Filipina tengah dilanda krisis listrik yang serius, memaksa operator jaringan transmisi National Grid Corporation of the Philippines (NGCP) mengeluarkan peringatan siaga merah dan kuning untuk wilayah Visayas dan Mindanao. Kondisi ini dipicu oleh lonjakan tajam dalam permintaan listrik, diperparah dengan matinya puluhan pembangkit listrik.
Situasi darurat ini berdampak langsung pada pasokan listrik di dua wilayah utama Filipina tersebut. Peringatan siaga merah menandakan bahwa pasokan listrik sangat tidak mencukupi untuk memenuhi permintaan, sementara siaga kuning menunjukkan bahwa kapasitas pasokan mendekati titik kritis.
Penyebab utama krisis ini adalah kombinasi antara peningkatan kebutuhan energi dan hilangnya kapasitas pembangkit. Data dari NGCP per 28 Mei 2024 mencatat sedikitnya 24 pembangkit listrik mengalami pemadaman. Rinciannya, 18 pembangkit beroperasi di bawah kapasitas normal, dan 6 pembangkit lainnya mati total.
Kondisi ini menyebabkan defisit pasokan yang signifikan. Kekurangan daya diperkirakan mencapai 722 megawatt (MW) pada jam puncak di Visayas, sementara di Mindanao defisitnya lebih besar lagi, yaitu 1.100 MW. Angka-angka ini menunjukkan betapa gentingnya situasi pasokan listrik di kedua wilayah tersebut.
Menanggapi situasi ini, NGCP telah mengaktifkan prosedur darurat untuk meminimalkan dampak pemadaman yang lebih luas. Perusahaan juga terus berupaya memulihkan pembangkit-pembangkit yang bermasalah untuk meningkatkan pasokan.
Meskipun demikian, masyarakat di Visayas dan Mindanao diimbau untuk bersiap menghadapi kemungkinan pemadaman bergilir. Krisis listrik ini menjadi pengingat akan kerentanan infrastruktur energi Filipina dalam menghadapi fluktuasi permintaan dan masalah operasional pembangkit.
