JAKARTA – Nilai tukar Rupiah kembali tertekan hebat pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026. Mata uang Garuda ini terus merosot sepanjang hari, ditutup pada level yang mengkhawatirkan di Rp 17.424 per Dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan signifikan ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi nasional di tahun 2026.
Sejak pembukaan pasar pagi tadi, Rupiah sudah menunjukkan tren pelemahan. Data Bloomberg mencatat pergerakan nilai tukar berada di kisaran Rp 17.400 per Dolar AS. Kondisi ini melanjutkan tekanan yang sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir, menimbulkan kekhawatiran serius.
Pukul 09.10 WIB, data dari Trading Economics menunjukkan Rupiah diperdagangkan di Rp 17.407 per Dolar AS. Angka ini lebih lemah dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.394 per Dolar AS. Penurunan 13 poin atau sekitar 0,075 persen ini, meski terlihat kecil secara persentase, mengindikasikan tekanan konsisten terhadap Rupiah.
Para analis menilai, pergerakan negatif ini sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar global. Penguatan indeks Dolar AS di pasar internasional menjadi faktor utama yang membebani mata uang berbagai negara, termasuk Rupiah. Dolar AS saat ini menunjukkan performa superior terhadap mata uang utama lainnya.
Puncak pelemahan terjadi saat penutupan perdagangan sore hari. Rupiah secara resmi ditutup pada level Rp 17.424 per Dolar AS. Angka ini menandai salah satu titik terendah dalam sejarah transaksi pasar spot, menunjukkan betapa kuatnya sentimen negatif yang membayangi pergerakan Rupiah.
Menariknya, anjloknya Rupiah ini terjadi berbarengan dengan dirilisnya data pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal I 2026 yang positif. Pertumbuhan ekonomi nasional tercatat mencapai 5,61 persen. Namun, data ekonomi domestik yang kuat ini belum mampu menopang Rupiah.
Fokus investor saat ini diduga masih tertuju pada dinamika suku bunga global dan isu geopolitik. Faktor-faktor eksternal tersebut dinilai lebih dominan dalam pergerakan nilai tukar dibandingkan kinerja ekonomi dalam negeri.
Pergerakan Rupiah pada 5 Mei 2026:
Pembukaan Pasar: Sekitar Rp 17.400 per USD.
Pukul 09.10 WIB: Melemah ke Rp 17.407 per USD.
Penutupan Sore: Berakhir di level terendah Rp 17.424 per USD.
Rupiah mengalami depresiasi konsisten sepanjang hari. Ketidakpastian global tetap menjadi momok bagi performa mata uang lokal.
Pengamat ekonomi menyarankan pelaku pasar untuk tetap waspada terhadap volatilitas yang mungkin terjadi. Kebijakan moneter Bank Indonesia akan menjadi kunci untuk meredam pelemahan lebih lanjut.
Dampak pelemahan Rupiah ini diperkirakan akan meluas. Biaya logistik dan harga barang-barang impor, termasuk kebutuhan pokok dan elektronik, berpotensi mengalami kenaikan. Situasi ini menuntut perhatian ekstra dari pemerintah dan pelaku industri.
