi tinggi seperti Piala Dunia.

Bagi penggemar The Three Lions, kehadiran RD Kongo di fase 32 besar ini menjadi ujian mental bagi skuad asuhan Thomas Tuchel. Apakah Inggris mampu menepis semua gangguan non-teknis dan melaju ke babak selanjutnya dengan meyakinkan, atau justru akan terjebak dalam skenario magis yang merugikan mereka? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan terjawab di atas rumput stadion pada Rabu mendatang. Yang pasti, mata dunia akan tertuju pada laga ini, tidak hanya untuk melihat aksi para bintang lapangan, tetapi juga untuk menyaksikan bagaimana rasionalitas sepak bola beradu dengan kepercayaan lokal yang sangat kental.

Pertandingan ini akan menjadi penentu apakah Inggris benar-benar siap untuk meraih gelar juara atau justru akan kembali pulang dengan kenangan pahit akibat faktor yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Terlepas dari benar atau tidaknya pengaruh ilmu hitam tersebut, fokus utama bagi setiap tim yang berlaga di Piala Dunia 2026 adalah memberikan performa terbaik dalam durasi 90 menit pertandingan. Kini, seluruh persiapan telah dilakukan, dan panggung besar sudah menanti untuk menentukan siapa yang layak melangkah ke babak 16 besar turnamen paling bergengsi di dunia ini.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All