Di tengah ancaman kabut asap beracun yang menyelimuti Asia Tenggara, para relawan di Kalimantan, Indonesia, mempertaruhkan nyawa mereka untuk menjinakkan api yang membakar lahan gambut. Kebakaran ini tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga melepaskan simpanan karbon purba yang tersimpan di dalam gambut, menciptakan apa yang disebut sebagai ‘bom karbon’ yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan global.
Api yang menjalar di lahan gambut Kalimantan menjadi perhatian serius karena sifatnya yang unik. Berbeda dengan kebakaran hutan biasa, api di lahan gambut dapat terus membara di bawah permukaan tanah selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, mengonsumsi lapisan gambut yang kaya akan karbon. Ketika gambut ini terbakar, ia melepaskan sejumlah besar karbon dioksida (CO2) dan gas rumah kaca lainnya ke atmosfer, berkontribusi signifikan terhadap perubahan iklim.
Tim relawan, yang terdiri dari masyarakat lokal, petugas pemadam kebakaran, dan sukarelawan dari berbagai latar belakang, bekerja tanpa lelah dalam kondisi yang sangat berbahaya. Mereka menghadapi suhu tinggi, asap tebal yang mengancam kesehatan pernapasan, dan medan yang sulit dijangkau. Tugas mereka bukan hanya memadamkan api di permukaan, tetapi juga berusaha menahan api agar tidak merambat lebih dalam ke lapisan gambut.
Salah satu metode yang digunakan para relawan adalah dengan membuat sekat bakar (firebreak) untuk mengisolasi area yang terbakar. Mereka juga menggunakan teknik penyiraman air secara intensif, meskipun ini seringkali menjadi tantangan tersendiri di daerah yang sulit diakses air. Upaya ini sangat krusial untuk mencegah pelepasan karbon dalam jumlah besar yang tersimpan di dalam gambut selama ribuan tahun.
Dampak kebakaran lahan gambut ini meluas jauh melampaui batas wilayah Indonesia. Asap tebal yang dihasilkan telah menyebar ke negara-negara tetangga di Asia Tenggara, menyebabkan krisis kesehatan masyarakat dan mengganggu aktivitas ekonomi. Kualitas udara di berbagai kota di Malaysia, Singapura, dan bahkan sebagian Filipina dilaporkan memburuk secara drastis akibat kabut asap ini.
Pemerintah Indonesia sendiri telah berulang kali menyatakan komitmennya untuk mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan, termasuk yang terjadi di lahan gambut. Berbagai upaya pencegahan, penegakan hukum, dan restorasi lahan gambut terus dilakukan. Namun, skala masalah dan kondisi alam seringkali membuat penanganan kebakaran ini menjadi tugas yang sangat berat, yang sangat bergantung pada dedikasi para relawan di garis depan.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa jika kebakaran lahan gambut ini terus berlanjut, Indonesia berpotensi kehilangan simpanan karbon yang sangat besar, yang akan mempercepat laju pemanasan global. Oleh karena itu, perjuangan para relawan di Kalimantan bukan hanya sekadar memadamkan api, tetapi juga merupakan upaya krusial untuk melindungi iklim global dari ancaman ‘bom karbon’ yang terkubur di bawah permukaan tanah.
