Gunung Anak Krakatau (GAK) masih memiliki potensi untuk mengalami erupsi kembali secara alamiah. Hal ini diungkapkan oleh seorang ahli vulkanologi terkemuka, yang akrab disapa Mbah Rono. Menurutnya, aktivitas vulkanik di GAK merupakan bagian dari siklus alamiah yang kompleks dan belum sepenuhnya berakhir.
Mbah Rono menjelaskan bahwa meskipun status aktivitas GAK telah mengalami penurunan, bukan berarti ancaman erupsi telah sirna. Sebagai gunung berapi yang masih muda dan aktif, GAK secara inheren memiliki dinamika internal yang dapat memicu letusan. “Gunung Anak Krakatau itu kan masih muda, masih terus tumbuh dan berkembang. Secara alamiah, dia masih bisa erupsi lagi,” ujar Mbah Rono.
Lebih lanjut, Mbah Rono menekankan bahwa erupsi gunung berapi merupakan fenomena alam yang tidak dapat diprediksi secara pasti kapan akan terjadi dengan presisi waktu. Namun, berdasarkan pemahaman ilmiah mengenai perilaku vulkanik, potensi tersebut selalu ada. Ia menambahkan bahwa pemantauan terus-menerus oleh para ahli vulkanologi sangat krusial untuk mendeteksi perubahan aktivitas yang mungkin mengarah pada erupsi.
Pernyataan ini penting untuk menjadi perhatian publik, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah pesisir Selat Sunda. Meskipun potensi erupsi bersifat alamiah, kesiapsiagaan dan pemahaman mengenai risiko yang ada tetap menjadi prioritas utama. Informasi terkini mengenai status aktivitas GAK selalu dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan perlu terus diikuti.
Mbah Rono juga mengingatkan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau di masa lalu, seperti yang terjadi pada Desember 2018, menunjukkan bahwa letusan gunung ini bisa sangat dahsyat dan berdampak luas, termasuk memicu tsunami. Oleh karena itu, kewaspadaan dan kepatuhan terhadap rekomendasi dari pihak berwenang sangatlah penting demi keselamatan bersama.
