Fenomena kelelahan akibat obrolan grup chat, bahkan ketika partisipasi aktif minimal, kini menjadi sorotan. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah mengapa interaksi digital ini dapat menguras energi lebih banyak dibandingkan percakapan tatap muka.
Sebuah riset yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology pada 15 Februari 2023, merangkum beberapa alasan utama di balik fenomena ini. Para peneliti menyoroti bahwa grup chat, meskipun tampak santai, sebenarnya memicu serangkaian proses kognitif yang kompleks dan berkelanjutan.
Salah satu faktor krusial adalah tuntutan untuk terus-menerus memantau notifikasi. Lonceng pemberitahuan yang berdering tanpa henti menciptakan kondisi siaga konstan bagi otak. Dr. Sarah Johnson, salah satu penulis utama studi tersebut, menjelaskan, “Meskipun kita tidak sedang mengetik balasan, otak kita tetap memproses setiap pesan yang masuk. Ini seperti memiliki banyak percakapan kecil yang terjadi secara bersamaan.” Pemrosesan pasif ini, yang dikenal sebagai ‘multitasking kognitif’, secara signifikan meningkatkan beban mental.
Selain itu, hilangnya isyarat non-verbal yang kaya dalam komunikasi tatap muka juga berkontribusi pada kelelahan. Dalam percakapan langsung, kita mengandalkan ekspresi wajah, nada suara, dan bahasa tubuh untuk memahami makna dan emosi. Di grup chat, interpretasi pesan seringkali bergantung pada teks semata, yang dapat menyebabkan kesalahpahaman dan kebutuhan untuk menganalisis setiap kata secara lebih mendalam. “Kita terpaksa lebih banyak menebak-nebak maksud orang, yang membutuhkan energi mental ekstra,” tambah Dr. Johnson.
Studi ini juga menyinggung mengenai sifat asinkron dari komunikasi grup chat. Pesan bisa datang kapan saja, memaksa individu untuk terus-menerus menyesuaikan perhatian mereka. Berbeda dengan percakapan tatap muka yang memiliki awal dan akhir yang jelas, grup chat cenderung menjadi ‘arus’ komunikasi yang tak berkesudahan. Hal ini menciptakan rasa kewajiban untuk merespons, bahkan jika tidak segera, yang menambah tekanan psikologis.
Lebih lanjut, riset tersebut mengidentifikasi adanya ‘kelelahan keputusan’ yang terkait dengan grup chat. Setiap kali notifikasi muncul, otak dihadapkan pada keputusan: apakah perlu merespons? Kapan? Bagaimana? Seberapa panjang balasannya? Meskipun keputusan ini tampak sepele, akumulasinya dapat menguras sumber daya kognitif.
Sebagai kesimpulan, meskipun grup chat menawarkan kemudahan konektivitas, kompleksitas pemrosesan informasi, hilangnya isyarat non-verbal, sifat asinkron, dan keputusan mikro yang terus-menerus menjadikannya aktivitas yang dapat sangat melelahkan secara mental, bahkan saat partisipasi tampak minimal.
