Presiden Joe Biden melancarkan serangan verbal yang tajam terhadap mantan Presiden Donald Trump, menjuluki pendahulunya itu sebagai "pecundang" atas serangkaian "proyek kesombongan" yang dilakukan di Washington DC. Kritikan pedas ini disampaikan Biden dalam sebuah acara penggalangan dana Partai Demokrat pada akhir pekan, menandai salah satu serangan paling blak-blakan dalam persaingan politik yang kian memanas menjelang pemilihan presiden.
Dalam pidato berdurasi 10 menit yang disampaikan di Hanover, Maryland, Biden secara spesifik menyoroti rencana Trump untuk membangun sebuah ruang dansa di Gedung Putih dan pendekatan kontroversialnya dalam merenovasi Reflecting Pool ikonik di ibu kota. Pernyataan tersebut segera memicu perdebatan dan menjadi sorotan media, dengan BBC telah menghubungi Gedung Putih untuk mendapatkan tanggapan atas komentar Biden.
Persaingan antara Biden dan Trump telah lama diwarnai saling kritik. Trump secara berulang kali mengecam rekam jejak Biden selama menjabat, dan Biden pun tak segan membalas. Namun, lontaran Biden pada acara Sabtu lalu dinilai jauh lebih lugas dan keras dari biasanya, menggambarkan ketegangan yang meningkat di panggung politik Amerika.
Biden secara eksplisit menyebut beberapa inisiatif yang ia labeli sebagai "proyek kesombongan" Trump. "Ini bukan hanya proyek kesombongannya, merobohkan Sayap Timur Gedung Putih untuk memberi ruang bagi ruang dansanya, menempatkan namanya di Kennedy Center, membangun sebuah lengkungan untuk menghormatinya sendiri, bahkan menyewa tukang kolamnya sendiri untuk memperbaiki Reflecting Pool," ujar Biden dengan nada mengejek.
"Wah! Benar-benar pecundang," tambahnya, memperkuat nada kritiknya yang tajam. Serangan ini menggarisbawahi upaya Biden untuk menggambarkan Trump sebagai sosok yang terobsesi pada diri sendiri dan pemborosan, sebuah narasi yang kerap digunakan dalam kampanye politik.
Salah satu rujukan Biden adalah upaya Trump untuk menambahkan namanya di bagian depan John F. Kennedy Center for the Performing Arts, sebuah inisiatif yang kemudian diperintahkan oleh pengadilan untuk dihapus. Upaya personalisasi terhadap lembaga budaya dan sejarah nasional ini memang sempat menimbulkan kontroversi besar.
Mengenai pembangunan ruang dansa, Trump sebelumnya telah membela rencananya senilai 400 juta dolar AS (sekitar 300 juta poundsterling) untuk membongkar sebagian Sayap Timur dan membangun fasilitas baru tersebut. Menurut Trump, ruang dansa itu diperlukan untuk alasan keamanan nasional dan untuk menjamu tamu-tamu negara, meskipun banyak pihak menganggapnya sebagai proyek mewah yang tidak mendesak.
Proyek lain yang disinggung Biden adalah renovasi Lincoln Memorial Reflecting Pool. Trump menghabiskan 14,7 juta dolar AS untuk mengubah warna dan merestorasi kolam tersebut. Upaya ini juga menuai kontroversi setelah kolam tersebut kemudian dilanda pertumbuhan alga dan masalah lainnya. Trump dan Layanan Taman Nasional AS menyalahkan vandalisme sebagai penyebab masalah tersebut, namun kritikus tetap mempertanyakan efektivitas dan keberlanjutan proyek tersebut.
Selain kritik terhadap proyek-proyek fisik, Biden juga menyasar sikap Trump terkait peristiwa penyerbuan Gedung Capitol pada 6 Januari 2021. Dikutip oleh media AS, Biden menyatakan kemarahannya atas niat Trump. "Yang membuat saya marah adalah Trump ingin memberikan uang pembayar pajak, uang Anda, kepada para pemberontak 6 Januari," tegasnya.
Komentar ini merujuk pada upaya pemerintahan Trump sebelumnya untuk memberikan kompensasi kepada individu yang mengklaim menjadi target atau diselidiki secara tidak adil oleh pemerintah terkait insiden tersebut. Upaya ini kemudian dibatalkan dan diblokir oleh seorang hakim, menandakan penolakan terhadap gagasan memberikan dana publik kepada mereka yang terlibat dalam kekerasan politik.
Hingga saat ini, Donald Trump belum secara langsung menanggapi komentar terbaru Biden. Namun, dalam unggahan di platform Truth Social miliknya bulan lalu, Trump sempat menjuluki Biden sebagai "politikus curang." Dia juga kembali menggunakan julukan favoritnya, "Sleepy Joe Biden," dalam unggahan terkait topik yang tidak berhubungan pada Senin lalu, menunjukkan bahwa retorika agresif di antara keduanya terus berlanjut.
Komentar pedas Biden ini juga datang tepat dua tahun setelah sebuah penampilan debat yang disebut "bencana" melawan Trump menjelang pemilihan presiden 2024, sebuah peristiwa yang diklaim telah mengubah arah pencalonannya. Sumber menyebutkan bahwa anggota terkemuka Partai Demokrat mendesak Biden untuk mundur setelah penampilan tersebut, yang kemudian menyebabkan Wakil Presiden Kamala Harris menggantikannya dalam perlombaan yang pada akhirnya ia kalah dari Trump.
Serangan tajam Biden ini mengindikasikan bahwa kampanye pemilihan presiden 2024 akan semakin memanas dan diwarnai oleh retorika yang sengit. Dengan kedua belah pihak terus saling menyerang dan menggunakan bahasa yang blak-blakan, para pemilih Amerika dapat mengharapkan perdebatan yang intens dan penuh drama di bulan-bulan mendatang.











