Piala Dunia 2026 dan Sisi Lain Kecanggihan AI: Keringat Buruh Data di Balik Gemerlap Lapangan Hijau

Wibowo

Piala Dunia 2026 diproyeksikan akan menjadi turnamen sepak bola paling berteknologi tinggi dalam sejarah. Dengan 104 pertandingan yang tersebar di 16 kota dan diikuti oleh 48 tim nasional, ajang ini bukan lagi sekadar arena uji coba, melainkan sebuah demonstrasi masif penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk berbagai operasional utama, baik di dalam maupun di luar lapangan. Berbagai media internasional telah menggaungkan bahwa edisi kali ini akan menjadi etalase mutakhir dari inovasi AI dalam dunia olahraga.

Para ilmuwan olahraga kini memegang peran vital di sebagian besar klub dan tim nasional. Franco Impellizzeri, Ilmuwan Olahraga dari Universitas Teknologi Sydney, kepada Nature pada Kamis (11/6/2026), membenarkan bahwa mereka bertanggung jawab atas pengumpulan dan analisis data. Bahkan, banyak tim yang tidak memiliki peneliti resmi tetap memiliki staf dengan latar belakang ilmiah, sementara beberapa klub besar bahkan membentuk departemen ilmu data khusus.

Namun, di balik gemerlap teknologi dan analisis data yang canggih ini, tersimpan sebuah ironi. Ribuan pekerja data di berbagai belahan dunia, seperti India, Kamboja, dan Filipina, memainkan peran fundamental. Mereka adalah tulang punggung operasional teknologi AI yang seringkali tidak terlihat. Laporan investigasi Rest of World pada Selasa (23/6/2026) mengungkapkan bagaimana sejumlah tim sepak bola kini sangat bergantung pada vendor data, yang pekerjanya secara khusus melacak setiap pergerakan pemain dan mengubah rekaman video mentah menjadi data terstruktur yang siap pakai.

Rafael Grohmann, Asisten Profesor Kajian Media di Universitas Toronto Kanada, menjelaskan bahwa ketergantungan sepak bola pada pekerjaan semacam ini sebenarnya sudah ada jauh sebelum era AI booming. Namun, rantai pekerjaan data di industri ini menunjukkan ketimpangan yang mencolok. Ia menggarisbawahi bahwa pekerjaan analisis data bernilai tinggi cenderung terkonsentrasi di negara-negara maju, sementara pekerjaan anotasi data justru banyak dilakukan di kota-kota di Eropa Timur, Afrika, Asia Selatan, dan Asia Tenggara.

Anotasi data sendiri adalah proses memberikan label, penandaan, atau konteks pada data mentah, bisa berupa teks, gambar, audio, atau video. Tujuannya sangat krusial: agar data tersebut dapat dipahami oleh sistem dan kemudian digunakan untuk melatih AI menjadi lebih cerdas dan akurat. Tanpa anotasi yang tepat, AI tidak akan bisa belajar dan beroperasi sesuai harapan.

Menurut laporan Rest of World, para pekerja anotasi data ini seringkali adalah individu yang memiliki pemahaman mendalam tentang sepak bola, bahkan beberapa di antaranya adalah mantan pemain. Mereka tersebar di kota-kota seperti Manila (Filipina), Kairo (Mesir), Chennai (India), dan Ternopil (Ukraina). Sebagian besar bekerja sebagai kontraktor independen yang dibayar per pertandingan. Satu pertandingan saja bisa memakan waktu 3 hingga 4 jam kerja untuk mencatat setiap operan, tekel, hingga tembakan bola menjadi serangkaian data terstruktur.

Ribuan pekerja manusia masih menjadi garda terdepan dalam proses anotasi manual ini. Mereka menonton rekaman pertandingan frame demi frame, memberikan label pada setiap aksi yang terjadi. Data yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan strategis: mulai dari analisis performa tim dan individu pemain, penyiaran pertandingan, melatih algoritma AI, pembuatan statistik secara langsung, hingga memenuhi kebutuhan industri taruhan olahraga yang bernilai miliaran dolar. Akurasi data menjadi sangat krusial dalam setiap proses ini. Kesalahan kecil dalam anotasi dapat berdampak besar pada keputusan taktik tim atau prediksi algoritma yang digunakan.

Seorang pemain liga sepak bola Filipina, yang identitasnya dirahasiakan karena tidak berwenang berbicara kepada media, berbagi pengalamannya bekerja sebagai anotasi data selama sekitar satu tahun di Packing Sports, unit berbasis Manila dari perusahaan analisis data Jerman Impect. Pekerjaan ini menjadi sumber penghasilan tambahan baginya. Ia bertugas menonton pertandingan liga-liga Eropa dan menandai setiap operan, tembakan, tekel, serta aksi penting lainnya. Saat turnamen besar seperti Piala Dunia FIFA atau UEFA Euro berlangsung, beban kerja melonjak drastis karena permintaan data cepat dari tim, analis, dan media juga meningkat. Menariknya, pekerjaan ini juga memberinya pemahaman taktis dunia sepak bola yang lebih mendalam dari sudut pandang yang berbeda.

