Insiden penembakan mengerikan terjadi di Montreal, Kanada, pada Senin siang, merenggut nyawa seorang petugas polisi, seorang warga sipil, dan pelaku bersenjata. Peristiwa tragis ini mengguncang kota metropolitan yang dikenal damai tersebut, meninggalkan luka mendalam dan pertanyaan mengenai motif di baliknya.
Kejadian bermula di kawasan Côte-des-Neiges, salah satu wilayah paling beragam dan padat penduduk di Montreal. Menurut keterangan dari pihak kepolisian, pelaku pria tak dikenal yang diduga bertindak seorang diri, tewas seketika di lokasi kejadian setelah dilumpuhkan oleh petugas. Selain korban tewas, satu petugas polisi lainnya mengalami luka berat namun dilaporkan dalam kondisi stabil. Saksi mata di lokasi kejadian sempat mendengar suara tembakan dan melihat senjata keluar dari jendela, yang kemudian segera dilaporkan kepada pihak berwenang.
Menteri Keamanan Publik Quebec, Ian Lafrenière, menyatakan bahwa motif di balik aksi keji ini masih belum jelas. "Untuk saat ini, kami belum benar-benar mengetahui apa motif individu ini," ujarnya kepada AFP. Insiden ini merupakan pukulan telak bagi kepolisian Montreal, menandai pertama kalinya seorang petugas polisi kota itu gugur dalam menjalankan tugas setelah hampir seperempat abad.
Kepala Kepolisian Montreal, Fady Dagher, tak kuasa menahan emosinya saat konferensi pers. "Ini adalah mimpi buruk," ucapnya dengan suara bergetar kepada para wartawan. Belakangan, identitas petugas yang gugur diungkap sebagai Mohamed Lamine Benredouane, 34 tahun, yang telah bergabung dengan kepolisian sejak tahun 2021. Kehilangan seorang anggota di medan tugas meninggalkan duka mendalam bagi seluruh jajaran kepolisian.
Radio Canada, lembaga penyiaran publik berbahasa Prancis, melaporkan bahwa pelaku diduga terinspirasi oleh gerakan misoginis "incel" atau involuntary celibate. Gerakan ini umumnya terdiri dari kelompok pria muda yang menyalahkan perempuan atas ketidakberhasilan mereka dalam menjalin hubungan romantis atau seksual. Ideologi "incel" sendiri pernah dikaitkan dengan salah satu insiden pembunuhan massal paling mematikan di Kanada, yaitu aksi tabrak lari menggunakan kendaraan di Toronto pada tahun 2018 yang menewaskan 10 orang.
Menyusul insiden tersebut, Royal Canadian Mounted Police (RCMP) dilaporkan mengirimkan peringatan kepada kepolisian di seluruh Kanada. Surat kabar The Globe and Mail memberitakan bahwa peringatan tersebut menyangkut dokumen yang beredar dan diduga berisi ajakan bagi warga untuk menembak petugas polisi. Namun, BBC belum dapat mengonfirmasi keberadaan dokumen spesifik yang terkait dengan serangan di Montreal ini. Pihak RCMP sendiri belum memberikan komentar resmi saat dihubungi, sementara kepolisian Montreal mengarahkan pertanyaan terkait hal ini kepada Biro Investigasi Independen, yang juga menolak berkomentar mengenai investigasi yang sedang berjalan.
Peristiwa penembakan mulai terjadi setelah pukul 11:30 waktu setempat (15:30 GMT) di Côte-des-Neiges. Dampaknya terasa signifikan, menghentikan lalu lintas di jalan raya utama yang ramai di dekat lokasi kejadian dan menghentikan sementara layanan metro lokal. Sekitar pukul 12:30, pemerintah Provinsi Quebec mengeluarkan peringatan darurat kepada warga mengenai seorang tersangka bersenjata yang berkeliaran. Peringatan ini akhirnya dicabut sekitar pukul 15:00.
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menyatakan rasa ngerinya mengetahui kabar serangan tersebut. "Pikiran saya bersama para korban, orang-orang terkasih mereka, petugas tanggap darurat, dan seluruh komunitas Côte‑des‑Neiges," tulisnya di media sosial. Walikota Montreal, Soraya Martinez Ferrada, turut menyampaikan belasungkawa terdalam kepada keluarga, sahabat, dan rekan kerja petugas polisi yang gugur. Sementara itu, Premier Quebec, Christine Fréchette, menegaskan bahwa tindakan semacam itu tidak memiliki tempat di Kanada.
Saksi mata, Danny Wilk, yang tinggal di dekat lokasi kejadian, menceritakan pengalamannya mendengar rentetan tembakan. "Saya mencoba berlindung di pizzeria terdekat, dan saat itulah saya melihat penembak, yang terlihat siap menembakkan senjatanya, mengenakan pakaian militer," ujarnya. Ia juga mengaku melihat petugas polisi tergeletak di tanah setelah tertembak, sebelum pelaku akhirnya dilumpuhkan oleh petugas lain. Latar belakang pelaku dan kemungkinan adanya jaringan atau motif yang lebih luas masih menjadi fokus penyelidikan intensif oleh pihak berwenang. Peristiwa ini kembali membuka luka lama mengenai isu kekerasan senjata dan radikalisasi di Kanada, serta menegaskan kembali risiko besar yang dihadapi para petugas penegak hukum dalam menjalankan tugas mulia mereka.











