Jakarta – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus memacu langkah diversifikasi energi melalui pengembangan bioenergi secara masif. Langkah ini diambil sebagai strategi kunci dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat transisi menuju penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menegaskan komitmen tersebut dalam acara Grand Seminar ReEnergize Summit 2026: Pentahelix Talks x IETD 2026 Goes to Campus. Kegiatan tersebut berlangsung di Balai Sidang Universitas Indonesia.
Hokkop menjelaskan bahwa perusahaan kini mengoptimalkan berbagai sumber daya domestik. Fokus pengembangannya mencakup biomassa, biochar, compressed biomethane gas (CBG), hingga pemanfaatan sampah menjadi bahan bakar alternatif.
Upaya ini dilakukan untuk menekan ketergantungan terhadap energi fosil yang selama ini mendominasi kebutuhan pembangkit listrik. Menurut Hokkop, Indonesia sebenarnya memiliki potensi bioenergi yang sangat melimpah dan belum tergarap maksimal.
Tantangan utama saat ini bukan terletak pada ketersediaan sumber daya di lapangan. Fokus utama perusahaan adalah membangun kolaborasi lintas sektor yang lebih kuat agar potensi tersebut bisa segera diimplementasikan.
Hokkop mengajak seluruh elemen, mulai dari mitra investasi, mitra lokal, pemerintah, regulator, hingga akademisi untuk bersinergi. Menurutnya, keberanian berkolaborasi adalah kunci agar pengembangan bioenergi berjalan cepat dan berkelanjutan. Pernyataan ini disampaikan Hokkop dalam keterangannya pada Kamis, 2 Juli 2026.
Sebagai subholding PLN yang mengelola energi primer, PLN EPI memikul tanggung jawab besar. Mereka memastikan keandalan pasokan batu bara dan gas bagi seluruh pembangkit listrik milik PLN Group.
Di sisi lain, perusahaan terus memperluas portofolio energi baru terbarukan. Transformasi sektor pembangkitan kini mulai dilakukan secara bertahap menuju operasional yang lebih bersih.
Saat ini, hampir seluruh Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) milik PLN sudah memanfaatkan biodiesel B40. Langkah serupa juga diterapkan pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Pihak manajemen mulai mengimplementasikan teknologi biomassa sebagai bahan bakar cofiring di PLTU. Implementasi ini terbukti efektif dalam mengurangi konsumsi batu bara pada pembangkit listrik.
Penggunaan biomassa seperti serbuk gergaji kayu (sawdust) kini menjadi bagian penting dalam operasional pembangkit, termasuk di area stockpile PLTU Paiton. Melalui berbagai inovasi tersebut, PLN EPI optimistis dapat mencapai target energi nasional yang lebih hijau.
Transformasi ini tidak hanya bertujuan memenuhi target bauran energi, tetapi juga menjamin ketersediaan listrik yang stabil bagi masyarakat. PLN EPI terus berkomitmen untuk menghadirkan solusi energi masa depan yang lebih berkelanjutan bagi Indonesia.