Ironisnya, para pekerja data yang menopang industri bernilai miliaran dolar AS ini seringkali dibayar relatif rendah. Beberapa pekerja yang diwawancarai Rest of World mengungkapkan bahwa upah untuk satu pertandingan umumnya di bawah 100 dolar AS. Jumlah ini bervariasi tergantung vendor, kompleksitas pertandingan, dan tingkat pengalaman pekerja. Untuk pertandingan berskala besar seperti Piala Dunia, tekanan kerja jauh lebih tinggi karena data harus tersedia hampir secara real time. Beberapa perusahaan bahkan menerapkan target kecepatan dan akurasi yang sangat ketat, menuntut para anotator data untuk memproses informasi dengan presisi tinggi di bawah tenggat waktu yang sempit.

Adam, seorang pekerja anotasi data di Rio de Janeiro, Brasil, kepada Rest of World, menceritakan pengalamannya. "Untuk setiap pertandingan, saya dibayar sekitar 60 euro (sekitar 70 dollar AS) ditambah biaya transportasi. Data harus dikirim cepat. Jika terlambat mengirim data, saya berisiko kehilangan sebagian atau seluruh bayaran," ujarnya, menggambarkan tekanan yang mereka hadapi.

Persoalan pekerja anotasi data ini bukanlah hal baru yang muncul bersama Piala Dunia 2026. Sebelum ajang tersebut, kisah mereka telah banyak menjadi sorotan media dan akademisi. Mereka dikenal bekerja dengan tenggat waktu yang ketat, menguras tenaga, namun diupah rendah, padahal kontribusi mereka menopang industri AI global yang bernilai miliaran dolar AS.

Pada tahun 2024, sejumlah mahasiswa lintas disiplin ilmu yang tergabung dalam Stanford Institute for Human-Centered Artificial Intelligence (HAI) Universitas Stanford meneliti tantangan etis yang dihadapi para pekerja anotasi data. Studi mereka menyoroti bagaimana banyak pekerja ini beroperasi tanpa transparansi memadai mengenai jenis tugas yang akan mereka terima. Mereka bekerja tanpa perlindungan psikologis, terutama ketika harus menangani konten yang berpotensi beracun atau traumatis, dan sering kali dengan upah yang tidak sepadan.

Para peneliti Stanford HAI bahkan bertemu dengan perwakilan Scale AI, perusahaan berbasis di San Francisco yang menyediakan data berlabel untuk melatih AI, serta anggota Turkopticon, organisasi nirlaba yang mendukung pekerja anotasi data di crowdsourcing Mechanical Turk milik Amazon. James Muldoon, salah satu penulis buku Feeding the Machine, dikutip dari CBC, menyebut fenomena ini sebagai "kerja paksa digital". Ia menjelaskan bahwa pekerja anotasi data banyak ditemui mulai dari Filipina hingga Kenya, di mana mereka pada dasarnya mengubah kumpulan data menjadi produk yang dapat digunakan oleh AI. Muldoon menambahkan bahwa banyak dari para pekerja ini memiliki ambisi untuk bekerja di sektor teknologi secara lebih bermakna, namun justru terjebak dalam tugas-tugas yang "sangat membosankan dan melelahkan."

Merespons dinamika ini, Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), I Dewa Gede Karma Wisana, pada Sabtu (27/6/2026), di Jakarta, menyampaikan bahwa Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) telah resmi mengadopsi Konvensi tentang Pekerjaan Layak dalam Ekonomi Platform Tahun 2026. Semangat konvensi ini adalah mendorong formalisasi ekonomi platform yang selama ini banyak beroperasi di wilayah abu-abu antara sektor formal dan informal. Wisana menekankan bahwa ini bukan berarti semua pekerja platform harus menjadi karyawan, melainkan memastikan bahwa mereka diakui, terlindungi, dan memiliki akses terhadap hak-hak dasar ketenagakerjaan dan perlindungan sosial.

"Kita perlu hati-hati menjustifikasi ruang lingkup formal-informal untuk pekerja platform yang fitur unggulannya adalah pekerjaan fleksibel. Konvensi itu bisa dibilang selangkah lebih maju karena pengakuan pekerja platform, seperti anotasi data, sudah mulai dicakup untuk ranah lintas negara," ucap Wisana, menyoroti kemajuan dalam perlindungan lintas batas untuk pekerja seperti para anotator data.

Pada akhirnya, kesuksesan pertandingan sepak bola di ajang Piala Dunia 2026 yang kita saksikan saat ini, dengan segala kecanggihan teknologi dan analisis datanya, harus diakui berkat kerja keras para pekerja anotasi data. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang dengan keringat dan ketelitian mereka, menopang seluruh ekosistem AI dan analisis yang membuat turnamen ini berjalan mulus, bukan hanya berkat para pemain tim dari masing-masing negara. Pengakuan dan perlindungan hak-hak mereka menjadi agenda penting di tengah perkembangan pesat teknologi ini.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All