I.League, operator kompetisi sepak bola profesional di Indonesia, secara tegas mengakui bahwa hingga saat ini belum ada regulasi resmi yang mengatur pemasangan simbol bintang di atas logo klub. Ketiadaan aturan tertulis ini menciptakan ketidakseragaman dalam standardisasi jumlah trofi yang dapat dikonversi menjadi satu bintang, memicu beragam interpretasi di kalangan klub.
Direktur Kompetisi I.League, Asep Saputra, dalam keterangannya pada Senin (22/6/2026) lalu, mengonfirmasi bahwa persoalan lambang bintang tersebut berada di luar ranah aturan resmi yang mengikat para peserta kompetisi. Ia menjelaskan bahwa penyematan tanda bintang pada dasarnya merupakan bentuk apresiasi mandiri dari pihak manajemen klub terhadap pencapaian historis yang telah diraih.
"Kalau bicara regulasi, sebetulnya kami tidak memiliki regulasi terkait itu," ujar Asep Saputra. "Itu mungkin lebih kepada bagaimana klub mengapresiasi pencapaiannya sendiri." Pernyataan ini menegaskan bahwa I.League belum menyusun aturan spesifik mengenai visualisasi prestasi klub dalam bentuk simbol bintang.
Ketidakadaan regulasi baku ini berujung pada perbedaan pendekatan antar klub besar dalam merepresentasikan jumlah gelar juara mereka. Contoh paling mencolok adalah Persib Bandung yang telah memilih untuk menyematkan lima bintang di atas logo mereka, merefleksikan lima trofi yang berhasil mereka raih sejak tahun 1994.
Sementara itu, klub besar lainnya, Persija Jakarta, mengambil kebijakan yang berbeda. Meskipun telah mengoleksi total 11 gelar juara, Persija Jakarta hanya memilih untuk memasang satu bintang di logo mereka. Perbedaan ini menunjukkan minimnya pedoman standar yang berlaku secara umum di liga.
"Tetapi kalau bicara regulasi, yang harus hitam di atas putih, memang kami belum mengatur secara spesifik mengenai hal tersebut," imbuh Asep Saputra, mengulang penegasan pihaknya mengenai belum adanya aturan tertulis terkait simbol bintang.
Penting untuk dipahami bahwa simbol bintang di logo klub sepak bola di berbagai belahan dunia umumnya merepresentasikan pencapaian gelar juara liga domestik. Standar yang paling umum adalah satu bintang untuk setiap beberapa gelar juara, meskipun rasio ini bervariasi antar negara dan liga. Misalnya, di Italia, Serie A menetapkan satu bintang untuk setiap 10 gelar Scudetto, sementara di Jerman, Bundesliga memiliki sistem yang lebih kompleks tergantung pada jumlah gelar.
Di Indonesia, tradisi pemasangan bintang ini sebenarnya sudah cukup lama diadopsi oleh beberapa klub, namun tanpa adanya payung regulasi yang jelas dari operator liga, standar tersebut menjadi sangat subjektif. Hal ini bisa menimbulkan kebingungan bagi para penggemar sepak bola yang ingin memahami standar pencapaian klub secara objektif.
Fenomena ini juga dapat berdampak pada persepsi nilai historis sebuah klub. Klub yang memiliki banyak gelar tetapi hanya memasang sedikit bintang mungkin dianggap kurang menonjolkan prestasinya, sementara klub dengan gelar lebih sedikit namun memasang banyak bintang bisa menimbulkan pertanyaan mengenai dasar perhitungannya.
I.League sendiri memiliki sejarah kompetisi yang panjang, dengan berbagai format dan nama liga yang pernah digunakan. Sejak era Perserikatan hingga era Liga Super Indonesia (ISL) dan kini I.League, akumulasi gelar dari berbagai era ini seringkali menjadi dasar perhitungan. Namun, tanpa regulasi yang jelas, interpretasi mengenai gelar mana saja yang dihitung dan bagaimana konversinya menjadi bintang menjadi sangat terbuka.
Lantas, mengapa I.League belum merilis regulasi terkait simbol bintang? Salah satu kemungkinan alasannya adalah fokus utama operator liga yang mungkin lebih tercurah pada aspek teknis dan regulasi yang lebih krusial untuk kelancaran kompetisi, seperti peraturan pemain, perwasitan, finansial, dan integritas pertandingan. Pengaturan simbol bintang, meskipun penting secara identitas klub, bisa dianggap sebagai prioritas sekunder.
Namun, dengan semakin berkembangnya industri sepak bola dan tuntutan profesionalisme yang kian tinggi, standardisasi semacam ini menjadi semakin relevan. Para penggemar, media, dan bahkan sponsor membutuhkan kejelasan mengenai representasi prestasi klub. Ketiadaan regulasi yang jelas dapat membuka celah untuk potensi klaim yang tidak berdasar atau kebingungan interpretasi di masa mendatang.
Menariknya, dalam konteks Piala Indonesia atau kompetisi piala domestik lainnya, simbol bintang juga kerap digunakan untuk merepresentasikan gelar juara. Namun, pengakuan dan konversi gelar dari kompetisi semacam ini ke dalam simbol bintang di logo liga juga seringkali menjadi perdebatan tersendiri di kalangan klub dan penggemar.
Keputusan Persib Bandung yang memasang lima bintang untuk lima trofi sejak 1994, misalnya, menunjukkan bahwa mereka merujuk pada periode tertentu dalam sejarah klub untuk menentukan jumlah bintang. Sementara itu, Persija Jakarta dengan 11 gelar memilih pendekatan yang lebih minimalis. Perbedaan ini justru menunjukkan bahwa setiap klub memiliki narasi dan strategi tersendiri dalam membangun identitas visual prestasinya.
Ke depannya, I.League diharapkan dapat mempertimbangkan untuk merumuskan regulasi yang lebih jelas mengenai simbol bintang. Hal ini tidak hanya akan menciptakan keseragaman dan kejelasan, tetapi juga akan memperkuat nilai historis pencapaian setiap klub secara objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan adanya pedoman baku, para pecinta sepak bola dapat lebih mudah mengapresiasi perjalanan dan kesuksesan klub kesayangan mereka melalui representasi visual yang konsisten. Sampai saat ini, para klub masih bebas menentukan kebijakan mereka sendiri, menjadikan simbol bintang di logo mereka sebagai cerminan interpretasi internal atas sejarah kejayaan masing-masing.











