Sistem pendidikan di Indonesia kerap dinilai masih terlalu berorientasi pada pencapaian akademis semata. Sejak bangku sekolah dasar hingga jenjang perguruan tinggi, peserta didik dituntut untuk meraih nilai sempurna dan lulus tepat waktu, seringkali mengabaikan pentingnya kepekaan terhadap lingkungan sosial. Fenomena ini memunculkan kekhawatiran akan lahirnya generasi yang cemerlang secara intelektual namun minim empati terhadap realitas di sekitarnya.
Kondisi tersebut menjadi sorotan utama dalam acara penjurian Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026 yang berlangsung di Badung, Bali, pada Jumat (26/6/2026). Guru Besar IPB University, Ronny Rachman Noor, menegaskan bahwa mahasiswa yang selama bertahun-tahun hanya berkutat pada dunia akademis cenderung kehilangan naluri untuk peka terhadap lingkungan sekitar. "Yang selama ini hilang di dunia pendidikan itu banyak mahasiswa yang masuk ke dalam dunianya hanya untuk mengejar IPK. Sehingga, ketika diterjunkan ke masyarakat, kepeduliannya pada masyarakat menjadi hilang. Mereka seolah tidak peduli," ujar Ronny, menyoroti dampak jangka panjang dari fokus berlebihan pada IPK.
Padahal, nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi dan kelulusan tepat waktu, meski penting sebagai indikator capaian akademik, seharusnya tidak mengesampingkan pembentukan karakter dan kepekaan sosial. Ketika mahasiswa terbiasa hanya mengejar angka dan prestasi tanpa memahami dinamika sosial, mereka akan menjadi asing dengan realitas kehidupan nyata. Naluri untuk berempati dan peduli terhadap persoalan di sekitar tidak akan terbentuk secara optimal, menciptakan jurang antara kecerdasan kognitif dan kecerdasan emosional.
Ronny Rachman Noor lebih lanjut menekankan dua aspek mendesak yang perlu diperbaiki pada generasi muda saat ini: kepedulian sosial dan kemampuan berjejaring. Ia mengamati bahwa mahasiswa yang terlalu fokus pada nilai seringkali memandang sesama mahasiswa sebagai lawan atau saingan, bukan sebagai rekan kolaborasi. Akibatnya, solidaritas untuk saling membangun dan menguatkan tidak terbentuk, padahal daya saing untuk menjadi lebih baik dapat berjalan beriringan dengan semangat solidaritas.
Krisis Empati di Tengah Masyarakat Modern
Terkikisnya sikap solidaritas ini, menurut Ronny, dapat mencerminkan krisis empati yang semakin membesar di masyarakat. Jika tidak dibangun dengan baik sejak dini, kehidupan sosial yang kurang humanis bisa membahayakan masa depan bangsa. "Dia (mahasiswa) akan menjadi insan yang pandai, tapi tidak peka lingkungan dan tidak peduli. Itu berbahaya nantinya," kata Ronny, memperingatkan potensi lahirnya pemimpin masa depan yang cerdas namun abai terhadap penderitaan rakyat.
Kritik Ronny ini bahkan dikaitkan dengan fenomena para pejabat publik yang dinilai kian berjarak dari realitas masyarakat. Banyak warga yang terdampak kenaikan harga bahan pokok dan melemahnya nilai tukar rupiah, namun respons pemangku kebijakan kerap tidak mencerminkan empati terhadap kondisi tersebut. Kesenjangan ini menggarisbawahi urgensi pembentukan pemimpin yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kepekaan dan kepedulian yang mendalam.
Jurnalis senior Najwa Shihab, yang turut menjadi juri dalam Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026, senada dengan pemikiran Ronny. Ia menekankan pentingnya keterbukaan dan kepekaan dari generasi muda. Menurutnya, individu yang tidak terbuka cenderung defensif saat menerima kritik atau masukan. "Yang kurang hari-hari ini adalah orang yang tidak mau dan tidak bisa menerima perbedaan. Dikritik tidak mau, defensif terhadap idenya. Kita harus lebih menghargai dan terbuka terhadap masukan. Supaya ketika jadi pejabat nanti tidak sensi kalau didemo," tutur Najwa, mengaitkan sikap terbuka dengan kualitas kepemimpinan di masa depan.
Menggagas Solusi atas Keresahan Sosial
Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026 menjadi platform yang tepat untuk mendorong mahasiswa mengidentifikasi dan mencari solusi atas problematika sosial. Sebanyak 16 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia terpilih sebagai finalis dari 517 peserta. Mereka tidak hanya menulis esai, tetapi juga mempresentasikannya dan berdiskusi langsung dengan juri, termasuk Ronny Rachman Noor, Najwa Shihab, dan penerima Beswan Djarum 2005/2006 Gloria Tamba.
