Selat Hormuz Dibuka, Namun Jalan Pulih Arus Dagang Masih Panjang

Emanuel

Pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital dunia, pasca-kesepakatan politik antara Amerika Serikat dan Iran diprediksi tidak akan serta-merta mengembalikan kelancaran arus perdagangan global. Para pelaku industri maritim dan pakar memperkirakan proses pemulihan lalu lintas kapal komersial akan memakan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, akibat kompleksitas logistik dan tantangan teknis yang belum terselesaikan.

Kesepakatan penting ini, yang ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu malam, menjamin pembukaan penuh Selat Hormuz tanpa pungutan biaya oleh Iran selama minimal 60 hari. Kabar baik ini sempat menekan harga minyak mentah dunia ke bawah level US$80 per barel, seiring harapan akan normalnya pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) setelah terganggu selama hampir empat bulan akibat konflik.

Namun, optimisme awal tersebut perlu dibarengi kewaspadaan. Di balik kesepakatan di atas kertas, realitas pemulihan pasokan fisik ke pasar global untuk menstabilkan harga minyak masih dihadapkan pada rintangan yang signifikan. Hingga kini, operator kapal, otoritas pelabuhan, dan perusahaan energi di kawasan Teluk masih berada dalam posisi menunggu, menanti penyelesaian masalah teknis logistik dan jaminan keamanan yang konkret.

Adam Sharpe, Wakil Presiden Editorial di Lloyd’s List Intelligence, menjelaskan bahwa skenario yang paling mungkin terjadi adalah pembukaan kembali secara bertahap. Mekanisme manajemen lalu lintas laut yang melibatkan Iran dan Oman kemungkinan akan diterapkan. Namun, sejumlah pertanyaan krusial masih belum terjawab, seperti apakah kapal memerlukan izin sebelumnya, apakah Iran akan tetap membebankan biaya layanan, apakah pengawalan angkatan laut asing akan diizinkan, dan bagaimana penanganan risiko ranjau atau ancaman residual lainnya.

Sharpe menambahkan bahwa belum ada preseden sejarah untuk memulai kembali aktivitas pelayaran di Selat Hormuz setelah mengalami gangguan besar yang bersifat destruktif seperti perang. Sebelum konflik pecah, data Lloyd’s List Intelligence mencatat volume lalu lintas mingguan kapal kargo di Selat Hormuz berkisar antara 650 hingga 770 kapal, atau setara dengan 90 hingga 110 pelayaran per hari dari kedua arah navigasi.

Sementara itu, data pelayaran dari lembaga intelijen ekonomi QuantCube Technology belum menunjukkan lonjakan signifikan pada volume keberangkatan ekspor minyak dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), maupun Irak. Di wilayah Dammam, Arab Saudi, yang mencakup kompleks ekspor Ras Tanura, kapal-kapal tanker yang telah selesai memuat muatan dilaporkan terpaksa berlayar ke lepas pantai hanya untuk ikut mengantre.

"Sejak 8 Juni, kapal tanker yang berangkat dari Dammam menghabiskan waktu yang jauh lebih lama untuk mengapung jangkar sebelum keberangkatan. Hal ini menunjukkan bahwa antrean kapal kemungkinan besar telah terbentuk di lepas pantai, alih-alih di fasilitas pelabuhan," jelas Alan Lemangnen, ekonom senior di QuantCube.

Selama masa perang, sebagian besar arus minyak mentah UEA yang berhasil menembus Selat Hormuz dilakukan dengan metode "berlayar gelap" (going dark), yaitu mematikan sistem navigasi GPS kapal untuk menghindari deteksi radar musuh. Firma riset Kpler menilai aktivitas pelayaran gelap ini kemungkinan besar masih akan berlanjut sampai Washington dan Teheran mencapai pemahaman hukum yang benar-benar jelas terkait kebebasan navigasi internasional.

Dampak gangguan pada rantai pasok global diproyeksikan akan tetap terasa lama meskipun pasokan energi mulai pulih secara perlahan. Berdasarkan catatan berkala Kpler, diperkirakan ada setidaknya 118 kapal tanker bermuatan penuh yang saat ini masih terdampar dan terjebak di dalam kawasan Teluk Persia.

Analis Kpler memperkirakan antrean ratusan kapal tersebut akan membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 15 hari hanya untuk dapat keluar dari selat. Namun, penurunan antrean awal ini murni merupakan efek mekanis instan dari pembukaan jalur, bukan mencerminkan pemulihan kapasitas keluaran mendasar yang berkelanjutan.

Mengingat banyaknya kapal yang mengantre, skala prioritas akses masuk menjadi hal yang krusial. Para pakar industri memperkirakan kapal tanker minyak dan kapal pengangkut LNG akan mendapatkan prioritas utama karena urgensi kebutuhan pasar global. Hal ini membuat kapal kontainer dan kargo barang lainnya harus menghadapi penundaan operasional yang jauh lebih lama.

