Harga minyak dunia dilaporkan mendekati angka 100 dolar AS per barel menyusul meningkatnya aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan ini dipicu oleh serangan rudal Iran terhadap sebuah pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania, yang kemudian dibalas dengan serangan udara AS terhadap kapal tanker minyak Iran.
Insiden ini menandai eskalasi terbaru dalam serangkaian tindakan balasan yang telah berlangsung. Militer AS mengumumkan pada Jumat, 2 Februari 2024, bahwa mereka melancarkan serangan terhadap kapal tanker minyak Iran di Teluk Persia. Juru Bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Mayor Jenderal Patrick Ryder, menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan respons terhadap tindakan Iran yang mengancam navigasi maritim dan kepentingan AS.
Sebelumnya, pada hari Kamis, 1 Februari 2024, Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal yang menargetkan sebuah pangkalan militer AS di Yordania. Serangan ini menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah yang telah bergejolak.
Serangan balasan AS terhadap kapal tanker minyak Iran ini bukan kali pertama terjadi. Pentagon sebelumnya telah melakukan serangan serupa terhadap kapal tanker yang diduga terkait dengan Iran. Tindakan-tindakan ini mencerminkan upaya AS untuk mencegah Iran dan kelompok-kelompok yang didukungnya untuk terus mengancam keamanan di jalur pelayaran strategis.
Dampak dari eskalasi ini sangat terasa di pasar energi global. Kenaikan harga minyak mentah mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan dari salah satu produsen minyak terbesar di dunia. Situasi ini juga menambah ketidakpastian di Timur Tengah, yang merupakan jantung dari produksi minyak global.
Pihak Iran belum memberikan pernyataan resmi mengenai serangan balasan AS terhadap kapal tanker mereka. Namun, eskalasi ini diprediksi akan semakin memperburuk hubungan diplomatik antara kedua negara dan berpotensi memicu respons lebih lanjut dari Teheran.
