Euforia Piala Dunia 2026 Ternoda: Suporter Keluhkan Lonjakan Harga Tiket hingga Biaya Makan yang Tak Masuk Akal

Danu Ilham

Pesta sepak bola dunia yang tengah berlangsung di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada seharusnya menjadi ajang perayaan bagi jutaan penggemar. Namun, di balik kemegahan turnamen, gelombang protes justru bermunculan dari para suporter. Mereka mengeluhkan lonjakan drastis biaya yang harus dikeluarkan selama berada di tuan rumah, mulai dari harga tiket pertandingan yang melambung tinggi, tarif akomodasi yang mencekik, hingga biaya tambahan tak terduga saat bersantap di restoran.

Amerika Serikat, yang menjadi pusat perhatian dengan menggelar 78 dari total 104 pertandingan, menjadi sorotan utama dalam keluhan ini. Para pengamat budaya menilai bahwa besarnya skala komersialisasi di Negeri Paman Sam telah mengubah esensi turnamen menjadi ajang bisnis besar yang kental dengan budaya konsumerisme. Dampak finansial ini dirasakan secara nyata oleh pendukung dari berbagai negara yang datang langsung demi mendukung tim kebanggaan mereka.

Salah satu insiden yang memicu reaksi keras di media sosial adalah praktik biaya tambahan di sektor kuliner. Restoran No Mas! Cantina yang berlokasi di Atlanta, dekat dengan Stadion Mercedes-Benz, sempat viral setelah kedapatan menambahkan biaya layanan otomatis sebesar 20 persen dengan label ‘FIFA’ pada struk tagihan pelanggan. Keluhan ini disuarakan oleh seorang pelanggan bernama Diamond melalui unggahan video di TikTok pada akhir Juni lalu. Ia mengaku terkejut harus membayar biaya tambahan tersebut padahal tidak merasa sedang berada di dalam lingkup kegiatan resmi FIFA.

Menanggapi kontroversi tersebut, pihak manajemen restoran memberikan klarifikasi. Kebijakan biaya tambahan itu diterapkan sebagai langkah perlindungan bagi staf pelayan mereka. Mengingat banyak pengunjung internasional yang datang ke AS cenderung memberikan tip dalam jumlah sangat rendah, padahal 80 hingga 90 persen penghasilan staf di sana sangat bergantung pada tip. Langkah serupa ternyata juga mulai diikuti oleh banyak restoran lain di berbagai kota penyelenggara sebagai strategi untuk menjaga keberlangsungan pendapatan staf selama Piala Dunia berlangsung.

Beban finansial yang berat juga dirasakan oleh para suporter yang harus merogoh kocek sangat dalam demi mendapatkan akses masuk ke stadion. Fedor, seorang suporter fanatik asal Baranquilla, Kolombia, mengungkapkan kekecewaannya saat ditemui di Times Square, New York, pada akhir Juni 2026. Ia mengaku telah menghabiskan sekitar 6.000 dollar AS atau setara dengan Rp 106 juta hanya untuk menebus tiket Piala Dunia bagi dirinya bersama istri dan anaknya.

Selain harga tiket yang dinilai tidak ramah di kantong, Fedor juga mengkritisi mahalnya biaya transportasi pendukung. Ia mencontohkan perjalanan menggunakan kereta api dari pusat Kota Boston menuju Stadion Foxborough yang memakan biaya 80 dollar AS atau sekitar Rp 1,4 juta untuk satu orang pergi-pulang. Baginya, angka tersebut terasa sangat tidak rasional untuk sekadar perjalanan menuju arena pertandingan.

Di luar persoalan biaya, Fedor juga menyoroti perbedaan atmosfer pertandingan di Amerika Serikat dibandingkan dengan pengalaman menonton Piala Dunia sebelumnya di Brasil pada 2014 dan Rusia pada 2018. Ia merasa antusiasme penonton tuan rumah tidak seintens negara-negara yang memiliki tradisi sepak bola kental. Menurut pengamatannya, ketika gol tercipta dalam sebuah laga, suasana di tempat umum seperti kafe terasa begitu datar seolah tidak ada urgensi atau gairah yang kuat. Meski demikian, ia tetap mengakui bahwa kualitas permainan yang tersaji di atas lapangan tetap mampu memberikan pengalaman berharga yang terbayarkan.

Tingginya permintaan tiket yang mencapai 500 juta pengajuan membuat ketersediaan kursi menjadi sangat terbatas sejak awal turnamen. Laporan dari goal.com menyebutkan bahwa FIFA telah membuka sistem penjualan tiket menit-menit terakhir dengan mekanisme siapa cepat dia dapat mulai 1 April lalu, menyusul ludesnya kuota utama. Situasi ini memaksa suporter harus bersaing ketat untuk bisa menyaksikan laga-laga krusial secara langsung.

Sementara itu, persaingan di atas lapangan tetap berjalan sengit. Tim nasional Meksiko menjadi salah satu tim yang menunjukkan performa impresif di Grup A. Mereka telah memastikan diri lolos ke babak gugur setelah meraih dua kemenangan penting atas Afrika Selatan dan Korea Selatan. Dengan torehan enam poin, Meksiko kini menatap laga babak gugur melawan Ekuador yang akan digelar di Estadio Azteca pada 1 Juli 2026.

Perjalanan turnamen ini memang masih menyisakan banyak babak krusial. Namun, di balik aksi para bintang sepak bola di atas rumput hijau, isu mengenai mahalnya biaya hidup dan komersialisasi yang berlebihan menjadi catatan tersendiri bagi penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Para suporter berharap agar pihak penyelenggara dan pelaku industri lokal dapat lebih bijak dalam menetapkan harga, sehingga semangat persaudaraan sepak bola tidak tergerus oleh beban ekonomi yang terlalu berat bagi penonton setia. Hingga saat ini, perdebatan mengenai apakah ajang ini benar-benar inklusif bagi seluruh lapisan suporter masih terus berlanjut di tengah berlangsungnya babak 32 besar.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All