Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan dengan kinerja yang kurang menggembirakan, ditutup merosot tajam di zona merah pada perdagangan Senin (29/6) sore. Indeks acuan Bursa Efek Indonesia ini parkir di level 5.820, melemah signifikan sebesar 75,34 poin atau setara dengan minus 1,28 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini mencerminkan sentimen negatif yang membayangi pasar domestik di tengah dinamika ekonomi global.
Berdasarkan data dari RTI Infokom, aktivitas perdagangan saham pada hari tersebut cukup ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp9,03 triliun. Total saham yang berpindah tangan tercatat sebanyak 15,22 miliar lembar saham. Tingginya volume dan nilai transaksi ini menunjukkan adanya aksi jual beli yang intensif, meskipun pada akhirnya tekanan jual lebih mendominasi.
Kondisi pasar yang lesu tercermin dari dominasi saham yang terkoreksi. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 449 saham tercatat mengalami penurunan harga. Sementara itu, hanya 214 saham yang berhasil menguat, dan 149 saham lainnya terpantau stagnan atau tidak mengalami perubahan harga. Komposisi ini menegaskan bahwa mayoritas pelaku pasar cenderung mengambil langkah konservatif di awal pekan.
Penurunan IHSG ini tidak terlepas dari performa mayoritas sektor yang ada di bursa. Tercatat, 10 dari 11 sektor indeks yang ada mengalami pelemahan. Sektor infrastruktur menjadi pemimpin dalam penurunan ini, anjlok paling dalam sebesar 1,63 persen. Sektor-sektor lainnya juga turut tertekan, menunjukkan bahwa sentimen negatif menyebar secara luas di berbagai lini bisnis. Hanya sektor properti yang mampu bertahan dan bahkan mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,62 persen, menjadi satu-satunya penopang di tengah kelesuan pasar.
Sentimen negatif yang memukul pasar saham domestik ini tampak kontras dengan pergerakan bursa-bursa utama di kawasan Asia. Mayoritas bursa saham di Asia justru terpantau bergerak di zona hijau, menunjukkan optimisme yang berbeda. Indeks Shanghai Composite di China berhasil menguat 1,16 persen, memberikan sinyal positif dari ekonomi terbesar kedua di dunia. Sementara itu, indeks Straits Times di Singapura juga naik tipis 0,18 persen, dan indeks Nikkei 225 di Jepang menguat 0,15 persen. Kinerja paling cemerlang di antara bursa Asia ditunjukkan oleh indeks Hang Seng Composite di Hong Kong yang melonjak 1,57 persen.
Berbeda dengan mayoritas bursa Asia, kondisi di pasar saham global lainnya justru mirip dengan Indonesia. Bursa saham Eropa terpantau kompak bergerak melemah, mengindikasikan adanya kekhawatiran yang lebih luas di benua biru. Indeks DAX di Jerman terkoreksi 0,07 persen, sementara indeks FTSE 100 di Inggris juga turun 0,23 persen. Pelemahan ini menunjukkan bahwa kekhawatiran investor tidak hanya terbatas di satu wilayah, melainkan menyebar ke pasar-pasar besar di Eropa.
Senada dengan Eropa, bursa saham Amerika Serikat juga dominan di zona merah. Tiga indeks utama Wall Street kompak melemah pada perdagangan sebelumnya. Indeks S&P 500 terkoreksi tipis 0,05 persen, sedangkan indeks teknologi NASDAQ Composite anjlok 0,24 persen. Indeks Dow Jones Industrial Average juga tak luput dari tekanan, turun 0,09 persen. Kinerja bursa global yang cenderung lesu, khususnya di Eropa dan Amerika, diyakini turut memberikan tekanan pada pergerakan IHSG di awal pekan.
Meskipun bursa Asia menunjukkan ketahanan, pelemahan yang terjadi di pasar domestik Indonesia, serta di Eropa dan Amerika, mengindikasikan bahwa investor global masih sangat berhati-hati dalam menanggapi berbagai perkembangan ekonomi dan politik. Kelesuan IHSG pada awal pekan ini menjadi sinyal bagi para investor untuk lebih mencermati arah pasar, mempertimbangkan faktor-faktor domestik dan global yang mungkin akan terus mempengaruhi pergerakan indeks di sesi perdagangan berikutnya.











