Gunung Lewotolok di Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menunjukkan aktivitasnya dengan meluncurkan lava dingin dan batu vulkanik yang mengarah ke permukiman warga. Peristiwa ini terjadi pada Senin, 8 September, memicu kekhawatiran bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kaki gunung berapi tersebut.
Aliran material vulkanik yang membahayakan ini dilaporkan bergerak mendekati beberapa desa yang berada di lereng Gunung Lewotolok. Kejadian ini bukan kali pertama, namun tetap menimbulkan kewaspadaan tinggi dari pihak berwenang dan masyarakat setempat.
Pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah merilis informasi mengenai perkembangan situasi ini. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa erupsi Gunung Lewotolok pada Senin (08/09) pukul 10.00 WIB menghasilkan kolom abu vulkanik dengan ketinggian mencapai 800 meter di atas puncak. Kolom abu tersebut teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal, condong ke arah barat laut.
Lebih lanjut, Abdul Muhari menjelaskan bahwa abu vulkanik yang dikeluarkan oleh Gunung Lewotolok teramati dengan ketinggian mencapai 800 meter di atas puncak. “Erupsi Gunung Lewotolok pada Senin (08/09) pukul 10.00 WIB tercatat di seismograf dengan amplitudo maksimum 30 mm dan durasi kurang lebih 1 menit 41 detik,” ungkapnya dalam keterangan tertulis.
Selain kolom abu, teramati pula lontaran batu vulkanik pijar yang meluncur ke arah tenggara. “Jarak luncur lontaran batu vulkanik pijar tersebut ± 200 meter dari puncak,” imbuh Abdul Muhari. Material panas ini menjadi ancaman langsung bagi area yang berdekatan dengan zona merah.
Meskipun demikian, Gunung Lewotolok saat ini berada pada status Level III atau Siaga. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). PVMBG merekomendasikan agar masyarakat di sekitar Gunung Lewotolok dan pengunjung/wisatawan tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 kilometer dari puncak gunung.
Selain itu, masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah Desa Lamawolo, Desa Latowaru, Desa Amakila, Desa Makal, dan Desa Jontona juga diminta untuk selalu waspada terhadap potensi ancaman bahaya susulan, terutama terkait dengan luncuran lava dingin dan guguran batu vulkanik.
