Pasar logam mulia dunia tengah menghadapi tekanan hebat sepanjang semester pertama tahun 2026. Harga emas mencatatkan kinerja buruk dengan koreksi tajam hampir 7 persen, sebuah tren penurunan yang membawa logam mulia ini ke posisi terlemahnya sejak kuartal kedua tahun 2013. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan investor global mengingat emas biasanya menjadi pelabuhan aman saat ekonomi tidak menentu.
Berdasarkan data Refinitiv, pada penutupan semester pertama, Selasa (30/6/2026), harga emas ditutup di level US$ 4007,23 per troy ons, setelah mengalami pelemahan harian sebesar 0,22 persen. Penurunan ini sekaligus menggenapi tren negatif emas yang sudah terpangkas 2 persen hanya dalam kurun waktu dua hari perdagangan terakhir. Meski sempat mencoba bangkit tipis sebesar 0,12 persen ke level US$ 4012,02 per troy ons pada Rabu (1/7/2026) pagi, sentimen pasar secara keseluruhan masih cenderung bearish.
Pelemahan yang terjadi sepanjang paruh pertama tahun ini bukan sekadar fluktuasi jangka pendek. Secara kuartalan, emas telah memasuki zona koreksi terdalam dalam 13 tahun terakhir. Situasi ini mengulangi pola kelam pada kuartal II-2013, di mana saat itu konflik di kawasan Teluk memicu lonjakan inflasi yang tidak terduga dan mengguncang stabilitas pasar komoditas global.
Analis dari Marex, Edward Meir, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap harga emas saat ini bersumber dari ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan. Pasar masih bersikap sangat berhati-hati terhadap stabilitas nota kesepahaman atau MOU terkait konflik di Timur Tengah. Ketegangan yang masih menyelimuti kawasan tersebut membuat pelaku pasar sulit menemukan titik terang, sehingga aset berisiko maupun aset lindung nilai seperti emas sama-sama berada dalam posisi sulit.
Salah satu pemicu utama kegelisahan pasar adalah kebuntuan diplomatik yang terjadi di Doha. Pejabat Qatar mengonfirmasi bahwa utusan Amerika Serikat yang berada di sana tidak akan menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan pihak Iran. Kegagalan untuk mencapai kemajuan dalam upaya pengakhiran perang secara permanen ini menambah daftar panjang kekhawatiran investor, yang pada akhirnya menekan harga logam mulia.
Di sisi lain, kebijakan moneter agresif dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, menjadi faktor fundamental yang menekan harga emas. Meski secara tradisional emas dianggap sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga justru menjadi musuh utama bagi logam mulia. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil atau non-yielding asset, emas kehilangan daya tariknya ketika investor lebih memilih instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi akibat suku bunga yang naik.
Meir menambahkan bahwa inflasi di Amerika Serikat saat ini masih bertahan di level yang cukup tinggi, jauh melampaui target moderat The Fed di angka 2 persen. Kondisi ekonomi yang panas ini memaksa bank sentral untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Bahkan, peluang kenaikan suku bunga lanjutan masih terbuka lebar, yang secara langsung memperburuk prospek harga emas di pasar global.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan moneter The Fed semakin mengarah pada pengetatan lebih lanjut. Saat ini, terdapat peluang sekitar 67 persen bahwa bank sentral Amerika Serikat akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan September mendatang. Proyeksi ini membuat investor cenderung menjauhi emas dan beralih ke aset berbasis dolar.
Dalam waktu dekat, para pelaku pasar sedang memusatkan perhatian pada serangkaian data makroekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis. Data ketenagakerjaan ADP yang keluar pada Rabu serta laporan nonfarm payrolls yang dijadwalkan rilis Kamis ini menjadi sangat krusial. Data-data tersebut akan memberikan petunjuk lebih jelas bagi investor mengenai arah kebijakan moneter The Fed ke depannya, apakah akan tetap agresif atau mulai melunak.
Menariknya, di tengah tekanan harga yang dialami saat ini, terdapat pergeseran perilaku jangka panjang dari bank-bank sentral di seluruh dunia. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Official Monetary and Financial Institutions Forum atau OMFIF, bank sentral di berbagai negara cenderung mulai mengurangi ketergantungan atau eksposur mereka terhadap dolar Amerika Serikat untuk satu dekade ke depan.
Langkah strategis ini dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya risiko geopolitik global yang kian tidak terprediksi. Meski harga emas sedang tertekan dalam jangka pendek, banyak bank sentral yang justru memanfaatkan momentum ini untuk menambah kepemilikan emas dalam cadangan devisa mereka. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun emas sedang mengalami fase sulit, kepercayaan jangka panjang terhadap logam mulia sebagai penyimpan nilai tetap terjaga di kalangan institusi keuangan utama dunia.
Secara keseluruhan, pasar emas saat ini berada di persimpangan jalan antara tekanan suku bunga tinggi dan akumulasi strategis oleh bank sentral. Investor kini tengah menanti kepastian data ekonomi AS dan perkembangan diplomatik di Timur Tengah sebagai katalis utama pergerakan harga selanjutnya. Hingga ketidakpastian tersebut mereda, volatilitas harga emas diprediksi masih akan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan.











