Saturday, 5 September 2026
BREAKING
BERITA

Letusan Purba Samalas Ubah Lanskap dan Kehidupan Bali Kuno

Oleh Emanuel September 5, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Sebuah penelitian terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap jejak dahsyat letusan Gunung Samalas di Lombok pada masa lampau. Erupsi kolosal yang terjadi sekitar abad ke-13 ini tidak hanya mengubah lanskap Pulau Lombok, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat di Bali Kuno. Temuan ini memberikan perspektif baru mengenai bencana alam dan adaptasi manusia di Nusantara.

Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Agus Budianto ini menganalisis berbagai data, termasuk temuan arkeologis dan geologis, untuk merekonstruksi skala dan dampak letusan tersebut. Gunung Samalas, yang kini dikenal sebagai Gunung Rinjani, pada masanya merupakan salah satu gunung berapi paling aktif dan dahsyat di Indonesia. Letusannya diperkirakan menghasilkan material vulkanik dalam jumlah masif yang terlempar hingga ke wilayah Bali dan bahkan sebagian Pulau Jawa.

Secara spesifik, penelitian BRIN mengindikasikan bahwa abu vulkanik dari letusan Samalas menyelimuti sebagian besar wilayah Bali. Keberadaan lapisan abu ini terdeteksi dalam berbagai situs arkeologi di Bali, menjadi bukti fisik dari peristiwa alam tersebut. Lapisan abu ini bukan hanya menjadi penanda waktu geologis, tetapi juga diduga memengaruhi pola pertanian dan permukiman masyarakat Bali Kuno.

Agus Budianto menjelaskan, “Analisis kami menunjukkan bahwa abu vulkanik Samalas tersebar luas, bahkan mencapai daerah yang cukup jauh dari Lombok. Ini menunjukkan skala erupsi yang luar biasa besar. Dampaknya terhadap lingkungan di Bali pada saat itu tentu sangat terasa.” Ia menambahkan bahwa keberadaan abu vulkanik ini dapat memicu perubahan ekosistem dan ketersediaan sumber daya alam.

Lebih lanjut, penelitian ini juga menduga bahwa letusan Samalas turut berkontribusi pada perubahan sosial dan ekonomi di Bali Kuno. Keterbatasan lahan subur akibat timbunan abu mungkin memaksa masyarakat untuk melakukan migrasi atau mengembangkan sistem pertanian yang lebih adaptif. “Kita perlu melihat ini sebagai bagian dari dinamika sejarah yang kompleks. Bencana alam seringkali menjadi katalisator perubahan besar dalam peradaban manusia,” ujar Agus Budianto.

Temuan ini membuka pintu untuk penelitian lebih lanjut mengenai interaksi antara bencana alam dan perkembangan peradaban di Indonesia. Pemahaman mendalam tentang peristiwa letusan Samalas tidak hanya memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat memberikan pelajaran berharga bagi upaya mitigasi bencana di masa kini dan mendatang, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah vulkanik aktif.

Bagikan: Facebook X WhatsApp