Friday, 17 July 2026
BREAKING
BPJS

Persepsi Supir Angkutan Umum terhadap Manfaat Jaminan Kematian (JKM)

Oleh Heni Maulidya July 17, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Profesi supir angkutan umum, meskipun vital bagi mobilitas masyarakat, kerap kali dihadapkan pada risiko pekerjaan yang tinggi. Rentetan jam kerja yang panjang, kondisi lalu lintas yang dinamis, serta potensi kecelakaan menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka. Dalam konteks inilah, kehadiran jaminan sosial, khususnya Jaminan Kematian (JKM), menjadi krusial. Artikel ini akan mengupas persepsi supir angkutan umum terhadap manfaat JKM.

Pentingnya Jaminan Kematian bagi Supir Angkutan Umum

Jaminan Kematian (JKM) merupakan program yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS Ketenagakerjaan) yang memberikan perlindungan finansial kepada ahli waris jika peserta meninggal dunia bukan karena kecelakaan kerja. Manfaat utama JKM meliputi santunan kematian, biaya pemakaman, dan santunan cacat total tetap jika peserta mengalami kecelakaan kerja yang mengakibatkan cacat total tetap.

Bagi supir angkutan umum, JKM bukan sekadar program perlindungan finansial, melainkan sebuah jaring pengaman yang sangat berarti. Banyak dari mereka yang merupakan tulang punggung keluarga. Kehilangan pencari nafkah utama secara mendadak dapat menimbulkan kesulitan finansial yang sangat berat bagi keluarga yang ditinggalkan. JKM hadir untuk setidaknya meringankan beban tersebut dengan memberikan bantuan dana yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari biaya hidup sehari-hari hingga pendidikan anak.

Persepsi Positif dan Harapan

Secara umum, persepsi supir angkutan umum terhadap JKM cenderung positif. Banyak dari mereka yang telah merasakan atau setidaknya memahami pentingnya program ini. Bapak Slamet, seorang supir angkot di Jakarta, menyatakan, “Alhamdulillah, punya BPJS Ketenagakerjaan itu tenang. Kalau amit-amit terjadi apa-apa sama saya, keluarga saya setidaknya tidak langsung jatuh miskin. Ada sedikit bantuan buat mereka.” Pernyataan serupa datang dari supir taksi daring maupun konvensional. Mereka melihat JKM sebagai bentuk kepedulian negara terhadap para pekerja.

Selain santunan kematian, manfaat lain yang juga diapresiasi adalah biaya pemakaman. “Bisa lumayan membantu, Mas. Urusan pemakaman itu biayanya besar. Kalau sudah ada yang bantu, bebannya berkurang,” ujar Pak Budi, seorang supir bus kota.

Tantangan dan Area Perbaikan

Meskipun persepsi positif mendominasi, masih ada beberapa tantangan dan area yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan pemahaman dan pemanfaatan JKM di kalangan supir angkutan umum. Salah satunya adalah minimnya informasi yang sampai ke tingkat akar rumput. Tidak semua supir angkutan umum memahami secara detail cakupan manfaat, cara klaim, atau kewajiban iuran mereka. Sosialisasi yang lebih intensif dan mudah diakses sangat dibutuhkan.

Kendala lain adalah terkait keterjangkauan iuran. Bagi sebagian supir, terutama yang bekerja secara independen atau memiliki pendapatan harian yang fluktuatif, pembayaran iuran bulanan bisa menjadi beban. Diperlukan solusi yang lebih fleksibel, misalnya melalui skema iuran yang disesuaikan dengan pendapatan atau program subsidi bagi pekerja informal.

Selain itu, proses klaim yang terkadang dianggap rumit juga perlu dievaluasi. Kemudahan akses dan transparansi dalam proses klaim akan meningkatkan kepercayaan para supir terhadap program ini.

Kesimpulan

Persepsi supir angkutan umum terhadap manfaat Jaminan Kematian (JKM) secara garis besar adalah positif. Mereka melihatnya sebagai perlindungan finansial yang penting bagi keluarga mereka di tengah tingginya risiko pekerjaan. Namun, untuk memaksimalkan manfaat program ini, diperlukan upaya berkelanjutan dalam hal sosialisasi, penyederhanaan proses, dan penyesuaian skema iuran agar lebih terjangkau bagi seluruh lapisan supir angkutan umum. Dengan demikian, JKM dapat benar-benar menjadi jaring pengaman yang kokoh bagi para pahlawan jalanan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait