Babak gugur Piala Dunia 2026 akhirnya tiba, membawa atmosfer ketegangan dan harapan yang memuncak bagi para penggemar sepak bola global. Berbeda dari edisi sebelumnya, turnamen kali ini tidak menyisakan jeda, langsung menghadirkan pertarungan sengit babak 32 besar hanya 15 jam setelah fase grup rampung. Di tengah euforia ini, perjalanan Inggris menuju gelar juara masih diselimuti keraguan, sementara Skotlandia harus menghadapi kenyataan pahit tanpa pelatih kepala mereka, Steve Clarke, yang memutuskan mundur.
Keputusan mengejutkan datang dari kubu Skotlandia, di mana manajer Steve Clarke secara resmi mengundurkan diri pasca kegagalan timnya di Piala Dunia. Padahal, hanya sebulan sebelumnya, tepatnya pada 28 Mei, Clarke baru saja menandatangani perpanjangan kontrak empat tahun yang seharusnya mengikatnya hingga kampanye Piala Dunia 2030. Perpisahan ini menjadi pukulan telak bagi tim Tartan Army, yang harus menerima kenyataan pahit setelah perjuangan mereka berakhir di fase grup.
Dalam pernyataannya pada 27 Juni, Clarke menyampaikan, "Bagian paling emosional dari perpisahan ini adalah untuk para pemain saya, tanpa mereka kami tidak akan memiliki kenangan yang telah kami kumpulkan dari 2019 hingga sekarang. Mereka pantas mendapatkan semua pujian dan sanjungan yang mereka terima dan sungguh suatu kehormatan dipanggil gaffer mereka. Terima kasih telah menerima saya dan semoga sukses untuk penerus saya." Ucapan ini kontras dengan keyakinan yang ia sampaikan pada 28 Mei saat perpanjangan kontrak, "Sangat penting untuk melihat ke depan dan merencanakan masa depan… adalah sebuah kehormatan untuk melanjutkan peran ini."
Di sisi lain, timnas Inggris di bawah asuhan Thomas Tuchel masih menunjukkan performa yang jauh dari meyakinkan di fase grup. Setelah dua laga sebelumnya, The Three Lions kembali melewati satu babak pertandingan tanpa gol saat menghadapi Panama, menandakan stagnasi dalam produktivitas serangan mereka. Gaya bermain yang lambat dan kurang agresif di awal pertandingan telah menjadi sorotan utama, memicu kritik dari berbagai pihak terhadap strategi Tuchel.
Namun, di tengah kebuntuan tersebut, Jude Bellingham kembali muncul sebagai penyelamat. Setelah satu jam pertandingan yang tumpul, gelandang muda Real Madrid itu akhirnya memecah kebuntuan dengan sebuah gol dan kemudian memberikan assist krusial untuk Harry Kane. Bellingham tampil dominan dan secara signifikan menjadi pemain terbaik di lapangan, menunjukkan kualitas individualnya yang luar biasa di saat tim kesulitan mencari ritme.
Dengan waktu persiapan hanya empat hari, Inggris kini harus bergerak cepat menuju Atlanta untuk menghadapi Republik Demokratik Kongo di babak 32 besar. Kekhawatiran terbesar Tuchel saat ini adalah "kutukan" cedera bek kanan yang terus menghantui timnya. Setelah Tino Livramento, Reece James, dan Jarell Quansah, kini Djed Spence menjadi perhatian utama, memaksa staf pelatih untuk ekstra hati-hati dalam menjaga kebugaran para pemain kunci seperti Trevoh Chalobah.
Menanggapi gelombang kritik atas performa timnya di New Jersey, Thomas Tuchel tetap optimis dan berusaha menenangkan suasana. "Para pemain ini sudah terbiasa dengan momen-momen seperti ini. Kami akan bangkit. Semakin besar pertandingannya, semakin besar pula performa kami," tegas Tuchel, mencoba membangun kepercayaan diri tim menjelang fase krusial turnamen.
Secara mengejutkan, jalur Inggris menuju final tampak sedikit "terbuka" setelah beberapa hasil tak terduga di fase grup. Portugal dan Cristiano Ronaldo, yang kesulitan melawan Kolombia, kini berada di sisi lain undian bersama raksasa Eropa seperti Spanyol, Prancis, dan Jerman, serta tuan rumah Amerika Serikat. Ini menempatkan Inggris pada posisi yang relatif menguntungkan di babak gugur, menghindari sebagian besar tim kuat di paruh awal.
Meski demikian, jalan Inggris bukan tanpa hambatan. Berdasarkan peringkat FIFA, hanya Argentina (peringkat 1) dan Brasil (peringkat 6) dari sepuluh besar tim teratas yang mungkin mereka hadapi sebelum final. Namun, performa lesu saat melawan tim peringkat jauh di bawah seperti Ghana (peringkat 73) dan Panama (peringkat 34) menimbulkan keraguan. Saat ditanya apakah Inggris akan tampil lebih baik di babak gugur, Jude Bellingham hanya mengangkat bahu, "Kita lihat saja, semoga," sebuah jawaban yang mencerminkan ketidakpastian.
Sementara itu, babak 32 besar telah resmi dibuka dengan drama adu penalti antara Kanada dan Afrika Selatan di Los Angeles. Dalam pertandingan pembuka babak gugur ini, kedua tim bermain imbang tanpa gol hingga perpanjangan waktu, sebelum Kanada akhirnya memastikan kemenangan 1-0 melalui adu penalti. Hasil ini langsung menggarisbawahi intensitas dan tekanan yang akan mewarnai setiap laga di fase krusial Piala Dunia 2026.
Dengan demikian, Piala Dunia 2026 telah memasuki fase paling mendebarkan, di mana setiap tim harus menunjukkan performa terbaiknya untuk bertahan. Tekanan akan semakin meningkat pada tim-tim unggulan seperti Inggris, yang dituntut untuk membuktikan diri setelah fase grup yang kurang meyakinkan. Sementara itu, kisah dramatis Steve Clarke dan Skotlandia menjadi pengingat betapa cepatnya nasib bisa berubah dalam gelaran sepak bola terbesar di dunia ini.











