Manajer Crystal Palace, Pierre Sage, merasakan campur aduk emosi pasca jendela transfer yang penuh gejolak. Kekalahan di laga awal musim melawan Everton dan Manchester City, ditambah ketidakpastian masa depan pemain kunci, menambah beban Sage yang mengambil alih kursi kepelatihan usai era Oliver Glasner yang sukses.
Meskipun frustrasi karena gagal mendatangkan target bek dan kalah dalam perebutan pemain di hari terakhir bursa transfer, Sage tetap bisa menarik sisi positif. Ia kini dapat fokus penuh pada pertandingan di lapangan, terutama menjelang lawatan ke markas Fulham pada hari Sabtu.
Sage, yang bergabung dengan Crystal Palace pada bulan Juni, telah melakukan risetnya dengan cermat. Namun, transisi menjadi manajer klub yang baru saja meraih kesuksesan di Conference League ternyata tidak berjalan mulus. Kekalahan di dua laga awal musim menambah daftar tantangan yang dihadapinya.
Beberapa pemain kunci seperti Ismaïla Sarr dan Jean-Philippe Mateta tetap bertahan di Selhurst Park meski diminati oleh Liverpool dan Aston Villa. Sementara itu, Palace berhasil mendatangkan empat pemain baru. Namun, mereka harus rela kehilangan Malick Fofana yang berlabuh ke Sunderland, menjadi salah satu cerita dramatis di hari terakhir jendela transfer.
Meskipun menghadapi jendela transfer pertamanya yang penuh kekacauan khas London Selatan, Sage bersikap tenang. Ia merasa lega karena kini dapat sepenuhnya berkonsentrasi pada jalannya pertandingan di lapangan, sebelum timnya menghadapi Fulham di laga tandang.
