Presiden Mesir Anwar Sadat tewas ditembak pada 6 Oktober 1981. Peristiwa tragis ini terjadi saat ia sedang menyaksikan parade militer di Kairo, sebuah momen yang seharusnya menjadi perayaan kemenangan Mesir. Pembunuhan Sadat mengejutkan dunia dan menjadi pukulan telak bagi upaya perdamaian di Timur Tengah.
Sadat, yang memimpin Mesir sejak 1970, dikenal atas keberaniannya dalam mengambil langkah diplomatik yang monumental. Ia adalah pemimpin Arab pertama yang secara terbuka menjalin hubungan damai dengan Israel. Inisiatif ini memuncak pada penandatanganan Perjanjian Camp David pada 17 September 1978, yang difasilitasi oleh Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter di Gedung Putih.
Perjanjian Camp David menjadi tonggak sejarah yang mengakhiri status permusuhan antara Mesir dan Israel, yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Kesepakatan ini tidak hanya mencakup gencatan senjata dan pengakuan timbal balik, tetapi juga kerangka kerja untuk perdamaian yang lebih luas di kawasan tersebut. Sadat bahkan dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1978 bersama Perdana Menteri Israel Menachem Begin atas upaya mereka.
Namun, keputusan Sadat untuk berdamai dengan Israel menuai kontroversi besar di dunia Arab dan di dalam negeri Mesir sendiri. Banyak pihak memandang langkah ini sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina dan identitas Arab. Sikap Sadat yang gigih dalam melanjutkan jalannya perdamaian, meskipun mendapat tentangan keras, akhirnya berujung pada nasib tragis.
Pelaku penembakan Sadat adalah sekelompok anggota militer Mesir yang menentang perjanjian damai dengan Israel. Dalam insiden yang terjadi di hadapan publik, para penyerang melancarkan tembakan yang menyebabkan kematian Sadat dan melukai beberapa pejabat lainnya. Pembunuhan ini menjadi bukti nyata bahwa inisiatif normalisasi hubungan Arab-Israel pada masa itu memicu gejolak dan reaksi keras yang berakibat fatal bagi para pelakunya.
