Piala Dunia bukan hanya tentang pertandingan di lapangan hijau, tetapi juga tentang semangat persatuan dan kegembiraan yang ditularkan oleh para penggemar. Pengalaman yang dibagikan oleh legenda sepak bola Jerman, Philipp Lahm, menyoroti bagaimana kehadiran para pendukung Skotlandia di Amerika Serikat tidak hanya meramaikan turnamen, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat setempat. Dari marching band bagpipe di Boston hingga menciptakan atmosfer meriah di pertandingan baseball, "Tartan Army" membuktikan diri sebagai duta sepak bola yang sesungguhnya.
Kehadiran para penggemar Skotlandia di Amerika Serikat menjadi fenomena tersendiri dalam gelaran Piala Dunia. Video-video yang beredar memperlihatkan mereka, lengkap dengan kilt dan alunan bagpipe, menginvasi jalanan Boston. Di stadion, suara riuh "Tartan Army" turut mengantarkan timnas mereka meraih kemenangan bersejarah melawan Haiti, yang merupakan kemenangan pertama Skotlandia di Piala Dunia dalam 36 tahun terakhir. Antusiasme mereka tidak berhenti di situ; usai pertandingan, mereka mengubah suasana pertandingan baseball Boston Red Sox menjadi bagian dari perayaan Piala Dunia, bahkan menyempatkan diri mempelajari aturan olahraga yang mungkin asing bagi sebagian dari mereka.
Kisah mengharukan datang dari seorang warga lokal yang terharu hingga meneteskan air mata, berterima kasih kepada para penggemar Skotlandia karena telah memberikan "waktu terbaik" dalam hidupnya. Fenomena serupa juga terlihat dari kehadiran penggemar Norwegia dan Belanda, yang meninggalkan jejak positif di setiap negara yang mereka kunjungi. Semangat "bersatu oleh sepak bola" benar-benar terwujud, di mana para penggemar tidak hanya menonton, tetapi juga menghayati setiap momen turnamen.
Pengalaman pribadi Philipp Lahm sebagai Direktur Turnamen Euro 2024 semakin memperkuat pandangannya. Ia mengakui bahwa para penggemar Skotlandia berhasil memikat hati masyarakat Jerman, menciptakan persahabatan yang langgeng. Bahkan, putrinya masih menyimpan pin pemberian dari seorang penggemar Skotlandia sebagai kenang-kenangan. Pengalaman ini menyadarkan Lahm bahwa dalam sebuah turnamen besar, peran para tamu, dalam hal ini para penggemar, seringkali menjadi sorotan utama.
Kembalinya Skotlandia ke Piala Dunia setelah absen sejak 1998, di bawah format 32 tim, menjadi argumen kuat bagi perluasan jumlah peserta menjadi 48 tim. Format baru ini memang menuai kritik, termasuk dari Presiden UEFA Aleksander Čeferin yang menilai kualitas turnamen menurun. Protes datang dari 13 negara non-Eropa, termasuk Maroko yang menjadi semifinalis pada 2022. Namun, pandangan Čeferin dinilai mencerminkan kepentingan Eropa yang mulai khawatir akan dominasinya, sementara misi FIFA justru untuk mengembangkan sepak bola di seluruh dunia melalui partisipasi yang lebih luas.
Sejarah mencatat bahwa partisipasi negara-negara dari luar Eropa di Piala Dunia masih terbatas. Pada delapan edisi pertama, hanya Mesir yang mewakili Afrika pada 1934. Pada 1966, negara-negara Afrika bahkan memboikot Piala Dunia di Inggris karena FIFA tidak menjamin kualifikasi langsung bagi mereka. Kini, seiring dengan perkembangan sepak bola global, muncul cerita-cerita heroik dari berbagai penjuru dunia. Republik Demokratik Kongo berhasil menahan imbang Cristiano Ronaldo dan Portugal, sementara tim debutan Tanjung Verde meraih hasil serupa melawan juara Eropa Spanyol dan mantan juara dunia Uruguay. Kehadiran tim dari Asia Tengah, Uzbekistan, dengan pelatih Fabio Cannavaro, yang merayakan gol penyeimbang melawan Kolombia, menambah warna turnamen.
Keberadaan bintang-bintang seperti Lionel Messi, Kylian Mbappé, Harry Kane, dan Erling Haaland memang selalu menarik perhatian. Namun, dengan format baru yang menyertakan babak 32 besar, fase grup kini semakin mirip dengan putaran awal kompetisi piala, yang memberikan kesempatan bagi tim-tim kuda hitam untuk bersinar. FIFA dinilai telah melakukan banyak hal yang benar dalam mempromosikan pertumbuhan ekonomi melalui turnamen, sebuah prinsip yang juga dipahami oleh klub-klub desa dalam menghasilkan pendapatan dari acara olahraga.
Namun, kritik tetap perlu diarahkan pada aspek-aspek yang merugikan. Harga tiket yang tinggi menjadi salah satu sorotan utama, dengan FIFA dituding tidak transparan mengenai permintaan sebenarnya demi memaksimalkan pendapatan. Gagasan untuk menggelar Piala Dunia setiap dua tahun sekali juga dinilai kurang tepat, karena sebuah turnamen membutuhkan waktu persiapan dan tindak lanjut yang memadai untuk menciptakan dampak jangka panjang.
Kompresi kalender sepak bola semakin terasa dengan adanya Piala Dunia Antarklub yang "membengkak", menambah beban fisik bagi para pemain. Pertanyaan muncul mengenai berapa banyak kompetisi dan pertandingan lagi yang dapat ditanggung oleh para profesional. Lebih mengkhawatirkan lagi adalah kedekatan Presiden FIFA Gianni Infantino dengan tokoh-tokoh berpengaruh seperti Donald Trump. Penjualan Piala Dunia secara komersial yang berlebihan dikhawatirkan dapat mengikis kredibilitas sepak bola, membuat para penggemar semakin sulit membedakan FIFA dengan citra turnamen itu sendiri.
Sepak bola, sebagai olahraga yang universal dan berbasis aturan, memiliki kekuatan luar biasa untuk menyatukan perhatian global. Ia bisa menjadi alat yang ampuh bagi umat manusia untuk menegosiasikan cara hidup bersama. Namun, sepak bola juga rentan ditarik ke arah agenda-agenda yang lebih meragukan. Oleh karena itu, Eropa dan UEFA perlu tampil kuat. Pengumuman Čeferin mengenai harga tiket yang terjangkau untuk Euro 2028 dan upaya menjaga akomodasi serta transportasi tetap terjangkau menjadi langkah yang tepat. Sepak bola tidak boleh hanya dinikmati oleh kalangan elit.
Pesan utama yang ingin disampaikan adalah semangat kebersamaan yang tercermin dalam motto Piala Dunia 2006 di Jerman, "Die Welt zu Gast bei Freunden" (Dunia sebagai tamu di antara teman). Pengalaman Lahm di Afrika Selatan dan Brasil, dua Piala Dunia lainnya sebagai pemain, menegaskan bahwa inilah esensi sesungguhnya dari turnamen sepak bola global. Semangat ini yang seharusnya terus dijaga dan diwariskan untuk penyelenggaraan di masa depan.











