Assen, Belanda – Massimo Rivola, CEO Aprilia Racing, yang sebelumnya dikenal vokal mengkritik Jorge Martin setelah insiden fatal di Balaton Park, kini memberikan sanjungan setinggi langit kepada pembalapnya. Martin dipuji atas keputusan "sangat cerdas" di Grand Prix Belanda, Assen, yang tidak hanya mengamankan podium ketiga tetapi juga membawanya memimpin klasemen Kejuaraan Dunia MotoGP untuk pertama kalinya musim ini.
Kinerja Martin di Sirkuit Assen akhir pekan lalu menjadi bukti kematangan dan kecerdasannya dalam membaca situasi balapan. Meski berhasil meraih pole position pertamanya bersama Aprilia, Martin menyadari bahwa kecepatan RS-GP miliknya di sesi balapan utama tidak sebanding dengan motor-motor lain. Hal ini terlihat jelas saat ia hanya mampu finis kelima dalam Sprint Race.
Pada balapan utama hari Minggu, pembalap berjuluk ‘Martinator’ itu memulai dengan sempurna dan memimpin jalannya balapan selama banyak lap di awal. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai kehilangan cengkeraman dan secara bertahap terkejar oleh para pesaingnya. Duo pembalap Trackhouse, Raul Fernandez dan Ai Ogura, berhasil menyalipnya di lap-lap terakhir. Alih-alih memaksakan diri dan mengambil risiko yang tidak perlu untuk mempertahankan posisi kedua, Martin memilih untuk bertahan di posisi ketiga.
Massimo Rivola, dalam komentarnya, secara eksplisit menyatakan bahwa keputusan tersebut adalah langkah yang sangat bijak. "Saya pikir Jorge melakukan putaran yang luar biasa di kualifikasi, untuk pole pertamanya bersama kami," ujar Rivola. Ia melanjutkan, "Mengingat kondisi fisiknya yang sama sekali belum 100% [setelah kecelakaan Balaton Park], saya pikir ia melakukan balapan yang hebat. Start sempurna, ia memimpin balapan selama banyak, banyak lap."
Kondisi fisik Martin yang belum pulih sepenuhnya setelah kecelakaan di Balaton Park menjadi faktor krusial yang dipertimbangkan. Rivola mengakui bahwa membalap dalam kondisi seperti itu membutuhkan perhitungan ekstra. "Ia tidak bisa melakukan lebih dari itu," tegas Rivola. "Kami tahu bahwa khususnya Ai [Ogura] di akhir balapan sangat kuat. Dan [Jorge] sangat cerdas juga untuk merasa senang, [bertahan] di posisi ketiga. Dan tidak mengambil risiko ekstra untuk bertahan."
Perubahan sikap Rivola terhadap Martin sangat mencolok. Sebelumnya, Rivola tidak ragu untuk mengkritik Martin setelah insiden di Balaton Park yang dianggapnya sebagai kesalahan yang merugikan. Namun, di Assen, Martin menunjukkan evolusi yang signifikan dalam pengambilan keputusan, memprioritaskan poin kejuaraan di atas kemenangan individual yang berisiko. Ini adalah indikasi penting bagi seorang pembalap yang berambisi meraih gelar juara dunia.
Keberhasilan Martin meraih podium ketiga juga dipermanis oleh nasib buruk rekan setimnya, Marco Bezzecchi, yang mengalami kecelakaan pada lap kedua balapan utama. Rivola menyebut insiden Bezzecchi sebagai "kesalahan." Insiden ini secara langsung memuluskan jalan Martin untuk mengambil alih posisi puncak klasemen kejuaraan. Dengan demikian, Martin kini unggul tujuh poin dari Bezzecchi, menjadikan persaingan di papan atas semakin memanas.
Rivola menekankan bahwa Martin telah "mengambil yang maksimum dari apa yang bisa ia dapatkan" dari akhir pekan balapan tersebut. "Anda bisa melihat bahwa pada hari Jumat dan bahkan pada Sabtu pagi, ia tidak begitu percaya diri dengan motor dibandingkan dengan tiga pembalap lainnya," ungkap Rivola, merujuk pada performa awal Martin di Assen. "Jadi apa yang ia lakukan akhir pekan ini? Ia menunjukkan bahwa ketika saatnya tiba untuk memberikan hasil, ia melakukan hal yang benar. Itu adalah sesuatu yang sangat penting untuk kejuaraan."
Kepemimpinan Martin di klasemen bukanlah hal baru sepenuhnya. Ia sempat memimpin klasemen secara singkat setelah Grand Prix Amerika di COTA (Circuit of the Americas) musim ini. Namun, momen di Assen ini terasa lebih solid dan strategis, menunjukkan kedewasaan Martin sebagai seorang pembalap yang belajar dari pengalaman. Dengan keunggulan tujuh poin, Martin akan menghadapi tantangan berikutnya di Sachsenring, Jerman, putaran terakhir sebelum jeda musim panas. Balapan di Sachsenring akan menjadi krusial untuk mempertahankan momentum dan memperlebar jarak sebelum paruh kedua musim dimulai. Strategi cerdas dan manajemen risiko yang ditunjukkan di Assen akan menjadi kunci bagi Martin dalam perburuan gelar juara dunia MotoGP musim ini.