Sharpe menambahkan bahwa penentuan prioritas mungkin tidak murni berdasarkan pertimbangan komersial. Otoritas berwenang kemungkinan juga akan mempertimbangkan lokasi kapal, arah perjalanan, bendera negara, kepemilikan, risiko politik yang dirasakan, jenis kargo, kondisi keselamatan, dan kelengkapan informasi transit yang telah diserahkan. Ketidakpastian terbesar adalah apakah penanganan ini akan dilakukan secara transparan atau melalui keputusan operasional ad-hoc.

Sebelum lalu lintas pelayaran kapal komersial dapat kembali normal, pasukan angkatan laut internasional harus melakukan sertifikasi dan memastikan bahwa koridor transit telah sepenuhnya aman. Proses ini diperkirakan memakan waktu beberapa hari. Setelah itu, perusahaan asuransi risiko perang harus mengaktifkan kembali cakupan perlindungan mereka, karena tanpa jaminan asuransi, pemilik kapal dipastikan menolak untuk menggerakkan armada mereka.

Otoritas keamanan di Oman, UEA, dan Iran juga perlu melakukan koordinasi ketat terkait pengaturan jalur pelayaran, sistem konvoi, serta jendela waktu transit yang aman. Pada saat yang sama, kru kapal yang sebelumnya diposisikan untuk rute pengalihan harus diaktifkan kembali, melakukan pengisian bahan bakar ulang, serta dijadwalkan ulang.

Sharpe menjelaskan bahwa underwriter (penanggung asuransi) akan meminta bukti lingkungan operasi yang stabil dan dapat diprediksi: transit aman yang konsisten, tidak ada gangguan, kejelasan risiko ranjau, dan tidak ada eskalasi baru. Penetapan harga premi kemungkinan akan tetap sangat sensitif terhadap bendera kapal, kepemilikan, keterkaitan dengan Israel atau AS, riwayat perdagangan, dan jenis kargo. Penurunan premi tambahan yang berkelanjutan akan bergantung pada volume transit historis yang dipertahankan dan keyakinan bahwa pembukaan kembali ini tidak dapat dibatalkan.

Selain masalah administrasi asuransi, komponen keamanan fisik berupa pembersihan ranjau laut yang ditanam selama konflik juga menjadi faktor penentu kecepatan pemulihan jalur. Kerja sama pembersihan ranjau antara militer Iran dan Amerika Serikat diprediksi akan berjalan lambat.

Nikos Petrakakos, direktur pelaksana manajer investasi maritim Tufton, memperkirakan proses ini akan berjalan lambat dan memakan waktu beberapa minggu karena hanya ada jalur sempit yang tersedia secara aman. "Setelah kejelasan terkait ranjau diamankan, maka prosesnya bisa kurang dari satu minggu. Namun saya merasa banyak pihak yang akan sangat berhati-hati pada awalnya," ujarnya.

Sharpe menyamakan kondisi psikologis pasar saat ini dengan situasi di Laut Merah, di mana banyak operator pelayaran tetap enggan kembali melintas meskipun kelompok Houthi memberikan sinyal gencatan senjata, karena tidak adanya bukti keamanan jangka panjang yang konsisten di lapangan.

Pihak Kpler memproyeksikan sebagian besar kapasitas produksi Timur Tengah akan kembali dalam hitungan minggu, bukan bulan. Namun, kepastian kapan komoditas tersebut dapat diekspor secara bebas ke pasar internasional tetap menjadi tanda tanya besar. Faktor penentunya berada pada seberapa cepat koordinasi antara otoritas pelabuhan, perusahaan asuransi, dan perusahaan pelayaran dapat berjalan harmonis.

Meskipun proses pengosongan awal antrean 118 tanker dalam 10 hingga 15 hari ke depan akan menciptakan lonjakan lalu lintas yang terlihat masif di radar, kembalinya kapasitas throughput normal akan memakan waktu lebih lama. Hal ini disebabkan oleh masih tingginya tarif premi asuransi, lambatnya pemeriksaan keamanan laut, serta sikap kehati-hatian para operator kapal.

Menyusul pengumuman Trump terkait tercapainya nota kesepahaman damai, lembaga keuangan Goldman Sachs langsung memangkas prediksi harga minyak mentah dunia. Goldman Sachs menurunkan perkiraan harga minyak jenis Brent menjadi US$80 per barel untuk kuartal keempat tahun 2026 dari prediksi sebelumnya sebesar US$90 per barel, serta mematok harga rata-rata US$75 per barel untuk tahun 2027.

Meski begitu, dalam jangka pendek, pergerakan harga minyak mentah diprediksi akan tetap berada di bawah tekanan pasar yang fluktuatif. Goldman Sachs menilai pemulihan pasokan di lapangan berpotensi melesat lebih kuat dari perkiraan awal, di mana volume aliran minyak di kawasan Teluk diperkirakan telah meningkat ke level 11 juta barel per hari berkat kombinasi pembukaan arus Selat Hormuz serta optimalisasi rute pengalihan darurat.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All