Friday, 11 September 2026
BREAKING
SEPAKBOLA

Igor Tudor, Pemicu Kontroversi Penggemar Tottenham dan Potensi Kembalinya Pochettino

Oleh Herfansyah September 10, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Keputusan manajemen Tottenham Hotspur untuk menunjuk Igor Tudor sebagai pelatih pada Februari lalu, dengan misi menyelamatkan tim dari jurang degradasi, justru menuai kritik tajam dari para penggemar. Tudor hanya mampu mengumpulkan satu poin dari lima pertandingan di Premier League, sebuah rekor yang dianggap tak termaafkan oleh para pendukung setia klub.

Periode kepelatihan Igor Tudor yang hanya berlangsung 44 hari berujung pada pemecatannya. Nasibnya di Tottenham berakhir setelah serangkaian hasil buruk, yang kemudian membuka jalan bagi Roberto De Zerbi untuk mengambil alih dan akhirnya memastikan kelangsungan klub di Premier League di pekan terakhir. Namun, di balik drama pergantian pelatih ini, muncul spekulasi mengenai terhalangnya potensi kembalinya Mauricio Pochettino.

Pochettino, yang sebelumnya pernah memimpin Tottenham dengan cukup baik, saat itu sedang ditugaskan untuk fokus pada proyek lain di Amerika. Kepulangannya ke Tottenham, yang sangat dinanti oleh sebagian penggemar, tampaknya harus tertunda akibat rentetan kejadian tersebut. Pochettino sendiri dikenal memiliki pandangan unik mengenai kompetisi, bahkan pernah menyatakan bahwa gelar Premier League seharusnya tidak hanya diberikan kepada tim yang finis di puncak klasemen.

Pandangan Pochettino tersebut, ditambah dengan pernyataannya saat menjadi pelatih Chelsea yang mengakui bahwa timnya tidak pantas meraih gelar karena melanggar aturan, semakin menguatkan persepsi beberapa pihak bahwa ia adalah sosok yang tepat untuk Tottenham. Noble Francis, seorang pengamat sepak bola, berpendapat, “Mengingat Mauricio Pochettino percaya gelar Premier League seharusnya tidak diberikan kepada klub yang finis pertama di klasemen, ia benar-benar seorang manajer Spurs sejati. Dan, mengingat ia juga mengatakan bahwa jika ia menjadi manajer Chelsea saat itu, ia akan mengakui bahwa โ€˜kami tidak pantas mendapatkan gelar karena kami melanggar aturanโ€™, itu juga secara meyakinkan membuktikan bahwa ia adalah orang yang sama sekali salah untuk Chelsea.”

Fenomena ini menggambarkan betapa sensitifnya posisi pelatih di klub sebesar Tottenham, di mana harapan dan ekspektasi penggemar seringkali menjadi faktor penentu. Sementara itu, pengamat lain, Peter Oh, memberikan analogi menarik terkait peran sponsor besar dalam sepak bola, “Hanya karena Amazon sekarang memiliki saham mayoritas di Liverpool FC, bukan berarti ia bisa memerintahkan Alexa Alexis untuk mencetak gol kemenangan dalam kompetisi Eropa, bukan?!”

Bagikan: Facebook X WhatsApp