Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap sasaran di Yaman pada Sabtu, 20 Januari 2024. Tindakan ini merupakan respons atas serangkaian serangan yang dilancarkan oleh kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap kapal komersial dan personel militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command) secara resmi menuduh Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap pelayaran komersial dan anggota militer Amerika Serikat yang ditugaskan di wilayah tersebut. Tuduhan ini menggarisbawahi eskalasi ketegangan antara kedua negara di Timur Tengah.
Serangan terbaru AS ini dilaporkan terjadi setelah serangkaian ledakan terdengar di Iran pada Jumat, 19 Januari 2024. Laporan media pemerintah Iran mengonfirmasi adanya ledakan tersebut, namun tidak merinci penyebab atau lokasi pasti kejadian. Detail mengenai ledakan di Iran ini masih simpang siur dan belum ada konfirmasi independen mengenai keterkaitan langsungnya dengan serangan AS.
Sebagai respons terhadap ancaman yang terus berlanjut, AS menegaskan komitmennya untuk melindungi kebebasan navigasi dan keamanan maritim. Juru bicara US Central Command menyatakan, “Kami akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk memastikan keamanan dan keselamatan personel kami serta ketersediaan jalur pelayaran internasional.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa AS siap untuk terus meningkatkan tekanan militer jika diperlukan.
Kelompok Houthi sendiri telah berulang kali menyatakan bahwa serangan mereka ditujukan untuk mendukung Palestina dan memprotes agresi Israel di Gaza. Namun, tindakan mereka telah menyebabkan gangguan signifikan terhadap perdagangan global dan menimbulkan kekhawatiran akan konflik yang lebih luas di kawasan tersebut. PBB dan berbagai negara telah menyerukan diakhirinya eskalasi dan mencari solusi diplomatik untuk meredakan ketegangan.
