Saturday, 11 July 2026
BREAKING
BERITA

Gunung Semeru Kembali Erupsi, Luncurkan Kolom Abu Setinggi 1.000 Meter di Atas Puncak

Oleh Heni Maulidya June 28, 2026 2 weeks lalu 0 komentar

Gunung Semeru, salah satu gunung berapi paling aktif dan puncak tertinggi di Pulau Jawa, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkaniknya pada Minggu (28/6/2026). Letusan yang terjadi pada siang hari itu memuntahkan kolom abu setinggi 1.000 meter di atas puncaknya, sebuah peristiwa yang menegaskan status Siaga (Level III) gunung tersebut yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian, dalam laporannya dari Lumajang, mengonfirmasi kejadian tersebut. Erupsi paling signifikan tercatat pada pukul 11.37 WIB, dengan kolom letusan mencapai ketinggian 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl). Visualisasi kolom abu menunjukkan warna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal, bergerak dominan ke arah tenggara dan selatan.

Aktivitas seismik selama erupsi tersebut juga terekam jelas di seismograf. Amplitudo maksimum tercatat sebesar 22 mm dengan durasi letusan selama 170 detik. Data ini memberikan gambaran teknis mengenai kekuatan dan karakteristik letusan yang terjadi. Kejadian ini menambah daftar panjang riwayat aktivitas Semeru yang memang dikenal sering erupsi eksplosif.

Pada hari yang sama, Gunung Semeru tercatat mengalami serangkaian erupsi yang menunjukkan peningkatan intensitas. Sebelum letusan siang hari yang paling tinggi, telah terjadi tiga erupsi lainnya. Erupsi pertama terjadi pada pukul 05.35 WIB, meskipun visual letusan tidak teramati, namun terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 18 mm dan durasi 108 detik.

Selanjutnya, pada pukul 06.32 WIB, Semeru kembali erupsi dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 500 meter di atas puncak. Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal terlihat mengarah ke barat laut. Erupsi kedua ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 129 detik, menunjukkan pola yang konsisten dengan aktivitas sebelumnya.

Erupsi ketiga terjadi pada pukul 09.11 WIB, di mana visual letusan kembali tidak teramati. Namun, alat seismograf berhasil merekam aktivitas tersebut dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi yang lebih panjang, yakni 203 detik. Pola erupsi yang berulang dalam rentang waktu singkat ini mengindikasikan tekanan internal yang terus-menerus di dalam tubuh gunung.

Status Level III (Siaga) yang ditetapkan untuk Gunung Semeru bukan tanpa alasan. Status ini berarti potensi bahaya letusan dapat mengancam permukiman di sekitar lereng gunung, terutama dari aliran awan panas dan lahar. Oleh karena itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan rekomendasi ketat bagi masyarakat sekitar.

Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, dengan radius aman sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi. Batasan ini diberlakukan untuk meminimalkan risiko terpapar material vulkanik yang diluncurkan saat erupsi. Area ini merupakan jalur utama aliran material panas saat terjadi letusan besar.

Selain itu, rekomendasi juga mencakup larangan beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Pembatasan ini sangat krusial mengingat potensi perluasan awan panas dan aliran lahar dingin yang bisa mencapai jarak hingga 17 kilometer dari puncak gunung. Awan panas dan lahar merupakan ancaman serius yang dapat menyapu bersih area yang dilaluinya.

Aktivitas Gunung Semeru selalu menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan otoritas kebencanaan. Mengingat karakter Semeru yang eksplosif dan seringkali meluncurkan awan panas guguran, mitigasi bencana dan edukasi masyarakat menjadi kunci utama dalam upaya pengurangan risiko bencana. Pemantauan intensif terus dilakukan oleh petugas di Pos Pengamatan Gunung Semeru.

Peningkatan aktivitas vulkanik Semeru pada Minggu ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pihak akan potensi bahaya yang selalu mengintai. Kepatuhan terhadap setiap rekomendasi dan peringatan dari pihak berwenang adalah langkah paling efektif untuk menjaga keselamatan jiwa dan meminimalkan dampak buruk dari bencana alam.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait