Lagu anak-anak pernah menjadi penanda tak terpisahkan dari masa kecil setiap generasi di Indonesia, membentuk karakter dan menanamkan nilai-nilai luhur melalui melodi sederhana. Namun, di tengah hiruk pikuk konten digital yang didominasi musik dewasa, eksistensi lagu anak kian tergerus, membuat anak-anak kehilangan media ekspresi yang sesuai usia mereka. Merespons kondisi ini, Kementerian Kebudayaan secara konsisten menggelar program Kita Cinta Lagu Anak (KILA), yang tahun ini memasuki edisi KILA 2026, sebagai upaya nyata untuk menghidupkan kembali ekosistem musik anak di Tanah Air.
Program KILA, yang telah rutin diselenggarakan sejak tahun 2020, hadir sebagai wadah strategis untuk memperkuat fondasi lagu anak Indonesia. Tujuannya tak lain adalah mendorong lahirnya karya-karya baru yang relevan dengan kehidupan anak-anak masa kini, sekaligus memastikan warisan budaya ini terus lestari. Inisiatif pemerintah ini menjadi krusial di tengah minimnya pilihan lagu yang edukatif dan menghibur bagi anak-anak, yang kini lebih banyak terpapar musik orang dewasa melalui berbagai platform digital.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menegaskan bahwa lagu anak bukan sekadar hiburan semata, melainkan instrumen penting untuk membentuk karakter bangsa. Melalui lirik dan melodi, lagu anak memiliki kekuatan untuk menanamkan nilai-nilai positif, membangun rasa percaya diri, menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, serta memperkenalkan budaya Indonesia sejak dini. Hal ini, menurut Fadli, merupakan bagian integral dari upaya lebih besar untuk membangun ekosistem seni budaya yang berkelanjutan.
"Kita Cinta Lagu Anak yang terus hadir secara berkelanjutan sebagai wadah kreativitas masyarakat dan anak-anak Indonesia," ujar Fadli Zon dalam keterangan persnya pada Sabtu (27/6/2026). Ia menambahkan seruan kepada seluruh elemen masyarakat untuk berani berkarya, berani bernyanyi, dan berani menunjukkan bakat terbaik mereka melalui ajang KILA 2026. Pesan ini menekankan pentingnya partisipasi kolektif dalam menjaga keberlangsungan lagu anak sebagai penuntun moral dan etika.
Direktur Film, Musik, dan Seni di Kementerian Kebudayaan, Irini Dewi Wanti, menjelaskan fokus KILA 2026. Tahun ini, program tersebut mengusung semangat untuk menghadirkan lebih banyak karya lagu anak yang relevan dengan kehidupan anak Indonesia di era modern, sekaligus membuka ruang seluas-luasnya bagi talenta-talenta muda dari seluruh pelosok negeri. Harapannya, akan muncul bibit-bibit baru yang mampu menciptakan dan membawakan lagu anak dengan pesan-pesan yang kontekstual dan mendidik.
Pendaftaran untuk KILA 2026 telah dibuka sejak 22 Juni dan akan berlangsung hingga 31 Agustus 2026. Program ini menawarkan dua kategori utama, yaitu lomba cipta lagu anak dan lomba menyanyi lagu anak, memberikan kesempatan bagi pencipta maupun penyanyi cilik untuk menunjukkan kemampuannya. Untuk kategori lomba cipta lagu anak, KILA 2026 mengangkat tema inspiratif "Bumiku Ceria, Masa Depanku Bahagia". Tema ini diharapkan mampu melahirkan lagu-lagu yang tidak hanya mengenalkan budaya bangsa berbudi luhur, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta terhadap alam Indonesia, disesuaikan dengan usia dan pemahaman anak.
Selain kompetisi utama, KILA 2026 juga dirancang dengan rangkaian kegiatan komprehensif untuk memperluas jangkauan lagu anak kepada masyarakat luas. Ini mencakup kampanye digital yang masif, produksi video musik berkualitas, serta penampilan para duta KILA yang akan menjadi representasi semangat program ini. Setelah masa pendaftaran, proses akan dilanjutkan dengan tahapan kurasi dan audisi ketat, sebelum puncaknya pada Grand Final dan Pentas KILA 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 18 September 2026.
Irini Dewi Wanti kembali menegaskan bahwa anak-anak Indonesia harus terus didorong untuk berani berekspresi melalui musik dan lagu. Menurutnya, KILA merupakan wadah vital yang tidak hanya melahirkan lagu dan karya musik anak berkualitas, tetapi juga mendorong regenerasi penyanyi anak Indonesia yang berbakat. "Program KILA merupakan salah satu upaya untuk menjawab masih terbatasnya produksi dan apresiasi terhadap lagu anak Indonesia. Padahal, anak-anak kita membutuhkan lagu yang sesuai dengan tahap tumbuh kembangnya," kata Irini, menggarisbawahi urgensi program ini.
Pentingnya musik dalam perkembangan anak juga didukung oleh berbagai penelitian ilmiah. Misalnya, studi yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology pada tahun 2018 oleh David Knott dan Michael H Thaut, peneliti dari Fakultas Akademik Universitas Negeri Colorado, menunjukkan manfaat positif musik dan bernyanyi terhadap perkembangan kognitif anak. Penelitian tersebut mengemukakan bahwa mendengarkan lagu berirama yang sesuai dengan usia terbukti dapat meningkatkan kemampuan memahami kosakata baru, meningkatkan fungsi memori verbal, dan mengoptimalkan memori kerja pada anak.
"Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan memori verbal menggunakan mnemonik musik memiliki efek yang nyata daripada daya ingat keseluruhan dan daya ingat urutan kata berurutan, serta lebih unggul daripada pelatihan memori verbal dengan kata-kata yang diucapkan," jelas David Knott, dikutip dari frontiersin.org. Temuan ini semakin memperkuat argumen bahwa lagu anak bukan sekadar hiburan, melainkan alat pendidikan yang efektif.
Sejalan dengan itu, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) dalam Framework for Culture and Arts Education (2024) juga merekomendasikan agar anak-anak dikenalkan dengan lagu anak sejak dini sesuai dengan usia mereka. Keterlibatan anak dalam aktivitas musik, menurut UNESCO, dapat meningkatkan perkembangan bahasa, kemampuan sosial-emosional, kreativitas, dan keterampilan berpikir. Musik juga berperan penting dalam membantu anak belajar mengenali pola, mengingat informasi, dan mengekspresikan emosi secara sehat, menjadi landasan penting bagi tumbuh kembang mereka.
Di tengah derasnya arus konten digital yang didominasi musik populer untuk orang dewasa, tantangan terbesar bagi KILA dan seluruh pihak terkait bukan hanya sekadar menciptakan lagu anak baru. Lebih dari itu, yang tidak kalah penting adalah memastikan lagu-lagu tersebut benar-benar didengar, dinyanyikan, dan menjadi bagian integral dari keseharian anak Indonesia. Upaya kolektif dari pemerintah, pegiat seni, orang tua, dan masyarakat luas diperlukan untuk mengembalikan kejayaan lagu anak, memastikan harmoni masa kecil terus terdengar dan membentuk generasi penerus bangsa yang berkarakter.











