Bintang muda Real Madrid, Rodrygo Goes, secara terbuka mengungkapkan kekagumannya terhadap pelatih legendaris Carlo Ancelotti, menyebutnya sebagai sosok "figur ayah" yang memiliki dampak mendalam pada kariernya. Pernyataan Rodrygo ini tidak hanya menyoroti kejeniusan taktis Ancelotti, tetapi juga kemampuan manajerialnya dalam membimbing pemain di dalam maupun di luar lapangan, sebuah kualitas yang diyakini Rodrygo akan sangat berharga bagi Timnas Brasil di masa depan. Pengakuan ini muncul di tengah spekulasi kuat mengenai potensi Ancelotti untuk melatih Selecao, memicu antusiasme di kalangan penggemar sepak bola Brasil.
Salah satu momen paling ikonik yang diceritakan Rodrygo terjadi pada semi-final Liga Champions 2022 di Santiago Bernabéu. Kala itu, Manchester City unggul 1-0 di hadapan lebih dari 60.000 suporter Real Madrid. Ancelotti memanggil Rodrygo dari bangku cadangan, memberinya instruksi sederhana namun penuh tekanan: "Masuklah ke lapangan, bermain agresif, dan putuskan pertandingan ini." Rodrygo masuk pada menit ke-68 dan berhasil mencetak dua gol dramatis pada menit ke-90 dan 91, menyamakan kedudukan secara agregat dan memaksa pertandingan berlanjut ke babak tambahan. Real Madrid kemudian memenangkan laga tersebut dan melaju hingga meraih gelar juara setelah mengalahkan Liverpool di final, sebuah kisah yang tak terlupakan.
Keberhasilan luar biasa itu, menurut Rodrygo, adalah bukti nyata dari peran krusial seorang pelatih dalam perjalanan tim dan karier seorang pemain, sebuah pekerjaan yang seringkali tidak terlihat oleh publik. Ancelotti, yang dijuluki "Mister" oleh para pemainnya, memiliki metode yang mudah dipahami oleh mereka yang berada di ruang ganti, namun sulit ditebak oleh media dan pihak luar. Keputusannya seringkali mengejutkan, tetapi selalu didasari oleh pertimbangan matang dan koherensi fenomenal yang memadukan hati nurani, pikiran, pengetahuan taktis yang mendalam, serta kepiawaian dalam mengelola dinamika grup.
Rodrygo meyakini bahwa Ancelotti adalah sosok yang sangat ia kagumi, baik sebagai pelatih maupun pribadi. Ia selalu memberikan bimbingan mengenai hal-hal di dalam maupun di luar lapangan, layaknya seorang ayah. Dalam privasi ruang ganti dan ruang pertemuan, Ancelotti menunjukkan kehebatannya: ia terlibat dalam percakapan tentang kehidupan keluarga, mengatasi ketidakpuasan pemain, dan menunjukkan ketegasan dalam menunjukkan jalan yang benar. Kualitas inilah yang membuat Rodrygo yakin bahwa seluruh rekan senegaranya di Brasil, terutama yang baru mengenal ide-ide Ancelotti, akan semakin menunjukkan dukungan terhadap kerjanya.
Pengalaman Rodrygo dengan para mentor ulung tidak hanya terbatas pada Ancelotti. Sejak kecil, ia sudah memahami pentingnya bimbingan. Ia mengenang Eric Goes, sang ayah yang juga mantan pesepak bola, sebagai inspirasi pertamanya untuk selalu melangkah ke level berikutnya. Pada usia enam tahun, saat Rodrygo bermain sepak bola jalanan atau "pelada" di Osasco, São Paulo, dengan anak-anak yang jauh lebih tua, seorang pelatih akademi lokal melihat potensinya.
Pelatih tersebut kemudian memotretnya dan mendaftarkannya ke turnamen kota sebagai pemain tim lingkungan, meskipun Rodrygo berusia separuh dari anak-anak lain. Momen itu menjadi titik balik, menyadarkannya bahwa ia harus menghadapi dan mengalahkan pemain terbaik untuk berkembang, persis seperti nasihat ayahnya. Perjalanan kariernya terus diwarnai oleh sosok-sosok penting. Saat di akademi Santos, Rodrygo bermimpi mengenakan jersey tim profesional. Jair Ventura, pelatih Santos kala itu, adalah orang yang membuka jalan baginya.
Jair Ventura mempromosikan Rodrygo ke tim utama pada tahun 2017. Ia memiliki pendekatan yang humanis, berusaha mengenal kehidupan dan aspirasi para pemainnya. Saat Rodrygo mengungkapkan mimpinya untuk bermain di Real Madrid, Ventura percaya pada keyakinan kata-katanya dan memberinya lebih banyak kesempatan. Puluhan pertandingan kemudian, pada tahun 2018, tawaran dari Real Madrid datang, dan Ventura menjadi salah satu orang pertama yang mengetahuinya.
Peran Ventura bahkan berlanjut hingga ke level tim nasional. Menjelang Piala Dunia 2022, manajer Timnas Brasil saat itu, Tite, menelepon Ventura untuk membicarakan pemain lain. Namun, Ventura justru merekomendasikan Rodrygo, menjelaskan gaya bermain dan menyoroti kekuatannya. Ventura mungkin merasa perannya "hanya" meluncurkan karier profesional Rodrygo, tetapi bagi sang pemain, "hanya" itu bisa berarti segalanya. Tak lama kemudian, Rodrygo menerima panggilan pertamanya ke tim senior Brasil dan tetap menjadi bagian dari skuad Tite sepanjang siklus tersebut, hingga akhirnya terpilih untuk Piala Dunia pertamanya di Qatar.
Baru-baru ini, Rodrygo juga berkesempatan bertemu Luiz Felipe Scolari, pelatih pemenang Piala Dunia 2002, di belakang panggung sebuah acara televisi di New York. Ia pun memahami mengapa skuad juara dunia 2002 dijuluki "Keluarga Scolari." Felipão memandang sepak bola sebagai wadah untuk hubungan tulus, memperlakukan para pemain sebagai manusia seutuhnya, dengan segala kebaikan, kekurangan, potensi, kapasitas belajar, dan perilaku tak terduga mereka.
Sepanjang perjalanannya, Rodrygo telah dibimbing oleh berbagai pelatih papan atas serta individu yang ia hormati, termasuk Zinedine Zidane, Fernando Diniz, Xabi Alonso, dan Álvaro Arbeloa. Saat ini, ia tengah menjalani pemulihan dengan harapan besar untuk segera bergabung kembali dengan Real Madrid di bawah kepemimpinan José Mourinho, manajer yang diyakininya memiliki segalanya untuk membawa tim kembali meraih trofi. Di bidang yang sangat kompetitif seperti sepak bola, antusiasme untuk bekerja dengan profesional yang dikenal sebagai "The Special One" adalah hal yang tak terhindarkan. Kisah Rodrygo menegaskan bahwa di balik setiap bintang lapangan, selalu ada sosok-sosok mentor yang tak henti menuntun, membentuk, dan menginspirasi perjalanan mereka menuju puncak.











