Tuesday, 14 July 2026
BREAKING
HIBURAN

Zine Bangkit dari Tidur Panjang: Seniman Jepang Lawan Dominasi AI dengan Sentuhan Kertas Autentik

Oleh Wibowo July 14, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Di tengah hiruk pikuk era digital, geliat media cetak kembali terasa di Jepang. Fenomena ‘zine’, majalah independen buatan tangan, bangkit mewarnai lanskap kreatif Negeri Sakura. Para seniman muda seperti Kazuma Obara dan Akihiko Mori memilih jalan ini sebagai benteng pertahanan melawan dominasi kecerdasan buatan (AI) yang kian merambah dunia kreatif.

Di sebuah pabrik percetakan tua di Kyoto, Obara dan Mori takjub menyaksikan esai foto mereka bertransformasi menjadi lembaran kertas fisik. Suara mesin sabuk konveyor dan gesekan kertas menjadi simfoni yang mengiringi kelahiran karya mereka.

Akihiko Mori, penulis berusia 44 tahun, mengungkapkan bahwa kehangatan dan gairah pencipta terasa nyata saat memegang karya fisik. “Sentuhan manusiawi dalam zine takkan bisa ditiru AI,” ujarnya yakin.

Kazuma Obara, seorang fotografer, merasakan hal serupa. Tangannya yang menghitam oleh tinta menjadi bukti keterlibatan panca indera dalam proses penciptaan. Berbeda dengan media sosial yang terbatas layar gadget, zine menawarkan pengalaman yang lebih intim.

Obara dan Mori adalah bagian dari kelompok seniman yang memanfaatkan fasilitas mesin cetak Kyoto Shimbun. Surat kabar tersebut membuka pintu bagi seniman sebagai alternatif di tengah penurunan pelanggan koran.

Kyoto Shimbun Printing mencatat layanan cetak mereka diminati lintas generasi. Yoshihiko Okazaki dari pihak percetakan terkejut melihat zine beresonansi kuat dengan anak muda masa kini.

Di Indonesia, zine telah lama dikenal sebagai media alternatif, terutama komunitas punk. Kini, tren zine merambah ke dunia bisnis buku komersial.

Toko buku legendaris Sanseido di Jimbocho, Tokyo, menyediakan ruang khusus untuk zine. Mereka melihat zine menjaring pembaca baru dengan konten spesifik dan personal.

Masato Sugiura dari Sanseido menambahkan, generasi kini mencari sesuatu yang otentik. Zine menawarkan itu, menjauh dari kejenuhan konten arus utama.

Watashi Kishino, pembuat zine lainnya, berharap media fisik takkan punah. Ia percaya ada kehangatan dan kenyamanan yang hanya bisa diberikan kertas.

Jepang sendiri mengalami penurunan drastis industri media cetak. Penjualan buku dan majalah menyusut tajam sejak 1996. Data menunjukkan sirkulasi media cetak merosot dari 53,76 juta eksemplar pada 1997 menjadi kurang dari separuhnya di tahun 2025.

Kekhawatiran akan AI juga melanda penulis global. Studi di Inggris 2025 menyebut separuh novelis merasa terancam.

Namun, di tengah kecemasan itu, generasi muda menghidupkan kembali media cetak melalui tren zine. Pasar penerbitan independen Jepang diproyeksikan mencapai 150 miliar yen pada 2026, tumbuh hampir dua kali lipat dalam empat tahun.

Pameran zine di Tokyo menjadi agenda rutin yang dinanti, menarik antusiasme anak muda. Mereka mencari sudut pandang beragam di luar batasan algoritma AI.

Harumi Kikuchi, pengunjung 22 tahun, merasakan zine menawarkan kebebasan berpikir. Berbeda dengan AI yang membatasi, para pembuat zine menunjukkan kekayaan perspektif dunia.

Watashi Kishino menekankan pesona tak tergantikan benda fisik. Memegang karya seni secara langsung memberikan kepuasan batin yang unik.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait