Badan Pusat Statistik (BPS) resmi menabuh genderang persiapan Sensus Ekonomi 2026 yang akan berlangsung mulai 15 Juni hingga 31 Agustus mendatang. Agenda strategis ini dirancang untuk memetakan secara komprehensif potensi ekonomi kreatif yang kini menjadi salah satu pilar pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebanyak 251 ribu petugas sensus telah disiapkan untuk melakukan pendataan usaha secara door to door, menjangkau seluruh pelosok negeri dari Sabang hingga Merauke.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menegaskan bahwa sensus ini merupakan langkah krusial layaknya melakukan rekam medis bagi perekonomian nasional. Dengan data yang lebih akurat dan terperinci, pemerintah dapat menyusun kebijakan yang tidak lagi bersifat generalis, melainkan lebih tepat sasaran bagi para pelaku usaha. Amalia menekankan pentingnya partisipasi aktif dari para pegiat usaha untuk memberikan informasi yang jujur dan benar, seraya menjamin bahwa seluruh data yang terkumpul akan dijaga kerahasiaannya sesuai dengan koridor hukum yang berlaku.
Pentingnya inisiatif ini tercermin dari data performa sektor ekonomi kreatif yang menunjukkan tren positif yang signifikan. Berdasarkan catatan BPS tahun 2025, kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 7,38 persen. Angka ini didukung oleh tingkat pertumbuhan sektor tersebut yang menyentuh 6,86 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11 persen. Keberhasilan ini menempatkan ekonomi kreatif sebagai mesin penggerak ekonomi baru yang semakin vital.
Selain kontribusi terhadap PDB, sektor ini juga menjadi penyerap tenaga kerja yang masif. Data terbaru menunjukkan bahwa ekonomi kreatif telah mempekerjakan sekitar 27,40 juta orang, atau mencakup 18,70 persen dari total angkatan kerja nasional. Provinsi Jawa Barat mencatatkan diri sebagai daerah dengan penyerapan tenaga kerja ekonomi kreatif tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 6,24 juta jiwa. Fenomena ini menunjukkan bahwa geliat aktivitas ekonomi, mulai dari kuliner, fesyen, musik, film, hingga desain komunikasi visual dan aplikasi digital, telah menjadi sumber mata pencaharian utama bagi jutaan masyarakat.
Pencanangan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) dilakukan dalam kegiatan bertajuk Pencanangan dan Ngisi Bareng (Ngibar) yang digelar di Jakarta, Senin (29/6). Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, serta Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya. Kolaborasi lintas kementerian ini menjadi sinyal kuat keseriusan pemerintah dalam mengintegrasikan kebijakan ekonomi kreatif ke dalam agenda pembangunan nasional.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menyambut baik pelaksanaan sensus ini sebagai instrumen dasar untuk memetakan persebaran subsektor ekonomi kreatif di seluruh wilayah. Menurut Riefky, ketersediaan data yang detail akan memudahkan pemerintah dalam menjalin kolaborasi strategis dengan berbagai pihak, mulai dari asosiasi profesi, akademisi, hingga para pelaku industri itu sendiri. Data dari SE2026 diharapkan mampu membedah secara jelas mana subsektor yang sedang berkembang pesat, mana yang memerlukan intervensi penyelamatan, hingga mana yang stagnan.
Hal ini pada gilirannya akan mempermudah akses pelaku usaha terhadap berbagai fasilitas pendukung, termasuk akses pendanaan dan kredit perbankan. Dengan profil data yang jelas, lembaga keuangan akan lebih percaya diri dalam menyalurkan pembiayaan karena risiko bisnis yang lebih terukur. Sensus ini menjadi jembatan bagi pemerintah untuk memberikan dukungan yang benar-benar dibutuhkan oleh para pelaku ekonomi kreatif di lapangan.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, menilai bahwa SE2026 adalah instrumen strategis yang bekerja dalam tiga dimensi utama. Pertama, sensus ini memungkinkan pemerintah untuk melakukan intervensi sektoral yang lebih tajam. Kedua, memberikan pemahaman geografis yang mendalam tentang sebaran potensi ekonomi di setiap daerah. Ketiga, memungkinkan pemerintah memahami kebutuhan spesifik para pelaku usaha sesuai dengan karakteristik daerah dan subsektor yang mereka geluti.
Dengan memetakan potensi secara lebih dalam, pemerintah berharap dapat meminimalkan kesenjangan ekonomi antarwilayah. Kebijakan yang disusun berdasarkan data statistik yang kuat akan memastikan bahwa bantuan atau insentif pemerintah tidak salah sasaran, sehingga daya saing ekonomi kreatif Indonesia di kancah global dapat terus ditingkatkan. Sensus ini menjadi bukti bahwa pemerintah berkomitmen untuk menjadikan ekonomi kreatif sebagai salah satu tulang punggung ekonomi nasional di masa depan.
Bagi para pelaku usaha, keikutsertaan dalam sensus ini diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang. Amalia Adininggar Widyasanti optimis bahwa data yang dihasilkan akan membantu pengusaha memahami dinamika pasar dengan lebih baik. Dengan mengetahui posisi dan potensi usahanya dibandingkan dengan rata-rata industri, pelaku usaha dapat menyusun strategi bisnis yang lebih adaptif, efisien, dan berbasis pada data yang akurat. Hal ini menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang di tengah persaingan pasar yang semakin dinamis.
Sebagai rangkaian dari kegiatan pencanangan tersebut, turut dilakukan penyerahan Statistik Ekonomi Kreatif Tahun 2025 yang menjadi dasar acuan awal bagi pelaksanaan sensus ke depan. Sebagai wujud sinergi nyata antara Kementerian Ekonomi Kreatif dan BPS, acara diisi dengan sosialisasi teknis sensus serta pengisian kuesioner secara simbolis oleh perwakilan asosiasi dari berbagai subsektor ekonomi kreatif. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya sensus sebagai instrumen nasional.
Pemerintah mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya para pelaku usaha ekonomi kreatif, untuk menyambut Sensus Ekonomi 2026 dengan semangat keterbukaan. Keberhasilan pendataan ini bukan hanya milik pemerintah, tetapi merupakan keberhasilan bersama dalam membangun fondasi ekonomi Indonesia yang lebih tangguh, inovatif, dan berdaya saing tinggi. Dengan data yang lengkap, masa depan ekonomi kreatif Indonesia yang lebih cerah dipastikan berada dalam jangkauan.











