JAKARTA – Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) di Bangkalan, Jawa Timur, baru-baru ini menjadi sorotan tajam dari kalangan akar rumput Nahdliyin. Salah satu kritik paling signifikan datang dari seorang kiai kampung sekaligus kader militan NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, yang akrab disapa Gus Lilur. Ia secara terbuka menyampaikan catatan kritis terkait aspek tata bahasa dan akurasi kutipan dalam pidato resmi organisasi, khususnya yang disampaikan oleh Rais Aam PBNU, KH Miftahul Akhyar.
Kritik ini mencuat sebagai respons terhadap apa yang disaksikan Gus Lilur melalui tayangan langsung agenda penting tersebut. Sebagai seorang yang tumbuh dalam tradisi intelektual pesantren yang kental dengan kajian kitab kuning, Gus Lilur menekankan bahwa akurasi pelafalan teks Arab, terutama dalam kaidah nahwu dan sharaf, merupakan tolok ukur fundamental dalam mimbar akademik keagamaan. Hal ini bukan sekadar persoalan linguistik, melainkan cerminan ketelitian dan kedalaman pemahaman seorang ulama.
Gus Lilur, yang dikenal sebagai salah satu suara kritis dari basis Nahdliyin, menjelaskan bahwa tradisi pesantren menempatkan ilmu tata bahasa Arab sebagai gerbang utama untuk memahami teks-teks keagamaan primer. Kesalahan dalam nahwu (sintaksis) dan sharaf (morfologi) dapat mengubah makna secara drastis, yang berpotensi menyesatkan dalam konteks penyampaian ajaran agama. Oleh karena itu, kritik yang ia lontarkan memiliki bobot historis dan intelektual yang mendalam bagi warga Nahdlatul Ulama.
Lebih lanjut, kader NU ini mengidentifikasi secara spesifik materi kutipan hadis yang dibacakan oleh Rais Aam PBNU. Menurut penelaahan Gus Lilur, kutipan yang menyinggung perihal kemakmuran sebuah negeri tersebut bersumber dari kitab Nasihatul Muluk karya Imam Al-Ghazali. Penyorotan terhadap detail ini menunjukkan tingkat ketelitian Gus Lilur dalam mengamati setiap diksi dan rujukan yang disampaikan oleh pemimpin tertinggi spiritual NU.
Bagi Gus Lilur, telaah dan kritik yang disampaikannya ini bukan semata-mata mencari kesalahan, melainkan merupakan bagian dari upaya menjaga integritas keilmuan NU. "Tulisan dan telaah ini merupakan bagian dari rekam jejak sejarah agar warga Nahdliyin dapat menilai secara jernih kualitas figur kepemimpinan yang dibutuhkan untuk membawa PBNU ke depan," ujar Khalilur dalam keterangan tertulisnya pada Senin (29/6/2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah untuk memastikan kualitas kepemimpinan PBNU yang mumpuni secara intelektual dan spiritual.
Munas-Konbes NU sendiri adalah forum permusyawaratan tertinggi kedua setelah Muktamar, yang berfungsi untuk membahas berbagai isu strategis keagamaan, kebangsaan, dan keumatan. Dalam forum inilah arah kebijakan organisasi digariskan dan berbagai pandangan ulama serta tokoh NU dirumuskan. Oleh karena itu, setiap pidato dan pernyataan resmi yang disampaikan di forum ini memiliki bobot dan implikasi yang sangat besar bagi seluruh warga Nahdliyin dan masyarakat luas.
Kritik dari Gus Lilur ini menjadi pengingat penting akan nilai-nilai dasar yang dipegang teguh oleh Nahdlatul Ulama. Sejak awal berdirinya, NU dikenal sebagai organisasi yang sangat menjunjung tinggi tradisi keilmuan klasik, termasuk ketelitian dalam memahami dan menyampaikan teks-teks Arab. Peran "kiai kampung" seperti Gus Lilur dalam menyuarakan keprihatinan ini juga menunjukkan bahwa semangat kritis dan pengawasan terhadap kepemimpinan tetap hidup di kalangan akar rumput, memastikan bahwa PBNU tetap relevan dan akuntabel terhadap prinsip-prinsip dasarnya.
Teguran semacam ini dapat dilihat sebagai mekanisme self-correction internal yang sehat dalam sebuah organisasi besar seperti NU. Hal ini menunjukkan dinamika intelektual yang hidup dan sehat di dalamnya, di mana setiap kader memiliki hak dan tanggung jawab untuk menjaga kemurnian ajaran dan standar keilmuan. Dengan adanya kritik konstruktif ini, diharapkan kualitas pidato dan penyampaian pesan keagamaan di forum-forum penting NU dapat terus ditingkatkan, mencerminkan kedalaman ilmu dan kebijaksanaan para ulamanya.
Melalui catatan kritis ini, Gus Lilur secara tidak langsung mengajak seluruh elemen PBNU untuk senantiasa mengedepankan ketelitian dan akurasi dalam setiap aspek, khususnya yang berkaitan dengan teks-teks keagamaan. Hal ini krusial untuk menjaga wibawa keilmuan dan otoritas keagamaan NU di mata umat. Insiden ini sekaligus menjadi pelajaran berharga tentang betapa pentingnya menjaga standar keilmuan yang tinggi, terutama bagi para pemimpin yang menjadi panutan jutaan Nahdliyin di seluruh Indonesia.
Pada akhirnya, evaluasi yang disampaikan oleh Gus Lilur ini menggarisbawahi komitmen NU terhadap tradisi keilmuan yang kokoh. Ini adalah cerminan dari semangat Nahdliyin yang terus berusaha mengawal setiap langkah organisasi agar tetap berada pada jalur yang benar, sesuai dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah dan khazanah intelektual pesantren yang telah diwarisi turun-temurun. Kritik ini bukan hanya tentang tata bahasa, melainkan tentang menjaga martabat ilmu dan kepemimpinan di tubuh Nahdlatul Ulama.











