Thomas Tuchel mengakui timnya menghadapi adaptasi sulit di Kota Meksiko. Namun, ia yakin Inggris siap "menulis babak baru" saat menghadapi tuan rumah Piala Dunia 2026, Meksiko, di Estadio Azteca. Laga babak 16 besar ini diprediksi paling dinanti.
Pertandingan melawan Meksiko di stadion legendaris ini menghadirkan tantangan unik. Inggris harus beradaptasi dengan ketinggian 2.240 meter di atas permukaan laut. Estadio Azteca menjadi saksi bisu kegagalan Meksiko sejak 2013. Tim Tiga Singa mendarat Jumat malam. Sesi latihan Sabtu sore menunjukkan pemain kesulitan menemukan ritme.
"Kami merasakannya bahkan tanpa latihan," ujar Tuchel. "Saya sendiri merasa sedikit pusing di hotel. Tidur pun kurang nyenyak. Namun, ini bukan masalah besar." Pemain juga merasakan dampaknya di menit awal latihan. Ketinggian memang mustahil diadaptasi secara fisik dalam waktu singkat. Namun, sehari sebelum laga memberi kesempatan untuk merasakan.
Tuchel tetap santai dan optimistis. Ia yakin Inggris mampu mengatasi momen bersejarah ini. Sejarah mencatat kekalahan Inggris dari Argentina pada 1986. Namun, kali ini motivasi untuk menang sangat besar.
"Kami tidak di sini untuk balas dendam. Itu tidak masuk akal," tegas Tuchel. "Kami di sini untuk menulis babak baru. Tim ini siap dan bersemangat."
Seluruh pemain Inggris, kecuali Reece James, berlatih di kompleks Universidad Nacional. Lokasi ini tersembunyi di tebing dan hanya bisa diakses melalui terowongan. Tuchel membuka kemungkinan James, yang cedera hamstring, masuk skuad cadangan. Namun, peluangnya kecil. Jarell Quansah, yang absen karena cedera pergelangan kaki, berlatih penuh dan siap diturunkan sebagai bek kanan.
Ketidakpastian jadwal laga melawan Meksiko sempat mewarnai persiapan. Sempat ada wacana laga dimajukan enam jam karena prakiraan badai. Namun, keputusan akhir tidak berubah. Tuchel menegaskan hal itu tidak mengganggu fokus timnya. "Ada sedikit kebingungan, tapi hanya bagi saya dan ofisial," katanya. Staf Inggris dikabarkan terkejut dengan potensi perubahan jadwal. "Tim mungkin tidak menyadarinya. Kami menjaga informasi ini dari pemain," tambah Tuchel.
Tuchel meremehkan sambutan kurang menyenangkan dari suporter Meksiko di hotel. Ia menyebut tuan rumah "sangat hormat dan emosional". Tindakan pengamanan ekstra telah dilakukan. Hal ini untuk mencegah gangguan tidur seperti yang dialami Ekuador. "Saya tidak ingin membahas masalah yang tidak ada," ujarnya.
Terkait rumor penggunaan Viagra untuk mengatasi altitude, Tuchel tertawa. "Informasi itu tidak sampai pada saya, itu tidak benar," jawabnya singkat.
Meksiko tampil dominan melawan Ekuador. Mereka menang 2-0 berkat serangan cepat. Tuchel memprediksi Meksiko akan kembali menampilkan intensitas tinggi. "Kami harus punya jawaban untuk itu. Tim ini mampu menemukan solusi," ujar Tuchel. "Saya yakin kami akan melakukannya besok." Laga ini adalah momen ikonik di panggung besar.
Pelatih Meksiko, Javier Aguirre, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan tim. "Semua pemain sadar akan posisi kita," kata Aguirre. "Mereka punya ponsel, jadi tahu euforia publik." Ia akan berusaha menenangkan pemain jika terlalu percaya diri.
Lebih dari 17.000 polisi dikerahkan di Meksiko City. Empat orang meninggal saat perayaan usai laga melawan Ekuador. Kekhawatiran keamanan meningkat.