Salah satu contoh inspiratif datang dari Gabriella Sunsugos Sianturi (21) dari Universitas Udayana Bali, yang berhasil meraih juara pertama. Dalam esainya yang berjudul "Saat Sehat Menipu: Bagaimana Sistem Bisa Melindungi Disabilitas Tak Tampak?", Gabriella mengangkat hak-hak yang sering terabaikan bagi disabilitas yang tidak tampak secara fisik. Kelompok ini meliputi penderita autoimun, epilepsi, gangguan saraf, dan penyakit kardiovaskular, yang sering dinilai normal sehingga tidak mendapatkan prioritas di fasilitas umum.
Keresahan Gabriella berakar dari pengalaman pribadinya sebagai penyandang autoimun. Suatu kali, ia yang secara kasat mata terlihat sehat, harus memberikan tempat duduk kepada seorang ibu yang memintanya. "Meskipun sekilas terlihat baik-baik saja, kelelahan ekstrem, tremor, hingga jantung yang berdebar bisa saya rasakan. Dalam perjalanan itu yang menyadarkan saya, apakah dengan penampilan yang terlihat sehat akan tetap dipercaya bahwa saya seorang disabilitas?" ujarnya, menyuarakan dilema yang dialami banyak orang dengan disabilitas tak tampak.
Tidak berhenti pada identifikasi masalah, Gaby, sapaan akrabnya, menawarkan solusi konkret berupa kartu tambahan identitas bagi penyandang disabilitas tak tampak. Kartu ini dapat ditunjukkan saat mereka membutuhkan akomodasi atau pertolongan di ruang publik. Bersamaan dengan itu, ia juga mendorong penguatan edukasi melalui sosialisasi menyeluruh dari dinas terkait mengenai kondisi disabilitas, termasuk jenis nonfisik. "Saya harap tidak ada lagi orang yang mengalami pengalaman seperti saya di masa depan. Sistem yang inklusif perlu diciptakan untuk melihat orang-orang yang selama ini tidak tampak," harapnya, menunjukkan visi inklusif bagi masyarakat.
Keresahan lain diungkapkan oleh Rofiqoh Wahidah (20) dari Universitas Bengkulu, yang menulis esai berjudul "Di Balik Pintu Toilet Masjid, Sanitasi Belum Berpihak pada Perempuan". Esainya berangkat dari pengamatan dan pengalamannya tentang banyaknya toilet perempuan di masjid yang lantainya tergenang air, suatu kondisi yang sering dianggap wajar namun menimbulkan ketidaknyamanan dan berpotensi menjadi sumber penyakit.
Rofiqoh mengusulkan penerapan standar sanitasi ramah perempuan di setiap masjid. Standar ini dilengkapi indikator seperti ketersediaan pijakan kering, tempat sampah tertutup, evaluasi fungsi drainase yang baik, serta kualitas air yang memadai. "Cukuplah generasi saya sebagai korban terakhir yang merasakan keresahan ini. Anak perempuan yang akan datang tidak perlu mewarisi kompromi yang sama," ucap Rofiqoh, menyuarakan harapan akan perubahan nyata demi kenyamanan dan kesehatan kaum perempuan.
Membentuk Pemimpin Berwawasan dan Berkarakter
Najwa Shihab menyimpulkan bahwa ajang seperti ini sangat krusial untuk mendorong anak muda agar lebih peka terhadap persoalan di sekitar yang sering luput dari perhatian. Ia berharap keresahan ini tidak berhenti pada identifikasi masalah, melainkan juga berani menawarkan solusi yang konkret dan berbasis analisis kokoh. Melalui esai, anak muda diajak untuk belajar menyusun logika, menguji asumsi, mencari data yang tepat, dan mempertanggungjawabkan pendapat yang disampaikan.
"Karena dalam dunia akademis maupun ketika nanti menjadi pengambil kebijakan, ketelitian itu sama pentingnya dengan kreativitas. Jadi itu dua hal yang harus terus-menerus diseimbangkan," pungkas Najwa, menggarisbawahi pentingnya keseimbangan antara kecerdasan analitis dan kemampuan inovatif. Pembentukan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, empati mendalam, dan keberanian menawarkan solusi, akan menjadi fondasi kuat bagi kemajuan Indonesia di masa depan. Ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan humanis.











