Serie A musim ini mulai menunjukkan peta persaingan yang jelas setelah serangkaian pertandingan krusial. Inter Milan mengukuhkan posisinya di puncak klasemen usai meraih kemenangan dramatis, sementara Juventus dan AC Milan harus menghadapi kenyataan pahit terkait kelemahan yang masih tersisa meski telah berinvestasi besar di bursa transfer musim panas.
Pertandingan bertajuk “scontri diretti” atau bentrokan langsung antar tim papan atas, kembali menjadi sorotan. Istilah ini merujuk pada laga-laga krusial yang berpotensi menentukan nasib tim di akhir musim, mirip dengan “six-pointers” dalam sepak bola Inggris. Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu, merasakan langsung tensi tinggi dalam laga-laga tersebut.
Musim lalu, Inter Milan berhasil mengakhiri Serie A dengan keunggulan 11 poin di bawah asuhan Chivu. Namun, performa tim di beberapa “scontri diretti” sempat menuai kritik. Tercatat, Inter Milan menelan empat kekalahan dari enam pertandingan melawan Napoli, AC Milan, dan Juventus. Satu-satunya kemenangan diraih saat menjamu Juventus, yang kontroversial karena Alessandro Bastoni dianggap berhasil mengecoh wasit sehingga Pierre Kalulu mendapatkan kartu merah.
Sementara itu, hasil imbang tanpa gol di Turin antara Juventus dan AC Milan dalam laga yang berlangsung datar, menyoroti masalah konsistensi yang masih membelit kedua tim. Juventus, yang dijagokan untuk bersaing di papan atas, kembali menunjukkan kesulitan dalam menciptakan peluang berbahaya. Begitu pula dengan AC Milan, yang meskipun memiliki lini serang yang mumpuni, kerap kali kesulitan membongkar pertahanan lawan yang terorganisir.
Performa kedua tim di “scontri diretti” ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi para pelatih. Investasi besar yang telah dikeluarkan di bursa transfer tampaknya belum sepenuhnya mampu menutupi kekurangan fundamental yang masih ada. Kegagalan meraih poin penuh dalam laga-laga krusial seperti ini dapat berakibat fatal pada perburuan gelar Serie A yang semakin memanas.
