Protes Aljazair ke FIFA: Keputusan Wasit di Laga Argentina Jadi Sorotan

Danu Ilham

Federasi Sepak Bola Aljazair (FAF) secara resmi melayangkan protes kepada Komisi Wasit FIFA terkait kekalahan 0-3 dari Argentina dalam laga pembuka Grup J Piala Dunia 2026. Pertandingan yang digelar di Stadion Kansas City pada Rabu, 17 Juni 2026, ini diwarnai sejumlah keputusan kontroversial yang dinilai merugikan tim Aljazair, memicu kemarahan dan tuntutan tinjauan lebih lanjut dari badan sepak bola dunia.

Pemicu utama protes Aljazair adalah dugaan pelanggaran serius yang dilakukan oleh kapten Argentina, Lionel Messi, pada babak pertama pertandingan. Dalam sebuah insiden, Messi terlihat menginjak betis kapten Aljazair, Aissa Mandi. Pemain Aljazair dan staf pelatih secara lantang meminta kartu merah dikeluarkan oleh wasit Szymon Marciniak dari Polandia. Namun, wasit memutuskan untuk tidak memberikan hukuman apapun kepada Messi. Ironisnya, tak lama setelah insiden tersebut, Messi berhasil mencetak gol, yang kemudian menjadi bagian dari hattrick kemenangannya dalam laga tersebut.

Tak berhenti di situ, Federasi Aljazair juga menyoroti keputusan wasit yang dinilai luput dalam mengevaluasi insiden lain. Gelandang Argentina, Alexis Mac Allister, tidak dikenai sanksi meski sikunya terlihat mengenai wajah pemain muda Aljazair, Ibrahim Maza. Keputusan wasit Szymon Marciniak, serta tim Video Assistant Referee (VAR) yang dipimpin oleh Tomasz Kwiatkowski, menuai kritik tajam karena dianggap gagal mengidentifikasi dan memberikan sanksi yang adil pada kedua kejadian krusial tersebut.

Kontroversi ini tidak hanya berhenti pada pandangan tim Aljazair. Sejumlah analis sepak bola terkemuka turut menyuarakan kekecewaan mereka terhadap kepemimpinan wasit. Nedum Onuoha, seorang pundit dari ESPN, secara tegas menyatakan bahwa tindakan Messi seharusnya berujung pada kartu merah. Menurutnya, meskipun wasit mungkin terlewat dalam melihat insiden secara langsung, VAR seharusnya dapat mengintervensi dan memperbaiki kesalahan tersebut.

"Menurut saya itu seharusnya kartu merah. Mungkin wasit melewatkannya, tetapi saya tidak mengerti bagaimana VAR melihat insiden itu dan menganggap tidak ada masalah. Bagi saya, itu layak mendapatkan kartu merah," ujar Nedum Onuoha, Pundit ESPN.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Alejandro Moreno, mantan pemain tim nasional Venezuela. Ia menegaskan bahwa pelanggaran keras yang dilakukan oleh seorang bintang sebesar Messi seharusnya tidak bisa diabaikan, terutama dalam panggung sebesar Piala Dunia. Baginya, keputusan wasit yang tidak memberikan kartu merah adalah sebuah kekeliruan yang jelas.

"Itu 100 persen kartu merah untuk Lionel Messi. Seharusnya memang diberikan," tegas Alejandro Moreno.

Kritik terhadap kepemimpinan wasit asal Polandia ini semakin meluas, bahkan merambah ke kalangan figur publik media internasional. Piers Morgan, seorang presenter ternama asal Inggris, turut mengomentari insiden tersebut. Ia menyoroti potensi cedera serius yang bisa ditimbulkan oleh tekel berbahaya Messi. Morgan merasa heran dan menyebut tindakan wasit yang tidak memberikan setidaknya kartu kuning sebagai sesuatu yang konyol, mengingat potensi bahaya dari tekel tersebut.

"Dia seharusnya diusir keluar lapangan karena tekel berbahaya itu. Fakta bahwa dia bahkan tidak mendapat kartu kuning sangatlah konyol. Insiden itu bisa saja mematahkan kaki lawannya," tutur Piers Morgan, presenter Inggris.

Laporan dari Bola menyebutkan bahwa protes resmi FAF ini secara spesifik ditujukan kepada Komisi Wasit FIFA. Aljazair berharap agar FIFA dapat meninjau kembali keputusan-keputusan wasit selama pertandingan tersebut. Pertanyaan besar kini mengemuka: apakah FIFA akan mengambil tindakan berdasarkan protes ini? Dan bagaimana dampaknya terhadap kelanjutan turnamen, terutama bagi tim Aljazair yang merasa dirugikan?

Piala Dunia 2026 memang menjadi ajang sepak bola terbesar di dunia, di mana setiap keputusan wasit selalu berada di bawah sorotan tajam. Kehadiran teknologi VAR yang seharusnya meningkatkan akurasi keputusan, justru dalam beberapa kesempatan terasa menambah perdebatan. Kasus protes Aljazair ini menjadi salah satu contoh nyata betapa sensitifnya isu perwasitan dalam kompetisi tingkat tinggi.

Federasi Sepak Bola Aljazair berupaya untuk mencari keadilan melalui jalur resmi, berharap agar FIFA dapat memberikan evaluasi yang objektif terhadap jalannya pertandingan. Hasil dari investigasi FIFA, apabila dilakukan, akan sangat dinantikan oleh para pecinta sepak bola di seluruh dunia. Keputusan FIFA nantinya dapat menjadi preseden penting bagi penanganan keluhan serupa di masa mendatang, serta menegaskan komitmen FIFA terhadap integritas dan keadilan dalam setiap pertandingan. Perkembangan lebih lanjut dari situasi ini diharapkan segera memberikan kejelasan bagi seluruh pihak yang terlibat.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All