Transformasi Peran Kampus: Kunci Wujudkan Desa Tematik dan Ekspor Menuju Indonesia Emas 2045

Heni Maulidya

Bojonegoro – Perguruan tinggi di Indonesia didorong untuk melakukan transformasi peran fundamental, tidak hanya sebagai menara gading pendidikan, melainkan menjadi lokomotif inovasi dan pemberdayaan masyarakat desa. Desakan ini datang dari Penasihat Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDT), Prof. Zainuddin Maliki, dalam sebuah seminar nasional yang diselenggarakan di Pendopo Kabupaten Bojonegoro. Prof. Zainuddin menegaskan bahwa peran aktif kampus sangat krusial dalam menumbuhkembangkan desa-desa tematik dan desa ekspor, sebagai pijakan penting menuju visi Indonesia Emas 2045.

Pernyataan ini disampaikan Prof. Zainuddin Maliki dalam Seminar Nasional bertajuk "Transformasi Pendidikan Desa Berbasis Masyarakat Menuju Indonesia Emas 2045" pada Senin, 29 Juli 2026. Acara yang digagas oleh Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah (STITM) Bojonegoro ini turut dihadiri oleh Wakil Bupati Bojonegoro, Dra. Hj. Nurul Azizah, M.M, serta Ketua STITM Bojonegoro, Arif Susanto, M.Pd, yang menunjukkan sinergi antara akademisi dan pemerintah daerah dalam upaya memajukan pedesaan.

Dalam paparannya, Prof. Zainuddin menguraikan visi Kementerian Desa PDT yang tengah giat mendorong pembentukan desa tematik dan desa ekspor. Desa tematik, jelasnya, merupakan model pembangunan yang secara spesifik menempatkan potensi unggulan desa sebagai identitas utama dan mesin penggerak pertumbuhan ekonomi lokal. Konsep ini mendorong setiap desa untuk menggali dan mengoptimalkan keunikan serta sumber daya yang dimiliki, seperti agrowisata, kerajinan tangan, atau produk pangan khas, untuk menciptakan nilai tambah yang signifikan.

Sementara itu, desa ekspor merupakan langkah progresif yang diharapkan mampu membawa desa-desa di Indonesia melampaui peran tradisional sebagai pemasok bahan mentah. Melalui inisiatif ini, desa didorong untuk tidak hanya menghasilkan produk unggulan, tetapi juga mengolahnya menjadi barang bernilai tambah tinggi yang mampu menembus pasar global. Hal ini memerlukan pendampingan intensif dalam standarisasi produk, manajemen kualitas, hingga strategi pemasaran internasional, sebuah area di mana perguruan tinggi memiliki kapasitas besar untuk berkontribusi.

Mantan Anggota DPR RI periode 2019-2024 ini menekankan bahwa cita-cita besar Indonesia Emas 2045, yang bercita-cita menjadikan Indonesia negara maju dan berdaya saing global, hanya dapat terwujud apabila pembangunan sumber daya manusia di tingkat desa diiringi dengan penguatan ekonomi yang bertumpu pada potensi lokal. Tanpa fondasi yang kuat di pedesaan, kemajuan nasional akan rapuh dan tidak merata. Oleh karena itu, kehadiran kampus secara nyata melalui riset-riset terapan, program pendampingan yang berkelanjutan, dan inovasi-inovasi yang relevan menjadi sangat esensial untuk melahirkan lebih banyak desa tematik dan desa ekspor.

Prof. Zainuddin secara khusus memberikan apresiasi tinggi kepada STITM Bojonegoro. Menurutnya, perguruan tinggi ini telah menunjukkan langkah progresif yang patut dicontoh. STITM Bojonegoro tidak hanya berfokus pada pengembangan akademik internal, tetapi juga aktif membangun kepedulian sosial dan menggerakkan para pendidik serta tenaga kependidikan untuk menjadi agen perubahan di desa-desa. Inisiatif ini selaras dengan konsep Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Sebagai salah satu daerah penghasil minyak dan gas bumi (migas) nasional, Bojonegoro memiliki tantangan sekaligus peluang unik. Prof. Zainuddin menegaskan bahwa di wilayah seperti ini, kemajuan tidak boleh semata-mata diukur dari besarnya sumber daya alam yang dieksploitasi. Lebih jauh, indikator kemajuan sejati harus mencakup kualitas sumber daya manusia dan keberdayaan masyarakat desanya. Kekayaan alam harus menjadi katalisator bagi peningkatan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat, bukan justru menciptakan ketimpangan atau ketergantungan.

Sebagai Sekretaris Eksekutif Program TEKAD (Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu), sebuah inisiatif kolaborasi antara Kementerian Desa PDT dan International Fund for Agricultural Development (IFAD), Prof. Zainuddin memiliki pemahaman mendalam tentang dinamika pembangunan pedesaan. Ia menggarisbawahi bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis yang multidimensional dalam membangun ekosistem pemberdayaan masyarakat desa. Ini mencakup riset terapan yang menghasilkan solusi konkret bagi permasalahan desa, inovasi teknologi yang meningkatkan produktivitas, penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan pendidikan, hilirisasi produk agar memiliki nilai jual lebih tinggi, literasi digital untuk adaptasi di era informasi, serta pengembangan jejaring kemitraan yang kuat dengan pemerintah daerah dan dunia usaha.

Dengan demikian, transformasi peran perguruan tinggi menjadi pusat inovasi dan pemberdayaan desa bukanlah sekadar wacana, melainkan sebuah kebutuhan mendesak. Sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat adalah kunci untuk mewujudkan desa-desa yang mandiri, berdaya saing, dan berkontribusi nyata pada pencapaian Indonesia Emas 2045. Komitmen STITM Bojonegoro dalam menggerakkan civitas akademika sebagai pilar perubahan di Bojonegoro menjadi contoh nyata bagaimana institusi pendidikan dapat menjadi motor penggerak pembangunan dari akar rumput.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All