Kekeringan yang melanda sejumlah sungai utama di Kalimantan, termasuk Sungai Kapuas, mulai menunjukkan dampak serius bagi sektor pertambangan batu bara. Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) mengungkapkan keprihatinan atas situasi ini, yang berpotensi mengganggu kelancaran operasional dan logistik bisnis batu bara di wilayah tersebut.
Ketua Umum APBI, Werry Prayogo, menjelaskan bahwa kekeringan telah menyebabkan penurunan drastis pada kedalaman air sungai. “Kondisi ini sangat berdampak pada transportasi batu bara yang sebagian besar masih mengandalkan jalur sungai,” ujarnya dalam keterangan pers pada Senin (11/9/2023).
Sungai Kapuas, yang merupakan salah satu urat nadi transportasi utama di Kalimantan Barat, kini mengalami pendangkalan yang signifikan. Hal ini membuat kapal-kapal tongkang pengangkut batu bara kesulitan untuk berlayar. “Dulu kapal tongkang bisa muat 7.000 ton, sekarang mungkin hanya setengahnya atau bahkan kurang,” kata Werry.
Lebih lanjut, Werry menguraikan bahwa penurunan kapasitas angkut ini secara langsung meningkatkan biaya operasional. Perusahaan terpaksa melakukan pengiriman dalam jumlah yang lebih sedikit namun frekuensi yang lebih sering. “Ini tentu saja menambah biaya produksi dan efisiensi,” imbuhnya.
Kondisi ini juga berimbas pada waktu pengiriman yang menjadi lebih lama. Keterlambatan ini dapat memengaruhi jadwal pasokan batu bara ke pasar domestik maupun ekspor, yang berpotensi menimbulkan kerugian finansial bagi para pengusaha.
APBI berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah-langkah mitigasi untuk mengatasi masalah kekeringan ini. Upaya normalisasi sungai atau pencarian solusi alternatif untuk transportasi batu bara menjadi krusial agar sektor ini tidak terus tertekan. “Kami berharap ada solusi nyata dari pemerintah, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang,” tutup Werry.
