Piala Dunia 2026: Wakil Asia Babak Belur, Hanya Jepang dan Australia Mampu Bertahan ke Babak 32 Besar

Danu Ilham

Gelaran Piala Dunia 2026 menjadi catatan kelam bagi Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), yang mengirimkan sembilan delegasi terbaiknya ke turnamen akbar tersebut. Dari total sembilan tim yang berjuang di fase grup, hanya dua negara yang berhasil mengamankan tiket menuju babak 32 besar: Jepang dan Australia. Hasil ini mengecewakan banyak pihak, mengingat peningkatan jatah slot Asia dalam format Piala Dunia yang diperluas, yang sebelumnya membawa ekspektasi tinggi bagi benua kuning.

Turnamen yang dihelat di tiga negara besar, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, ini diharapkan menjadi panggung bagi kebangkitan sepak bola Asia. Sembilan tim yang menjadi representasi AFC adalah Jepang, Australia, Iran, Irak, Yordania, Arab Saudi, Korea Selatan, Uzbekistan, dan Qatar. Namun, tujuh di antaranya harus mengakhiri perjalanan lebih awal, tersingkir di babak penyisihan grup, menimbulkan pertanyaan serius tentang daya saing tim-tim Asia di kancah global.

Timnas Jepang, yang dikenal dengan julukan Samurai Biru, menjadi salah satu penyelamat wajah Asia di turnamen ini. Mereka menunjukkan performa solid di Grup F dengan mengakhiri babak kualifikasi sebagai runner-up grup. Jepang berhasil lolos tanpa menyentuh kekalahan, mengumpulkan satu kemenangan dan dua hasil imbang dari tiga pertandingan. Total lima poin yang mereka raih memastikan langkah mereka ke fase gugur, memperlihatkan konsistensi yang patut diacungi jempol.

Di sisi lain, Australia juga berhasil melangkah maju dari Grup D. Socceroos mencatat satu kemenangan, satu kali hasil imbang, dan satu kekalahan, yang didapatkan saat menghadapi Amerika Serikat. Dengan perolehan empat poin, Australia membuktikan ketangguhan mental dan fisik mereka untuk bersaing di level tertinggi, meskipun harus melalui perjuangan berat di grup yang kompetitif. Keberhasilan kedua tim ini menjadi oase di tengah gurun kekalahan wakil Asia lainnya pada tanggal 28 Juni 2026.

Korea Selatan sempat memberikan harapan di awal turnamen. Tim berjuluk Taegeuk Warriors ini berhasil meraih kemenangan penting 2-1 atas Republik Ceko pada laga perdana mereka di Grup A. Kemenangan tersebut sempat memicu optimisme akan potensi kejutan dari tim Asia, mengingat rekam jejak mereka yang seringkali menjadi kuda hitam di Piala Dunia sebelumnya.

Namun, sayangnya, momentum tersebut tidak dapat mereka pertahankan. Korea Selatan harus tumbang di dua pertandingan berikutnya, menghadapi Meksiko dan Afrika Selatan, yang membuat mereka gagal melaju ke babak selanjutnya dengan hanya mengantongi tiga poin. Kegagalan ini terasa pahit, mengingat mereka hanya selangkah lagi dari fase gugur.

Secara keseluruhan, hanya Jepang, Australia, dan Korea Selatan yang mampu mencicipi manisnya kemenangan di fase grup Piala Dunia 2026. Enam perwakilan AFC lainnya tidak mampu meraih satu pun poin penuh dari tiga pertandingan yang mereka lakoni. Sebagian besar dari mereka bahkan kesulitan untuk sekadar meraih hasil imbang, menunjukkan jurang kualitas yang masih lebar antara tim-tim Asia dan raksasa sepak bola dunia lainnya.

Iran, misalnya, mengemas tiga hasil imbang di Grup G. Perolehan tiga poin ini menunjukkan bahwa mereka cukup sulit dikalahkan, namun tidak cukup untuk membawa mereka lolos, bahkan melalui jalur peringkat ketiga terbaik yang tersedia dalam format baru Piala Dunia. Penampilan mereka minim gol dan daya dobrak, meskipun lini pertahanan cukup rapat.

Sementara itu, Arab Saudi sempat menahan imbang Uruguay dalam pertandingan di Grup H, sebuah hasil yang patut diacungi jempol. Namun, performa mereka tidak konsisten sepanjang babak penyisihan. Tim berjuluk Elang Hijau itu akhirnya terpuruk di dasar klasemen dengan hanya satu poin. Qatar juga mengalami nasib serupa di Grup B, dengan hanya satu hasil imbang dan dua kekalahan, yang membuat mereka pulang lebih awal dari turnamen ini.

Catatan paling memprihatinkan datang dari tiga tim Asia lainnya: Irak, Yordania, dan Uzbekistan. Ketiga negara ini menyudahi kompetisi Piala Dunia 2026 tanpa meraih satu pun poin. Performa mereka menunjukkan bahwa mereka masih harus banyak berbenah untuk bisa bersaing di panggung global yang sangat kompetitif.

Irak mencatat lini pertahanan terburuk di antara semua wakil Asia, bahkan menjadi salah satu yang terburuk di antara seluruh peserta turnamen. Mereka kebobolan 12 gol dan hanya mampu mencetak satu gol dari tiga pertandingan di Grup I. Angka ini mencerminkan kerapuhan yang sangat signifikan di barisan belakang mereka.

Yordania juga tidak jauh berbeda, dengan hanya mencetak dua gol dan kebobolan tujuh gol selama tiga pertandingan di Grup J. Uzbekistan, di Grup K, mengakhiri perjalanan mereka dengan dua gol yang dicetak namun harus rela gawang mereka dibobol sebanyak 11 kali. Angka-angka ini mencerminkan betapa beratnya persaingan dan kurangnya kesiapan dari beberapa tim Asia untuk menghadapi intensitas Piala Dunia.

Keterpurukan mayoritas wakil Asia di Piala Dunia 2026 ini menjadi alarm keras bagi pengembangan sepak bola di benua kuning. Meskipun jumlah slot Asia di turnamen telah bertambah, performa di lapangan menunjukkan bahwa kualitas dan kedalaman skuat masih perlu ditingkatkan secara signifikan. Keberhasilan Jepang dan Australia setidaknya menjadi bukti bahwa tim-tim Asia mampu bersaing jika memiliki persiapan matang dan strategi yang tepat, serta pengalaman yang memadai di level internasional.

Untuk berbicara lebih jauh di panggung dunia, AFC perlu melakukan evaluasi menyeluruh dan merumuskan program jangka panjang yang lebih efektif demi meningkatkan daya saing tim-tim anggotanya di masa depan. Perjalanan Piala Dunia 2026 ini akan menjadi pelajaran berharga bagi seluruh insan sepak bola Asia, mendorong investasi lebih besar dalam pembinaan pemain, pengembangan liga domestik, dan peningkatan kualitas pelatih.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All